Pagi hari di kawasan pemukiman barat Delvarn dimulai dengan ketenangan yang menyejukkan. Suara kicau burung liar beradu pelan dengan dentang tiang besi dari bengkel pandai besi di ujung lorong. Kaito terbangun sebelum fajar benar-benar terang, menyambut hari pertamanya terbangun secara penuh di kamar sewa milik Clara.
Setelah membasuh muka dan merapikan tempat tidur kapuknya, Kaito mengenakan jubah perjalanan sederhana serta mengikatkan dompet kulit dan sarung pisau kecil di pinggangnya. Tongkat kayu tua yang ia beli kemarin disandarkan sebentar di tepi meja selagi ia memeriksa sisa koinnya. Keuangannya dalam kondisi sangat aman, tetapi menjaga keteraturan hidup adalah prioritas utamanya di kota ini.
Ketika Kaito turun melintasi tangga kayu, Clara sedang berada di halaman depan menyiram pot-pot bunga liar.
"Selamat pagi, Kaito. Mau keluar sepagi ini?" sapa Clara ramah.
"Selamat pagi, Bu Clara. Iya, saya mau mengecek pekerjaan di guild," jawab Kaito sopan sembari menyesuaikan posisi tongkat kayu di tangan kanannya.
"Anak muda yang rajin. Kalau butuh air hangat untuk mandi sore nanti, bilang saja pada suamiku di belakang, ya," ujar Clara dengan senyum hangat.
Kaito mengangguk terima kasih lalu melangkah keluar menuju jalan utama. Udara pagi terasa sejuk dan segar. Pasar pagi di sekitar persimpangan barat mulai ramai oleh pedagang sayur dan penjual roti yang menyusun barang dagangan di atas meja kayu. Kaito berhenti sebentar di sebuah gerobak sarapan untuk membeli dua buah roti isi daging cincang hangat seharga dua keping tembaga. Ia menikmati sepotong roti tersebut sambil berjalan santai menembus pusat kota menuju gedung Adventurer Guild.
Suasana aula guild pagi itu tampak lebih riuh daripada biasanya. Puluhan petualang berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil di depan papan pengumuman. Beberapanya berbicara dengan nada berbisik, sementara kelompok petualang yang mengenakan zirah besi tebal tampak berdiskusi serius di sudut meja utama.
Kaito membelah kerumunan pelan-pelan tanpa menarik perhatian, mengamati situasi sekitar sebelum melangkah menuju loket administrasi. Di balik meja, Mira tampak sibuk memilah-milah tumpukan dokumen berstempel merah. Raut wajah resepsionis wanita itu terlihat sedikit lelah.
"Selamat pagi, Mira," sapa Kaito ramah.
Mira mendongak, lalu menghela napas lega saat melihat wajah Kaito. "Selamat pagi, Kaito. Syukurlah kau datang. Suasana aula sedang agak kacau sejak tadi subuh."
"Ada masalah di rute luar kota?" tanya Kaito tenang.
"Tim investigasi Rank C yang dikirim ke rute Lumer kemarin malam baru saja kembali," jawab Mira pelan, mengikis nada suaranya agar tidak terdengar hingga ke kerumunan aula. "Laporan mereka cukup mengkhawatirkan. Fenomena bergesernya kawalan serigala dire ke arah jalan utama ternyata bukan cuma karena perebutan wilayah biasa."
Sebelum Kaito sempat bertanya lebih lanjut, sebuah tepukan berbobot mendarat di bahu kirinya. Kaito menoleh dan menemukan Garrick berdiri di sampingnya dengan senyum lebar. Di belakang pria bergada tersebut, Lysa tampak melambaikan tangan santai.
"Pagi, Kaito! Wah, penampilanmu sekarang benar-benar kelihatan seperti penyihir tulen," puji Garrick seraya melirik tongkat kayu dan jubah perjalanan yang dikenakan Kaito.
"Pagi, Garrick, Lysa," balas Kaito.
Garrick merendahkan volume suaranya, memajukan tubuhnya sedikit. "Mereka menemukan jejak penyebaran hama monster yang tidak wajar. Kawanan Direwolf dan beberapa jenis monster hutan dalam melarikan diri keluar dari wilayah asal mereka. Sesuatu yang lebih kuat di kedalaman hutan tampaknya telah terbangun atau berpindah tempat, memaksa monster-monster kelas bawah mendesak ke pemukiman warga di tepi rute timur."
