Kaito meninggalkan perpustakaan menjelang sore dengan satu kesimpulan sederhana: membaca teori sihir jauh lebih mudah daripada mengetahui seberapa banyak mana yang sebenarnya sedang ia gunakan. Ia baru turun setengah tangga ketika Rina menyusul dari belakang dan memanggil namanya.
Kaito berhenti lalu menoleh. “Bukunya sudah selesai?”
“Belum. Aku cuma mau memastikan kau tidak pergi ke gang belakang lalu mencoba sihir sendirian,” ujar Rina sambil melewatinya dan memberi isyarat agar ikut.
Kaito terdiam sejenak sebelum melangkah turun. “Saya memang sempat kepikiran cari tempat kosong.”
“Nah. Guild punya lapangan latihan. Kalau kau salah sedikit, paling tanahnya yang rusak.”
“Kalimat terakhirnya tidak terlalu meyakinkan.”
“Lebih baik tanah daripada penginapan,” balas Rina santai, dan Kaito tidak punya alasan untuk membantahnya.
Lapangan latihan itu berada di belakang kompleks guild, terpisah dari gudang Boran oleh tembok batu rendah. Area tanah lapang tersebut dilengkapi beberapa boneka jerami, tiang kayu, sasaran panah, serta bekas ledakan kecil di beberapa titik. Tiga petualang sedang berlatih pedang di sisi jauh, sementara bagian khusus sihir tampak kosong.
Rina menyandarkan tongkatnya di pagar kayu. “Kita mulai dari yang tadi. Light.”
Kaito mengangkat telapak tangan. Bola cahaya kecil langsung muncul di atasnya.
“Jangan sebesar itu,” tegur Rina.
Kaito meneliti bola cahaya yang ukurannya bahkan tak lebih besar dari kelereng. “Ini sudah kecil.”
“Untukmu mungkin. Coba sebesar ujung jari.”
Kaito menahan alirannya sampai pancaran itu menyusut menjadi titik cahaya. Rina mengangguk menyetujui, membiarkan Kaito mempertahankan titik tersebut selama puluhan detik tanpa perubahan bentuk.
“Capek?” tanya Rina.
“Tidak.”
“Mana terasa berkurang?”
Kaito menelusuri sensasi di dalam dadanya. “Sepertinya tidak.”
“Matikan,” instruksi Rina setelah menatap cahaya itu sebentar. “Sekarang Gust. Arahkan ke boneka paling dekat, pelan saja.”
Kaito membayangkan angin mendorong boneka jerami sepuluh meter di depan mereka. Ia menarik porsi paling minim dari aliran mana yang dirasakannya. Udara berdesir, lalu boneka jerami itu bergoyang sekali. Kaito tampak puas karena sasaran tersebut tidak sampai terlempar.
“Nah, begitu,” ucap Kaito.
Rina justru mengamati boneka itu lebih serius. “Sekali lagi.”
Hasil pengulangan kedua tetap sama. Rina menyimpulkan bahwa Kaito sebenarnya memiliki kontrol, hanya saja tidak tahu tolok ukur mana yang normal bagi penyihir pada umumnya.
“Saya juga baru tahu energi mana itu ada sekitar setengah jam lalu,” gumam Kaito.
Rina mendengus pelan. “Itu bagian yang terus membuatku kesal, karena kau mengatakannya seperti baru belajar menyalakan kompor.” Ia tertawa pendek lalu mengambil batu seukuran kepalan tangan dan meletakkannya di tanah. “Baik, kita lanjut. Sekarang Spark. Cukup percikan, jangan tambah mana setelah terbentuk.”
Kaito mengarahkan jarinya dan melepaskan dua percikan kecil berturut-turut dengan intensitas yang stabil. Rina kemudian menyerahkan sepotong kayu untuk menguji Warmth. Kaito menggenggam kayu itu, membayangkan suhu hangat yang wajar untuk dipegang. Beberapa detik kemudian, permukaannya hangat tanpa membakar serat kayunya sedikit pun.
“Normal,” aku Rina setelah menyentuh permukaan kayu itu.
Kaito menghela napas lega. “Akhirnya ada yang normal.”
“Jangan senang dulu,” potong Rina sambil menunjuk bak batu berisi air di dekat dinding. “Water Drop. Segenggam cukup.”
Kaito menengadahkan tangan ke atas bak. Namun, alih-alih setetes air, aliran jernih setebal ibu jari justru keluar dari udara dan mengucur selama dua detik.
“Masih terlalu banyak?” tanya Kaito saat melihat gelombang di bak.
“Sedikit.”