Perjalanan pulang tidak langsung berubah menjadi tenang hanya karena Lumer sudah semakin jauh di belakang.
Garrick tetap berjalan di sisi depan kereta dengan tangan dekat gagang pedangnya. Lysa beberapa kali menoleh ke arah pepohonan, sementara Dolf mendorong kedua kudanya menjaga kecepatan tanpa membuat mereka kelelahan.
Kaito berada di belakang kereta sambil memperhatikan jalan yang baru mereka lewati.
Sepuluh menit pertama berlalu tanpa suara aneh.
Setelah itu, Lysa mulai mengendurkan tali busurnya.
“Sepertinya tidak mengikuti.”
Garrick menoleh sebentar. “Jangan bilang begitu terlalu cepat.”
“Aku cuma bilang sepertinya.”
“Itu kata yang biasanya keluar tepat sebelum sesuatu muncul.”
Lysa tertawa kecil. “Aku mulai mengerti kenapa Mira membiarkan dia ikut quest ini.”
Kaito tidak tahu apa hubungannya, jadi ia membiarkan percakapan berlalu.
Dolf yang duduk di depan mengangkat suara. “Kalau kalian masih sempat bercanda, berarti aku boleh sedikit tenang?”
Kereta terus bergerak.
Ketegangan perlahan turun setelah mereka melewati ladang pertama dan kembali ke bagian jalan yang lebih terbuka. Hutan masih terlihat di kejauhan, tetapi tidak lagi berdiri dekat dengan sisi jalan.
Lysa akhirnya menyampirkan busurnya di bahu.
“Jadi, Kaito.”
Kaito sudah menduga pertanyaan itu akan datang sejak mereka meninggalkan Lumer.
“Apa?”
“Sekarang quest-nya hampir selesai.”
“Tadi Garrick bilang boleh heran setelah quest selesai.”
Lysa berjalan sedikit lebih dekat dengan Kaito.
“Gust yang kau pakai tadi. Berapa banyak mana?”
Kaito terdiam.
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana.
Masalahnya ia sendiri tidak punya angka.
Dan setelah percakapannya dengan Eira, ia juga tidak merasa perlu menjelaskan bahwa dirinya belum melihat perubahan apa pun pada cadangan mana meski sudah beberapa kali menggunakan sihir.
“Tidak banyak.”
Lysa menatapnya.
Kaito menunggu.
Dua detik.
Tiga detik.
Cukup lama.
Ukuran Eira langsung terlintas di kepalanya.
Kemungkinan aneh.
Lysa menyipitkan mata. “Tidak banyak menurut siapa?”
“Menurut saya.”
“Nah, itu masalahnya.”
Garrick tertawa dari depan.
Lysa berhenti berjalan sesaat.
Garrick juga menoleh.
Kaito sadar terlambat.
Ia seharusnya tidak mengatakan bagian itu.
Lysa langsung mendekat lagi. “Mengetes apa?”
“Tidak penting.”
“Kau baru saja membuatnya penting.”
“Saya salah pilih kalimat.”
“Sekarang aku lebih penasaran.”
Kaito memilih menatap jalan.
Di dalam kepalanya terdengar suara yang sangat pelan.
“Nah.”
Kaito hampir menghela napas.
Eira.
“Aku dengar.”
Sejak kapan?
“Cukup lama.”
Kenapa baru bicara sekarang?
“Aku mau lihat kamu berhasil diam atau tidak.”
Kaito tidak menjawab.
Eira terdengar seperti sedang menahan tawa.
“Belum berhasil.”
Terima kasih atas penilaiannya.
“Sama-sama.”
Lalu hening.
Kaito menunggu sebentar.
Itu saja?
“Iya.”
Tidak ada nasihat?
“Sudah kubilang jangan gampang cerita.”
Sambungan menghilang.
Kaito memutuskan Eira sedang menikmati situasinya terlalu banyak.
“Kaito?”
Lysa masih menunggu.
Kaito kembali memandangnya. “Latihan di guild. Tidak ada yang serius.”
