Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #4

Episode 4 - The First Magic

Kaito masih berdiri di tepi aliran air ketika dedaunan yang tadi beterbangan mulai jatuh kembali ke tanah. Tiga goblin tergeletak di antara semak yang terbuka lebar, sementara beberapa ranting patah berserakan di sekitar mereka.

Ia melihat tangannya sekali lagi.

Tidak ada lingkaran sihir. Tidak ada cahaya. Bahkan tidak ada sensasi khusus selain dorongan singkat yang tadi muncul begitu saja.

Kaito mencoba mengingat apa yang sebenarnya ia lakukan.

Ia hanya ingin ketiga goblin itu menjauh.

Lalu udara bergerak.

“Jadi... cukup dipikirkan?”

Kalimat itu terdengar terlalu sederhana untuk sesuatu yang disebut sihir.

Kaito mengangkat tangan ke arah batu kecil di dekat aliran air. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain membayangkan batu itu bergerak.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi, kali ini lebih jelas. Bukan sekadar berharap batu tersebut pindah, melainkan benar-benar membayangkan dorongan kecil dari arah tangannya.

Batu itu bergeser beberapa sentimeter.

Kaito diam.

Ia mencoba pada daun kering di sebelahnya.

Daun itu meluncur di tanah.

“Begitu.”

Ada sedikit rasa puas yang sulit dihindari. Bukan karena hasilnya luar biasa, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak tiba di Arethos, ia berhasil memahami satu hal tanpa perlu bertanya kepada siapa pun.

Kaito melihat pohon di seberang aliran air.

Ia sempat ingin mencoba dengan sasaran lebih besar, lalu mengurungkan niatnya.

Tidak ada alasan merusak pohon hanya karena penasaran.

Ia kembali memeriksa tiga goblin tadi. Salah satunya masih bernapas, meskipun tidak bergerak. Dua lainnya sulit dipastikan dari tempatnya berdiri.

Kaito tidak mendekat.

Quest-nya bukan pembasmian goblin.

Herb Luma masih kurang sembilan tangkai.

Ia mengambil kantong kain dan berjalan menjauh dari lokasi itu.

Beberapa langkah kemudian, sebuah suara terdengar di kepalanya.

“Kaito.”

Ia berhenti.

Suara itu bukan berasal dari belakang atau dari pepohonan.

Kaito melihat sekeliling tetap kosong.

“Kaito.”

Kali ini ia mengenal suaranya.

“Eira?”

“Jangan bicara keras-keras.”

Kaito menutup mulut.

Beberapa detik kemudian ia mencoba menjawab dalam pikirannya.

Eira?

Tidak ada respons.

Kaito menunggu.

Kalau memang bisa dengar, jawab.

Hening.

Ia mulai berpikir tadi hanya imajinasinya ketika suara Eira akhirnya muncul lagi.

“Aku dengar.”

Nada suaranya terdengar jauh lebih mengantuk daripada ketika mereka berada di Heaven.

Kita bisa bicara seperti ini?

“Bisa.”

Kenapa tidak bilang dari awal?

Diam cukup lama.

“Lupa.”

Kaito menerima jawaban itu lebih cepat daripada yang seharusnya.

Setelah mengenal Eira sebentar, alasannya memang terdengar masuk akal.

Ia kembali berjalan sambil mencari tanaman di sekitar tepian air.

Saya barusan memakai sihir.

“Hm.”

Itu saja?

“Kamu dapat blessing.”

Kaito menemukan dua tangkai Herb Luma di bawah akar pohon. Ia jongkok dan memotongnya satu per satu.

Saya kira blessing itu lebih seperti kesehatan bagus atau keberuntungan.

“Itu juga ada.”

Tangan Kaito berhenti sebentar.

Ada?

Tidak ada jawaban.

Eira.

Masih tidak ada.

Kaito berdiri dan melihat kantongnya.

Tiga belas tangkai.

Ia memutuskan pertanyaan mengenai isi blessing bisa menunggu. Kalau Eira memang kembali tidur di tengah percakapan, memaksanya bangun mungkin hanya membuang waktu.

Beberapa menit kemudian ia menemukan rumpun Herb Luma yang cukup besar di bawah batu menjorok. Kaito menghitung sebelum memotong agar tidak mengambil lebih banyak dari yang dibutuhkan.

Empat belas. Lima belas, Enam belas.

Ia berhenti pada tangkai kedua puluh.

Quest telah ia selesaikan.

Kaito baru hendak kembali ke jalan ketika melihat dua tanaman lain tumbuh sedikit lebih jauh.

Mira tadi mengatakan guild membeli kelebihannya selama kondisinya bagus.

Kaito memandang kantongnya, lalu dua tanaman tersebut.

Tambahan uang berarti sarapan besok lebih aman.

Ia mengambil keduanya.

Dalam perjalanan pulang, Kaito mencoba menggerakkan beberapa daun kecil dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Setelah dua atau tiga percobaan, ia mulai memahami bahwa pikirannya harus memiliki tujuan yang cukup jelas. Kalau hanya berpikir bergerak, hasilnya tidak selalu muncul. Kalau ia membayangkan arah dan jarak, daun tersebut mengikuti.

