Kemudian Perempuan itu membalik satu halaman lagi sebelum akhirnya menyadari Kaito sedang menatapnya. Rambutnya panjang dan berwarna pucat, hampir menyatu dengan cahaya lembut yang memenuhi tempat itu. Tidak ada lampu, jendela, ataupun matahari yang terlihat, tetapi seluruh ruang tetap terang. Di kejauhan, hamparan putih seperti kabut membentang tanpa batas, sementara lantai di bawah kursi Kaito terlihat padat meski tidak menyerupai bahan apa pun yang ia kenal.
Kalau bukan karena meja, kursi, dan tumpukan dokumen di depannya, tempat itu mungkin terlihat seperti gambaran surga yang terlalu sederhana.
Perempuan itu membaca bagian atas dokumen di tangannya, lalu mengangkat pandangan. “Kaito Haru?”
“Iya.”
Ia memeriksa dokumen sekali lagi. “Dua puluh sembilan tahun?”
“Iya.”
Kaito menunggu penjelasan, tetapi perempuan itu justru melanjutkan membaca. Tatapannya turun beberapa baris sampai akhirnya berhenti pada satu bagian.
Kaito langsung tahu apa yang kemungkinan sedang dibacanya.
“Kalau boleh, bagian penyebab kematian tidak perlu dibacakan.”
Perempuan itu menatapnya sebentar. “Tersedak mi instan.”
Kaito menutup mata.
Ternyata permintaannya terlambat.
Ketika ia membukanya lagi, perempuan itu sudah menaruh dokumen di atas meja tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Tidak tertawa, tidak terlihat heran, bahkan tidak memberikan komentar. Entah kenapa, sikap datar itu justru membuat situasinya terasa lebih memalukan.
“Jadi saya benar-benar meninggal?”
“Iya.”
“Bukan pingsan?”
“Bukan.”
Kaito melihat kedua tangannya. Ia masih bisa bergerak, bernapas, dan berpikir seperti biasa. Kalau ini memang kematian, pengalamannya jauh berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Ia melihat sekeliling lagi. Tidak ada dinding yang jelas, tidak ada pintu, dan tidak ada ujung yang bisa ia temukan dari tempat duduknya. Cahaya putih di kejauhan terasa tenang, tetapi bukan kosong. Ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa seperti berada di luar dunia yang ia kenal.
“Kalau begitu, ini di mana?”
Perempuan itu menjawab tanpa banyak perubahan ekspresi. “Heaven.”
Kaito menatapnya beberapa detik.
“Heaven?”
“Iya.”
Jawaban itu justru terdengar terlalu sederhana.
Kaito kembali melihat hamparan putih di sekelilingnya. “Surga?”
“Kalau mau menyebutnya begitu.”
“Dan Anda?”
“Eira.”
Kaito menunggu beberapa saat, tetapi rupanya hanya itu penjelasannya.
“Baiklah. Eira.” Ia bersandar sedikit. “Apa yang terjadi setelah ini?”
Eira mengambil lembar baru dari tumpukan, membaca bagian atasnya, lalu menjawab dengan nada yang sama datarnya.
“Kalau semuanya sesuai, kamu bereinkarnasi.”
Kaito terdiam.
Malamnya ternyata memang belum selesai.
Kaito membutuhkan beberapa detik untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. “Bereinkarnasi?”
“Iya.”
“Ke Jepang lagi?”
“Bukan.”
Eira mengambil satu lembar lain dari tumpukan, melihat isinya sebentar, lalu meletakkannya di depan tanpa meminta Kaito membaca. “Dunia lain.”
Kaito memandangnya. Sampai beberapa menit lalu, masalah terbesar malamnya adalah mi instan yang tersangkut di tenggorokan. Sekarang ia duduk di Heaven bersama seorang perempuan bernama Eira yang berbicara tentang reinkarnasi seolah sedang menjelaskan prosedur pindah alamat.
“Sebentar. Kalau ini Heaven dan Anda yang mengurus orang mati...” Kaito berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Anda dewi?”
“Iya.”
Jawabannya begitu singkat sampai Kaito sempat menunggu tambahan yang tidak kunjung datang.