“Kenapa pakai batu?”
“Untuk melihat reaksi.”
“Reaksi apa?”
Lysa berhenti.
Kaito terus berjalan beberapa langkah sebelum menyadari Lysa belum ikut.
Ia menoleh.
Lysa menunjuknya.
“Kau belajar menghindari pertanyaan.”
“Saya sedang latihan.”
Garrick tertawa cukup keras kali ini.
“Bagus. Akhirnya ada perkembangan.”
“Kenapa kalian berdua senang sekali?”
“Karena kalau kau terus menjelaskan kemampuanmu pada setiap orang yang bertanya, suatu hari kau bakal bertemu orang yang tidak sebaik kami.”
Nada Garrick kali ini lebih serius.
Kaito mendengarkan.
Garrick melanjutkan, “Petualang memang sering bekerja sama. Itu bukan berarti semua orang di guild temanmu. Ada pemburu, pedagang informasi, tentara bayaran, orang kerajaan, orang bangsawan. Informasi bisa punya harga.”
Kaito mengangguk pelan. “Mira juga bilang jangan membuat rumor.”
“Itu alasan lain. Apalagi kau baru Rank E.”
Lysa menyusul kembali.
“Kalau seorang Rank E melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, orang tidak akan berhenti karena kartu guild bilang E. Mereka justru akan mencari tahu kenapa.”
“Saya mulai mengerti.”
“Bagus,” kata Garrick. “Jadi kalau orang tanya kemampuanmu?”
Kaito berpikir sebentar.
“Saya bisa sihir angin dasar.”
“Kalau mereka tanya seberapa kuat?”
“Cukup untuk quest yang saya ambil.”
Lysa mengangguk puas. “Jauh lebih baik.”
“Kalau mereka melihat sendiri?”
Garrick tersenyum. “Kalau sudah lihat sendiri, itu masalah lain. Tapi tetap tidak perlu kau bantu dengan memberi penjelasan lengkap.”
Kaito menyimpan prinsip itu.
Ia tidak menyukai kebohongan yang tidak perlu, tetapi menyimpan informasi ternyata bukan hal yang sama dengan berbohong.
Itu cukup mudah dipahami setelah seseorang menjelaskannya dengan benar.
Dolf mengangkat tangan dari kursinya.
“Boleh aku ikut pelajaran rahasia ini?”
“Tidak,” jawab Garrick.
“Padahal aku yang punya kereta.”
“Justru itu. Fokus ke jalan.”
Dolf menggerutu pelan dan kembali mengurus kudanya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di lokasi tempat dire wolf menyerang sebelumnya.
Bangkai empat monster masih berada di sisi jalan.
Lysa langsung memeriksa sekitar.
“Yang kabur tidak kembali.”
Garrick turun ke bekas jejak di tanah. “Atau kembali lalu pergi lagi.”
Kaito melihat tubuh dire wolf yang tadi dihentikannya dengan Gust.
Sekarang setelah keadaan tenang, ukurannya terlihat lebih jelas.
Makhluk itu jauh lebih besar daripada serigala yang pernah ia lihat di televisi. Taringnya panjang, cakarnya tebal, dan otot pada kaki depannya cukup besar untuk menjatuhkan manusia dalam satu lompatan.
Garrick memotong telinga kanan dari setiap bangkai.
Kaito memandangnya. “Untuk bukti?”
“Guild biasanya menerima bagian tertentu untuk konfirmasi pembasmian. Quest kita bukan quest berburu, tapi laporan serangan tetap perlu bukti.”
“Apakah dibayar?”
Lysa langsung menoleh ke Kaito.
Garrick tertawa.
“Mungkin ada bonus kecil.”
“Bagus.”
“Kau benar-benar konsisten,” kata Lysa.
“Kamar saya tidak gratis.”
Garrick memasukkan bukti monster ke dalam kantong terpisah lalu berdiri.
“Kita jangan lama di sini.”
Tidak ada yang membantah.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Menjelang sore, tembok Delvarn akhirnya terlihat.
