Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #9

Episode 9 - A Place To Call Home

Cahaya matahari pagi menembus celah tirai kayu kamar penginapan. Kaito terbangun tepat waktu, membiasakan tubuhnya dengan ritme harian kota Delvarn. Setelah membasuh muka di halaman belakang, ia kembali ke kamar untuk menghitung sisa koin di dalam dompet kulitnya.

Tabungannya kini cukup memadai. Menginap harian di penginapan umum memang praktis, tetapi biayanya terasa kurang efisien jika dihitung untuk jangka panjang. Lagi pula, kamar penginapan selalu bising oleh hilir mudik tamu dan tidak memiliki tingkat privasi yang cukup. Kaito membutuhkan tempat tinggal yang lebih tenang, lokasi yang aman untuk menyimpan barang-barang peninggalannya dari dunia lama, serta tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah sementara.

Usai menikmati sarapan sepotong roti keras dan sup hangat di kedai bawah penginapan, Kaito menyusuri kawasan pemukiman di sisi barat kota. Berbeda dengan area komersial di sekitar gerbang atau area guild yang padat, bagian barat Delvarn didominasi rumah-rumah batu dan kayu beratap genteng cokelat. Suasananya jauh lebih tenang, dihuni oleh keluarga pekerja lokal dan pedagang skala kecil.

Kaito memperhatikan papan pengumuman kayu yang terpampang di persimpangan jalan pemukiman. Setelah bertanya ke beberapa warga setempat yang sedang menyapu halaman, ia diarahkan ke sebuah rumah dua lantai berkonstruksi kayu kokoh di dekat sudut lorong tenang.

Pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya bernama Clara, yang tinggal bersama suaminya di lantai bawah. Kamar yang disewakan berada di lantai dua, memiliki jendela lebar yang menghadap ke jalan kecil beraspal batu. Ukuran kamarnya tidak terlalu luas, namun sangat bersih. Di dalamnya sudah tersedia ranjang kayu tunggal dengan kasur kapuk tebal, meja tulis, kursi, serta lemari pakaian sederhana dari kayu ek.

“Harganya dua belas keping perak per bulan,” kata Clara seraya memperlihatkan isi kamar. “Harga itu sudah termasuk air bersih dan penggunaan fasilitas pencucian di belakang. Tapi untuk makanan, kau harus cari sendiri.”

Kaito mempertimbangkan angka tersebut. Dua belas keping perak per bulan terhitung sangat wajar untuk ukuran kota seperti Delvarn. Dengan pendapatan dari beberapa misi terakhir, nilai itu sama sekali tidak memberatkan keuangannya.

“Saya ambil kamar ini,” ujar Kaito tanpa ragu. Ia mengeluarkan dompetnya dan membayar sewa bulan pertama di muka.

Proses serah terima kunci berjalan cepat tanpa hambatan. Kaito segera kembali ke penginapan lamanya untuk mengemas barang-barang. Barang bawaannya memang tidak banyak: beberapa stel pakaian lokal, jubah perjalanan, tongkat sihir kayu yang ia beli kemarin, perbekalan kecil, serta pakaian kerja dari dunia asalnya yang tersimpan rapi di dasar tas.

Hanya dalam satu kali jalan, Kaito sudah memindahkan seluruh barangnya ke kamar baru. Ia menata pakaian di dalam lemari kayu, meletakkan tongkat sihir di sudut dinding dekat pintu, dan menaruh tas berisi pakaian lamanya di bagian paling dalam bawah ranjang.

Kaito duduk di tepi tempat tidur, memandangi ruangan yang kini menjadi tempat bernaungnya. Suasana tenang dan aroma kayu kering memberi rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak tiba di dunia ini.

“Wah, akhirnya punya tempat tinggal sendiri juga ya.”

Suara Eira memecah keheningan di dalam kepalanya, dibawakan dengan nada santai yang kentara.

Kaito bersandar pada sandaran kayu tempat tidur. Langkah kecil untuk membangun kehidupan yang stabil. Kamar ini jauh lebih hemat daripada bayar penginapan harian.

“Baguslah kalau begitu,” sahut Eira. “Semakin cepat kamu punya rutinitas yang teratur, semakin sedikit potensi kamu membikin kekacauan. Aku paling malas kalau harus mengurus kekacauan yang tidak perlu.”

Saya tidak pernah berniat membuat kekacauan.

“Masa? Tapi setidaknya pilihan kamarmu ini lumayan oke. Sederhana, tidak mencolok, dan tidak terlalu dekat dengan area guild yang berisik,” puji Eira singkat sebelum suaranya menghilang begitu saja.

Kaito tersenyum tipis, lalu bangkit dari tempat tidur. Setelah mengunci pintu kamar dari luar dan menyapa Clara yang sedang menyiram tanaman di halaman depan, Kaito melangkah menuju gedung Adventurer Guild.

Suasana siang menjelang sore di aula guild terasa agak berbeda dari biasanya. Kerumunan petualang di sekitar papan pengumuman tidak sepadat kemarin, tetapi beberapa kelompok petualang veteran tampak berkumpul dekat sudut ruangan, mendiskusikan topik tertentu dengan raut wajah serius.

Kaito berjalan menghampiri loket administrasi. Mira sedang sibuk mencatat lembaran dokumen di balik meja. Ketika menyadari kehadiran Kaito, resepsionis wanita itu menghentikan penanya dan menyapa dengan senyum ramah.

“Selamat siang, Kaito. Mau mengambil misi baru hari ini?”

Lihat selengkapnya