“Begitu saja?”
“Mau penjelasan apa?”
Kaito tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu masuk akal, tetapi ia juga tidak tahu apa yang seharusnya ditanyakan kepada seorang dewi. Eira sendiri tampaknya tidak merasa perlu memperkenalkan gelar, wilayah kekuasaan, atau hal lain yang mungkin biasanya menyertai sosok ilahi.
“Tidak ada, kurasa.”
“Bagus.”
Eira menarik satu dokumen dari bawah tumpukan. Kali ini ia membacanya beberapa detik lebih lama sebelum menggesernya ke samping.
“Kamu bisa melanjutkan ke kehidupan baru. Tempatnya bernama Arethos.”
“Arethos.”
“Ya.”
“Dunia seperti apa?”
Eira terdiam, lalu melihat ke sisi meja. Baru saat itu Kaito menyadari ada sebuah buku tebal tergeletak di sana. Tebalnya cukup untuk membuatnya enggan membuka halaman pertama.
Eira ikut melihat buku itu.
“Panjang kalau dijelaskan.”
Kaito kembali menatap buku tersebut. “Versi singkat?”
“Ada manusia, kota, kerajaan, magic, monster, dan beberapa ras lain.”
Kaito menunggu sebentar. “Itu sangat singkat.”
“Kamu minta versi singkat.”
Sulit membantahnya.
“Dan saya akan hidup di sana mulai dari bayi?”
“Tidak perlu.”
Jawaban itu membuat Kaito sedikit lega.
Eira mengambil lembar terakhir dari tumpukan terdekat. “Tubuh baru akan menyesuaikan kondisi jiwamu. Kurang lebih seperti sekarang.”
“Kurang lebih?”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Entah kenapa, kalimat itu tidak terdengar menenangkan ketika datang dari seseorang yang bahkan tidak mau menjelaskan detailnya.
Kaito melihat dokumen di meja, lalu Eira. “Jadi saya tinggal setuju?”
Eira mengangguk. “Kalau kamu tidak punya permintaan aneh, prosesnya cepat.”
Kaito mulai curiga bahwa bagian terakhir jauh lebih penting bagi Eira daripada yang ia akui.
Kaito memikirkan tawaran itu lebih lama daripada yang ia kira. Kesempatan menjalani hidup kedua terdengar seperti sesuatu yang seharusnya membuat orang langsung bersemangat, tetapi setelah pengalaman beberapa menit terakhir, ia justru tidak merasa ingin meminta hal yang terlalu besar.
“Kalau boleh memilih,” katanya, “saya tidak ingin kehidupan yang terlalu merepotkan.”
Eira menunggu.
Kaito mengira ia perlu menjelaskan lebih lanjut. “Tidak perlu jadi orang penting. Saya juga tidak tertarik menjadi pahlawan atau semacamnya. Kalau bisa hidup tenang, punya tempat tinggal, cukup makan, itu sudah bagus.”
“Begitu.”
“Dan saya tidak ingin mati karena makanan lagi.”
Eira melirik dokumen kematiannya yang masih berada di meja. “Itu masuk akal.”
Setidaknya kali ini Kaito merasa mendapat sedikit simpati, meski nada Eira tetap sama.
Dewi itu kemudian membuka sebuah lembar baru. Matanya bergerak menelusuri beberapa bagian sebelum ia membalik halaman. Halaman berikutnya tampaknya tidak lebih pendek. Ia membalik lagi, berhenti sebentar, lalu melihat sisa dokumen yang masih menumpuk di sampingnya.
Kaito memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya.
Bukan kebingungan.
Lebih seperti kehilangan minat.
“Banyak yang harus diurus?” tanyanya.
“Lumayan.”
Eira membalik satu halaman lagi, membaca beberapa baris, kemudian menutup seluruh berkas itu.
Kaito mengerutkan kening. “Sudah?”
“Belum.”
Eira meletakkan berkas tersebut ke samping seolah baru memutuskan tidak akan menyentuhnya lagi. Setelah itu ia mengangkat tangan ke arah Kaito.
“Daripada mengatur semuanya satu per satu, aku kasih blessing saja.”
“Blessing?”