Kaito teringat perempuan bertongkat yang dilihatnya di depan guild kemarin. Kalau semua orang bisa menggunakan sihir seperti ini, tongkat mungkin hanya alat bantu.

Kesimpulan itu masih terlalu awal.

Ia berhenti mencoba sebelum sampai jalan utama.

Tidak lama kemudian suara kereta terdengar dari arah Delvarn. Kaito bergeser ke sisi jalan dan membiarkannya lewat.

Pengemudinya sempat melihat kantong tanaman di tangannya, lalu kartu guild yang tergantung dari saku.

“Cari Luma?”

Kaito mengangkat kantong sedikit. “Baru selesai.”

“Bagus kalau masih ada. Beberapa hari lalu banyak yang dipetik sampai akarnya.”

“Mira bilang jangan cabut akar.”

“Petualang baru?”

“Kelihatan?”

Kereta terus bergerak.

Kaito kembali berjalan.

Gerbang Delvarn sudah terlihat ketika ia akhirnya menyadari sesuatu.

Sejak meninggalkan aliran air, ia tidak merasa lelah sedikit pun.

Tiga kilometer pergi, mencari tanaman, menghadapi goblin, lalu berjalan kembali seharusnya setidaknya membuat kakinya terasa berat.

Tidak terjadi, Kaito tidak berhenti untuk memikirkannya.

Satu keanehan dalam satu waktu sudah cukup.

Saat melewati gerbang, penjaga hanya melihat kartu guild dan kantong tanamannya sebelum memberi jalan.

Kaito langsung menuju guild.

Mira sedang berbicara dengan seorang petualang lain ketika ia masuk, jadi Kaito menunggu di dekat konter sambil memperhatikan papan quest.

Salah satu lembar baru dipasang di bagian Rank E.

Pembasmian Goblin - Jalur Selatan.

Kaito membaca keterangannya.

Laporan terakhir menyebut kelompok berjumlah tiga sampai enam ekor.

Ia melihat kantong Herb Luma di tangannya.

Kemudian lembar quest itu.

Tiga goblin tadi mungkin termasuk di dalamnya.

Kaito memutuskan tidak mengatakan apa-apa sampai Mira selesai.

Untuk saat ini, ia datang untuk menyerahkan tanaman.

Masalah goblin bisa dibahas kalau memang diperlukan.

Mira selesai melayani petualang di depannya beberapa menit kemudian. Begitu konter kosong, Kaito maju dan meletakkan kantong kain di atas meja.

“Herb Luma?”

“Saya dapat dua puluh dua. Dua sisanya kebetulan tumbuh dekat yang terakhir.”

Mira membuka kantong dan mulai memeriksa tanaman satu per satu. Ia melihat bagian batang yang dipotong, kondisi daun, lalu memisahkannya ke dalam dua kelompok kecil.

“Potongannya bersih. Tidak ada akar yang ikut tercabut.” Ia menghitung sekali lagi. “Dua puluh dua, semuanya bisa diterima.”

“Berarti kelebihannya juga dibayar?”

“Dua copper tambahan.”

Kaito langsung merasa perjalanan pagi itu layak dilakukan.

Mira menulis hasil quest pada lembar catatan sebelum mengambil kartu guild miliknya. “Tidak tersesat?”

“Tidak. Petunjuk tempatnya cukup jelas setelah menemukan aliran air.”

“Monster?”

Kaito melirik papan quest di belakangnya.

“Ketemu tiga goblin.”

Tangan Mira yang sedang menulis berhenti. “Tiga?”

“Muncul dari seberang aliran air.”

“Dan kau masih menyelesaikan quest?”

“Mereka datang setelah saya dapat sebelas tangkai.”

Mira menatapnya seolah bagian itu bukan jawaban yang sedang ia cari. “Maksudku, bagaimana kau bisa lolos?”

Kaito mulai memahami pertanyaannya. “Saya membuat mereka menjauh.”

“Dengan apa?”

“Sepertinya sihir.”

Mira meletakkan pena.

“Sepertinya?”

Kaito mengangkat satu tangan sedikit. “Saya cuma berpikir supaya mereka berhenti mendekat. Setelah itu udara bergerak dan mereka terpental.”

Beberapa detik berlalu.

“Kaito, kau pernah belajar sihir?”

“Belum.”

“Pernah memakai sebelumnya?”

“Kalau menggeser batu kecil setelah kejadian itu dihitung, pernah satu kali.”

Mira memijat pangkal hidung sebentar. “Mulai dari awal.”

Kaito menceritakan bagian yang penting saja. Tiga goblin muncul ketika ia sedang mengumpulkan tanaman. Salah satunya berlari membawa senjata. Kaito mengangkat tangan dan berharap mereka menjauh. Udara bergerak, lalu ketiganya terlempar ke belakang.

Ia tidak menyebut Eira.

Mira mendengarkan sampai selesai tanpa memotong.

“Tidak ada mantra?”

“Tidak.”

“Tongkat?”

Kaito menunjukkan kedua tangannya yang kosong. “Saya bahkan tidak punya tas.”

“Lingkaran sihir?”

“Kalau ada, saya tidak melihatnya.”

Mira terdiam sebentar.

“Yang kau jelaskan mirip Gust.”

Lihat selengkapnya