Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #3

Episode 3 - Delvarn

Gerbang Delvarn ternyata lebih ramai daripada yang terlihat dari kejauhan. Dua jalur kereta masuk dan keluar hampir bersamaan, sementara beberapa orang membawa keranjang, karung, atau peti kecil melewati sisi jalan yang disediakan untuk pejalan kaki. Di atas gerbang terdapat lambang berbentuk perisai dengan garis menyerupai tanduk di bagian tengah. Kaito tidak tahu apa artinya, tetapi setidaknya tidak ada tanda yang menunjukkan kota sedang dalam keadaan darurat.

Ia memperlambat langkah ketika mendekati pos penjagaan.

Dua penjaga berdiri di sisi pintu masuk. Keduanya mengenakan pelindung dada dari logam yang tidak terlalu berat, dengan tombak panjang bersandar di dekat dinding. Seorang penjaga sedang memeriksa isi kereta pedagang, sedangkan yang lain mengurus pejalan kaki.

Kaito masuk ke antrean pendek.

Baru ketika tinggal dua orang di depannya, ia menyadari satu masalah yang belum dipikirkan sejak meninggalkan Heaven.

Identitas.

Orang pertama menunjukkan sebuah kartu kecil. Penjaga melihatnya sebentar sebelum mengizinkan masuk. Orang berikutnya membawa semacam lembar izin perjalanan yang diberi cap setelah beberapa pertanyaan singkat.

Kaito tidak punya keduanya.

Ia juga tidak punya dompet, paspor, uang, tas, atau satu pun benda yang bisa menjelaskan siapa dirinya.

Kaito menatap ke belakang.

Antrean sudah bertambah tiga orang.

Pergi sekarang justru akan terlihat lebih mencurigakan.

Gilirannya tiba.

Penjaga di depan, seorang pria sekitar empat puluhan dengan bekas luka kecil di dagu, melihat Kaito dari kepala sampai kaki. Pandangannya berhenti sedikit lebih lama pada pakaian yang dikenakannya.

“Identitas.”

“Saya tidak punya.”

Penjaga itu tidak langsung bereaksi. “Hilang?”

“Kurang lebih.”

Jawaban tersebut memang tidak sepenuhnya benar, tetapi menjelaskan bahwa dirinya baru saja mati, bertemu dewi, lalu dilempar ke dunia lain kemungkinan bukan cara terbaik untuk memulai kehidupan baru.

“Dari mana?”

Kaito sempat berpikir.

Eira tidak memberinya nama wilayah asal yang bisa digunakan.

“Daerah selatan.”

“Selatan mana?”

Pertanyaan itu langsung menutup pilihan tersebut.

Kaito diam sebentar sebelum memutuskan bahwa kebohongan tambahan hanya akan membuat situasi lebih sulit. “Saya sebenarnya tidak tahu nama daerahnya.”

Penjaga mengerutkan kening.

Kaito bisa memahami reaksinya.

“Bangun di jalan tanpa barang?”

“Kurang lebih seperti itu.”

Kali ini penjaga benar-benar memperhatikannya. “Dirampok?”

“Itu kemungkinan yang lebih masuk akal.”

“Bukan itu yang saya tanya.”

“Kalau begitu, tidak.”

Pria itu mengembuskan napas kecil melalui hidung, lalu menunjuk ke sisi gerbang. “Ke meja pemeriksaan.”

Kaito mengikuti arah yang ditunjukkan.

Sebuah meja kayu berdiri di bawah atap kecil, dijaga seorang perempuan dengan pakaian seragam yang lebih ringan. Di sampingnya ada kristal bening sebesar kepalan tangan yang tertanam pada dudukan logam.

Penjaga tadi ikut mendekat.

“Tidak punya identitas. Tidak tahu asal.”

Perempuan itu melihat Kaito, kemudian kristal. “Nama?”

“Kaito Haru.”

Ia mengambil pena dan mencatatnya.

“Umur?”

“Dua puluh sembilan.”

“Pekerjaan?”

Kaito berhenti sedikit lebih lama kali ini. “Belum ada.”