"Bahkan tim Rank C dipaksa mundur setelah berhadapan dengan sekelompok Ogre hutan yang biasanya tidak pernah muncul di area luar," tambah Lysa dengan raut wajah lebih serius. "Pihak guild sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat bahaya rute timur ke Rank B dan menutup perbatasan jalan untuk petualang pemula."
Kaito mencerna informasi tersebut secara rasional. Pergeseran wilayah monster di kedalaman hutan memang bisa memicu dampak berantai hingga ke jalan perdagangan. Namun baginya yang saat ini berstatus petualang Rank E, masalah tersebut berada di luar ranah kewajibannya.
"Berarti jalan menuju Lumer bakal ditutup sementara waktu untuk misi pengawalan biasa?" tanya Kaito memastikan.
Mira mengangguk dari balik meja. "Benar. Untuk sementara, misi di rute timur ditahan sampai pimpinan guild menetapkan langkah penanganan. Tapi untuk wilayah selatan dan barat, aktivitas masih berjalan normal."
"Suasana luar kota makin ramai saja, ya," goda suara Eira mendadak di dalam kepala Kaito. "Kamu tidak berniat melompat ke hutan itu lalu meratakan masalahnya sekalian?"
Kaito tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Tentu saja tidak. Itu tugas petualang Rank tinggi dan pihak berwenang kota. Saya cuma petualang Rank E yang perlu menjaga fokus pada tugas harian.
"Baguslah kalau sadar diri," sahut Eira pendek dan terkesan bosan. "Mending kamu cari tugas yang santai lalu beli roti daging yang enak lagi."
Komunikasi Eira langsung terputus setelahnya. Kaito mengalihkan perhatiannya kembali kepada Garrick dan Lysa yang masih berdiri di dekatnya.
"Kalian sendiri ada rencana mengambil misi hari ini?" tanya Kaito.
Garrick tertawa kecil seraya menggeleng. "Grup kami diminta bersiap sebagai tenaga cadangan kalau ada patroli tambahan di dekat benteng kota. Untuk sementara kami cuma akan mengasah pedang di lapangan latihan. Kau sendiri bagaimana, Kaito?"
"Saya mau melihat-lihat papan misi Rank E," jawab Kaito jujur. "Masih banyak pekerjaan lokal yang perlu diselesaikan."
"Pilihan yang bijak," puji Garrick. "Tetaplah berada di sekitar area aman kota sampai situasi rute timur benar-benar jelas."
Setelah berpamitan dengan Garrick dan Lysa, Kaito melangkah menuju papan pengumuman khusus Rank E. Meskipun situasi di bagian timur Delvarn mulai diselimuti gema ancaman dari hutan dalam, Kaito memilih untuk terus melangkah secara terukur, menjaga ritme kehidupannya tetap stabil di tengah dinamika dunia Arethos.
Papan pengumuman khusus Rank E dipenuhi belasan lembar kertas tugas lokal. Kaito menyapu pandangannya secara cermat, menyaring setiap penawaran berdasarkan lokasi, tingkat risiko, dan estimasi waktu pengerjaan. Misi ke wilayah timur telah dibekukan, sementara rute selatan baru saja ia selesaikan kemarin. Pilihan paling rasional adalah mencari pekerjaan di kawasan barat atau pinggiran utara yang relatif tenang.
Perhatian Kaito tertambat pada selembar kertas berstempel biru dari Pengelola Tambang Batu Barat.
Permintaan tersebut membutuhkan seorang petualang Rank E untuk membersihkan lorong penyimpanan tua di area tambang batu kapur. Sekelompok Cave Kobold dilaporkan membuat sarang di dalam lorong tersebut, mengganggu jalur pengangkutan material dan merusak peralatan kerja para penambang. Imbalan yang ditawarkan sebesar empat puluh lima keping tembaga.
Pekerjaan ini terasa sangat cocok. Lokasinya berada di dalam struktur gua tambang buatan di perbukitan barat, jauh dari pemukiman padat dan terisolasi dari lalu lintas petualang lain. Lokasi tertutup seperti itu memberinya kebebasan penuh untuk menyelesaikan masalah secara praktis tanpa perlu khawatir memicu keributan.
Kaito melepas kertas tugas tersebut lalu membawanya ke loket administrasi.
Mira menerima lembaran kertas dari tangan Kaito dan membaca rinciannya sejenak. “Misi pembersihan di Tambang Herman?”