Kaito tidak menyadari betapa terbiasanya ia dengan kota itu sampai melihat gerbang dari kejauhan menimbulkan rasa lega yang cukup jelas.
Beberapa hari lalu ia masuk melalui gerbang lain tanpa uang, tanpa identitas, dan tanpa tahu akan tidur di mana.
Sekarang ia kembali membawa kartu Rank E, pakaian baru, uang di kantong, dan dua orang petualang yang sudah mengenal namanya.
Perubahannya cukup cepat.
Saat mereka mendekati gerbang, penjaga menghentikan kereta untuk pemeriksaan singkat.
“Dari Lumer?”
Garrick menunjukkan kartu guild. “Iya. Ada laporan tambahan untuk guild. Aktivitas monster meningkat.”
Penjaga melihat noda darah pada perlengkapannya.
“Diserang?”
“Lima dire wolf di perjalanan pergi. Empat dibunuh, satu kabur.”
Wajah penjaga menjadi lebih serius.
“Dekat kota?”
“Sekitar dua jam dari sini.”
“Aku catat.”
Setelah pemeriksaan selesai, kereta masuk ke Delvarn.
Dolf langsung mengembuskan napas panjang.
“Akhirnya.”
Lysa menepuk sisi kereta. “Rodanya masih lengkap.”
Kaito melihat roda belakang.
Kaito memutuskan tidak bertanya kenapa dirinya yang paling dilarang.
Mereka berpisah dengan Dolf di dekat gudang pedagang. Garrick, Lysa, dan Kaito kemudian berjalan langsung menuju guild untuk menyerahkan laporan.
Aula utama sedang ramai ketika mereka masuk.
Mira melihat ketiganya dari balik konter.
“Kalian kembali lebih cepat dari perkiraanku.”
“Dan bawa laporan yang tidak menyenangkan,” jawab Garrick.
Mira langsung berhenti menulis.
“Apa yang terjadi?”
Garrick meletakkan kantong bukti dire wolf di atas meja.
“Lima ekor menyerang kereta di jalan timur. Empat mati. Di Lumer sendiri ada serangan tadi malam, pagar rusak, ternak hilang, dua penjaga terluka.”
Mira membuka kantong itu sebentar, kemudian menutupnya lagi.
“Lima sekaligus?”
“Dan kami menemukan jejak lain di sisi utara desa.”
“Dire wolf juga?”
Garrick menggeleng. “Lebih besar.”
Suasana Mira berubah.
Ia mengambil lembar laporan kosong.
“Mulai dari awal.”
Garrick mulai menjelaskan perjalanan mereka.
Kaito berdiri di samping Lysa dan membiarkan Garrick berbicara. Sebagai pemimpin kelompok, Garrick memang paling tepat menyampaikan laporan.
Namun ketika sampai pada pertempuran di jalan, Mira menoleh kepada Kaito.
“Dan kau?”
Kaito teringat pelajaran sepanjang perjalanan pulang.
“Saya menjaga sisi belakang dan menggunakan sihir angin ketika mereka masuk terlalu dekat.”
Mira menunggu sesaat.
Kaito tidak menambahkan apa pun.
Lysa menutup mulutnya, jelas sedang menahan senyum.
Mira memandang Kaito, lalu Lysa.
“Ada sesuatu yang tidak kalian ceritakan?”
“Tidak ada yang penting untuk laporannya,” jawab Garrick tenang.
Mira kembali pada catatan.
“Baik.”
Kaito sedikit terkejut.
Ternyata memang bisa sesederhana itu.
Tidak semua jeda harus diisi penjelasan.
Dan untuk pertama kalinya, Kaito merasa dirinya mulai memahami satu kemampuan yang tidak diberikan blessing.
Cara menutup mulut pada waktu yang tepat.
Garrick menyampaikan laporan tanpa melebih-lebihkan apa pun. Ia menjelaskan lokasi serangan, jumlah dire wolf, kondisi Desa Lumer, kerusakan pagar, serta jejak besar yang mereka temukan di sisi utara desa.