Perempuan tersebut mengangkat wajah.

Kaito menambahkan, “Saya baru sampai.”

“Kelihatan.”

Ia kembali menulis. “Sentuh kristalnya.”

Kaito melihat benda itu.

“Untuk apa?”

“Verifikasi dasar. Kalau punya catatan kriminal, kontrak terlarang, atau tanda kutukan tertentu, biasanya terlihat.”

“Biasanya?”

“Tidak ada alat yang sempurna.”

Jawaban itu setidaknya terdengar jujur.

Kaito menempelkan telapak tangan pada permukaan kristal.

Tidak terjadi apa-apa selama dua detik.

Kemudian kristal menyala.

Cahayanya awalnya putih tipis, lalu menjadi jauh lebih terang sampai perempuan di meja refleks mundur sedikit. Penjaga di belakang Kaito juga mengangkat kepala.

Kaito sendiri hanya menunggu.

Cahaya itu padam mendadak.

Kristal kembali bening.

Perempuan itu memeriksa bagian logam di bawahnya, mengetuk sisi dudukan sekali, lalu mencoba memutar salah satu cincin kecil yang terpasang.

“Rusak?” tanya Kaito.

“Tidak seharusnya.”

Penjaga tadi mendekat. “Hasilnya?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada bagaimana?”

“Tidak ada catatan yang terbaca.”

Pria itu melihat Kaito lagi.

Kaito mulai merasa dirinya mungkin telah melakukan sesuatu tanpa sadar.

“Buruk?”

Perempuan itu menggeleng. “Kalau ada masalah serius, warnanya merah. Kalau kutukan aktif, ungu. Kalau catatan kriminal, biasanya muncul tanda di bawah.”

Ia mengetuk dudukan kristal.

“Ini cuma kosong.”

Penjaga terlihat tidak puas, tetapi tidak menemukan alasan untuk menahannya.

“Bisa jadi alatnya gagal membaca karena dia belum terdaftar,” kata perempuan itu.

“Itu mungkin?”

“Kalau dari wilayah terpencil.”

Kaito tidak menyela.

Wilayah terpencil terdengar jauh lebih mudah diterima daripada dunia lain.

Perempuan tersebut menarik satu lembar kecil dari bawah meja. “Masuk boleh. Tapi kalau mau tinggal lebih dari tiga hari, sebaiknya daftar identitas sementara di guild atau kantor sipil.”

“Guild?”

“Adventurer Guild paling dekat dari sini. Dua blok setelah alun-alun, bangunan dengan lambang pedang dan bulu.”

Kaito mengangguk. “Terima kasih.”

Penjaga menggeser tubuh dan memberi jalan. “Jangan bikin masalah.”

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Arethos, Kaito benar-benar melewati gerbang sebuah kota.

Delvarn langsung terasa lebih hidup dari yang ia bayangkan.

Jalan utama dipenuhi toko dengan papan kayu yang menggantung di depan bangunan. Ada pandai besi, penjual kain, kedai makan, kios buah, dan beberapa pedagang yang menjajakan barang langsung dari gerobak. Bau roti, daging panggang, debu jalan, dan asap kayu bercampur di udara.

Kaito berhenti beberapa langkah setelah gerbang.

Perutnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Aroma makanan dari salah satu kedai terlalu jelas untuk diabaikan.

Ia merogoh saku.

Kosong.

Kaito melihat kedai itu lagi.

Kemudian jalan menuju alun-alun.

Masalah pertamanya di dunia baru ternyata bukan monster.

Masalahnya adalah makan tanpa uang.

Itu jauh lebih biasa daripada yang ia harapkan.

Kaito berdiri cukup lama di dekat persimpangan sampai aroma daging panggang dari kedai akhirnya memaksanya berpaling. Menatap makanan tanpa bisa membelinya hanya membuat lapar terasa lebih jelas. Ia memilih mengikuti petunjuk perempuan di gerbang dan berjalan menuju alun-alun, berharap guild setidaknya menawarkan solusi yang tidak membutuhkan uang sebagai syarat pertama.

Delvarn tidak sebesar kota tempat Kaito tinggal sebelumnya, tetapi jalan utamanya cukup ramai untuk membuatnya beberapa kali harus bergeser menghindari kereta. Sebagian besar bangunan memiliki dua lantai dengan bagian bawah digunakan sebagai toko, sementara lantai atas tampaknya menjadi tempat tinggal pemiliknya. Tidak ada kabel listrik, kendaraan bermotor, atau papan iklan besar. Sebagai gantinya, lampu berbentuk kristal tergantung di beberapa depan toko meski matahari masih cukup tinggi.

Kaito sempat berhenti ketika melihat salah satunya menyala tanpa api.

Kristal kecil di dalam wadah logam memancarkan cahaya kekuningan yang stabil. Seorang pemilik toko menyentuh bagian bawahnya dan cahaya itu langsung padam sebelum dinyalakan kembali.

Sihir, mungkin.

Kaito memperhatikannya beberapa detik, lalu melanjutkan jalan. Ia belum tahu seberapa biasa benda semacam itu di Arethos, tetapi orang-orang di sekitar sama sekali tidak memberi perhatian khusus. Kalau semua toko memakai alat serupa, kemungkinan besar itu hanya bagian normal dari kehidupan sehari-hari.

Alun-alun berada di tengah kota dan cukup mudah dikenali. Sebuah air mancur batu berdiri di pusatnya, dikelilingi kios buah, penjual kain, serta beberapa gerobak makanan. Kaito langsung mencium roti yang baru keluar dari oven.

Ia berusaha tidak melihat harganya.

Bangunan Adventurer Guild berdiri di sisi utara alun-alun. Lambang pedang dan bulu tergantung di atas pintu seperti yang dijelaskan penjaga gerbang. Bangunannya lebih besar daripada toko-toko di sekitarnya, terdiri dari dua lantai dengan pintu kayu lebar yang terbuka hampir sepanjang waktu.

Beberapa orang keluar ketika Kaito mendekat. Sebagian membawa pedang atau busur, sementara seorang perempuan dengan tongkat panjang berjalan bersama dua pria berpelindung kulit. Pakaian mereka cukup untuk membuat Kaito sadar bahwa dirinya benar-benar terlihat salah tempat.

Ia masuk tetap dengan kaus abu-abu dan celana rumah.

Bagian dalam guild mengingatkannya sedikit pada gabungan kantor pelayanan publik dan kedai makan. Ada beberapa meja di sisi kanan, papan besar penuh lembaran kertas di dinding, serta konter panjang di bagian depan. Di sisi lain ruangan terdapat meja dan kursi tempat beberapa petualang sedang makan atau berbicara.

Kaito langsung menyadari satu hal.

Mereka semua punya perlengkapan.

Bahkan orang yang terlihat paling santai setidaknya membawa pisau atau tas.

Kaito tidak membawa apa pun.

Seorang perempuan di belakang konter memanggilnya setelah pengunjung di depan selesai. Rambut cokelatnya diikat sederhana dan sebuah papan kecil dengan nama Mira terpasang pada pakaian kerjanya.

“Ada yang bisa dibantu?”

“Saya diminta penjaga gerbang datang ke sini untuk membuat identitas sementara.”

Mira mengangguk tanpa terlihat heran. “Pendatang baru?”

“Iya.”

“Punya dokumen dari wilayah asal?”

“Tidak.”

“Dicuri?”

Kaito mulai merasa pertanyaan itu akan sering muncul.

“Tidak.”

Mira menunggu penjelasan lebih lanjut.

Kaito akhirnya menambahkan, “Saya tidak membawa apa-apa saat sampai di daerah ini.”

Tatapan Mira turun sebentar ke pakaian Kaito, lalu kembali ke wajahnya. “Baik. Identitas sementara bisa dibuat melalui registrasi guild. Tidak harus menjadi petualang aktif, tetapi data dasar tetap perlu dicatat.”

“Berapa biayanya?”

“Dua belas copper.”

Kaito diam.