Mira menulis cepat. Sesekali ia berhenti untuk memastikan arah atau jarak, lalu kembali mencatat.
“Suara dari hutan itu kalian dengar bertiga?”
“Empat kalau Oren dihitung,” jawab Garrick. “Kami tidak melihat sumbernya.”
“Dan tidak masuk hutan?”
“Tidak ada alasan. Kami cuma diminta memeriksa sekitar desa.”
“Bagus.”
Mira memberi tanda pada beberapa bagian laporan.
Lysa bersandar di sisi konter. “Kalau guild mau mengirim penyelidikan, jangan kirim Rank E.”
“Aku juga tidak berencana menyarankan itu.”
Mira baru selesai menulis ketika Veld keluar dari lorong belakang sambil membawa cangkir. Ia sempat berjalan melewati mereka, kemudian berhenti setelah melihat kantong berisi bukti dire wolf di meja.
“Bukankah kalian cuma mengawal kereta?”
“Rencananya begitu,” jawab Garrick.
Veld meletakkan cangkirnya.
Mira menyerahkan laporan yang baru ditulis. “Lima dire wolf menyerang mereka di jalan. Lumer juga diserang tadi malam. Ada jejak lain di utara desa yang ukurannya lebih besar.”
Veld membaca beberapa bagian sambil berdiri.
“Kapan jejaknya dibuat?”
“Lysa memperkirakan tidak lebih dari beberapa hari,” kata Garrick.
“Jejaknya masuk atau keluar dari hutan?”
“Sulit dipastikan. Tanah kering memutus jejak di beberapa tempat.”
Veld membaca sampai akhir, lalu menunjuk bagian bawah laporan.
“Suara berat dari dalam hutan?”
“Kami dengar dua kali sebelum kembali ke desa,” jawab Lysa. “Waktu kereta berangkat pulang, terdengar lagi dari jauh.”
Veld tidak terlihat senang mendengarnya.
“Aku kirim salinan ke bagian monster malam ini. Kalau ada tim yang masih tersedia, penyelidikan bisa berangkat besok.”
Kaito mendengarkan dari samping.
Mira mengambil kartu guild mereka satu per satu untuk mencatat penyelesaian quest. Ketika kartu Kaito sampai di tangannya, Veld baru memperhatikannya.
“Kau ikut pengawalan ini sehari setelah naik Rank?”
“Iya. Mira bilang mereka butuh satu orang lagi.”
Veld melirik Mira.
“Jangan lihat aku begitu. Dia lulus evaluasimu.”
“Aku tahu.”
“Berarti masalahnya bukan saya?” tanya Kaito.
Veld menahan senyum. “Belum tentu.”
Mira memasukkan kartu Kaito ke alat pencatat.
“Quest-nya selesai dengan benar. Tidak ada muatan hilang, tidak ada warga yang terluka selama pengawalan, dan kelompok kembali lengkap.”
“Kereta juga lengkap,” tambah Lysa.
Garrick langsung menatapnya. “Jangan mulai lagi.”
Lysa terlihat puas.
Kaito mulai merasa ada bagian dari perjalanan pulang yang tidak ia ketahui.
Mira mengembalikan kartu mereka. “Bayaran dasar sesuai kontrak, ditambah bonus untuk empat dire wolf yang dibunuh di jalan. Karena itu terjadi dalam quest pengawalan, pembagiannya masuk ke kelompok.”
Lysa langsung berdiri lebih tegak. “Nah, akhirnya bagian penting.”
“Kemarin kau bilang aku terlalu fokus pada uang,” kata Kaito.
“Aku tidak pernah bilang uang tidak penting.”
Garrick menggeleng. “Kalian cocok kalau urusannya pembayaran.”
Mira menghitung koin dan membaginya dalam tiga bagian. Kaito menghitung bagiannya seperti biasa sebelum memasukkannya ke kantong.
Lysa memperhatikannya, lalu ikut menghitung miliknya.
Kaito melihat itu.
“Kamu ikut menghitung sekarang?”
“Aku belajar dari pengalaman.”
“Belum pernah kurang, kan?”