Mira memahami ekspresinya lebih cepat daripada yang ia harapkan. “Tidak punya uang?”

“Belum.”

“Belum?”

“Saya benar-benar baru sampai.”

Mira menyandarkan pena di atas meja. Ia tidak terlihat curiga, hanya mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan dengan seseorang yang muncul tanpa dokumen, barang, atau satu koin pun.

“Ada cara lain,” katanya akhirnya. “Guild bisa memotong biaya registrasi dari pembayaran quest pertama. Tapi itu berarti kamu harus terdaftar sebagai adventurer.”

Kaito melihat papan penuh lembaran di belakang ruangan. “Quest seperti apa?”

“Macam-macam. Pengiriman, pengumpulan tanaman, pekerjaan gudang, pengawalan, sampai pembasmian monster. Pemula tidak akan langsung diberi pekerjaan berbahaya.”

“Kalau hanya perlu satu pekerjaan, saya tidak keberatan.”

Mira mengambil satu formulir. “Kalau begitu kita mulai dari data dasar. Nama?”

“Kaito Haru.”

“Usia?”

“Dua puluh sembilan.”

“Asal?”

Pertanyaan itu akhirnya datang juga.

Kaito berpikir beberapa detik. Ia tidak ingin berbohong terlalu jauh karena akan sulit mempertahankan cerita yang tidak ia ketahui detailnya.

“Tempat yang cukup jauh.”

Mira berhenti menulis.

“Itu bukan nama wilayah.”

“Saya tahu.”

“Tidak bisa lebih spesifik?”

“Sulit dijelaskan.”

Mira memandangnya beberapa detik. Kaito tidak menghindari tatapan itu, tetapi juga tidak menambahkan penjelasan.

Akhirnya ia menulis sesuatu pada kolom tersebut.

“Baik. Untuk sementara dicatat sebagai asal tidak terverifikasi.”

“Bisa begitu?”

“Lebih mudah daripada berdebat.”

Kaito merasa mulai menyukai cara kerja guild ini.

Mira kemudian mengambil sebuah pelat logam kecil dari laci dan meletakkannya di atas meja. Ukurannya tidak lebih besar dari kartu identitas biasa, tetapi permukaannya kosong.

“Sekarang pemeriksaan aptitude dasar.”

Kaito melihat pelat itu. “Seperti yang di gerbang?”

“Lebih lengkap sedikit. Letakkan tangan di sini.”

Ia menunjuk sebuah kristal kecil yang tertanam di permukaan meja.

Kaito menempelkan telapak tangannya.

Kristal itu menyala.

Mira menunggu.

Cahayanya semakin terang.

Ia mulai mengerutkan kening ketika beberapa detik berlalu tanpa ada tulisan muncul pada pelat.

Kemudian cahaya padam.

Pelat logam mengeluarkan satu bunyi kecil.

Beberapa huruf muncul di permukaannya.

Mira mengambil kartu itu dan membaca hasilnya.

Ekspresinya berubah sebentar, bukan karena terkejut, melainkan seperti seseorang yang mendapat hasil jauh lebih biasa daripada yang diperkirakan setelah alat bereaksi aneh.

“Rank F.”

Kaito mengangguk. Ia tidak tahu apakah itu bagus atau buruk.

Mira membalik kartu untuk memeriksa bagian lain. “Aptitude magic juga tidak terbaca.”

“Artinya?”

“Belum tentu apa-apa. Bisa saja kamu memang tidak punya aptitude yang terdeteksi.”

“Begitu.”

Kaito tidak merasa kecewa. Ia bahkan belum tahu apa gunanya aptitude magic dalam kehidupan sehari-hari.

Mira menyerahkan kartu tersebut. “Rank F adalah tingkat awal. Kamu hanya bisa mengambil quest dasar sampai mendapat cukup catatan kerja.”

Kaito menerima kartu itu dan membaca namanya sendiri di permukaan logam.

KAITO HARU - RANK F

Setidaknya sekarang ia punya identitas.

“Quest mana yang paling cepat dibayar?”

Lihat selengkapnya