Sinar matahari pagi merayap perlahan melintasi bingkai jendela kayu kamar sewa Kaito. Aroma kayu ek yang bersih dan hembusan udara segar dari perbukitan barat menyambutnya begitu ia membuka daun jendela. Suasana di pemukiman barat Delvarn ini jauh berbeda dibanding riuhnya penginapan umum di dekat pusat kota. Di sini, suara derap langkah warga lokal dan sayup-sayup obrolan tetangga menjadi latar belakang yang menenangkan.
Kaito merapikan tempat tidurnya, lalu mengenakan pakaian pengembara lokal yang dibelinya tempo hari. Pakaian itu sederhana namun nyaman: tunik kain berserat rapat, celana panjang tebal, serta jubah pendek bergaris gelap yang membantunya menyatu dengan penampilan petualang lain. Di pinggangnya terikat dompet kulit serta kantong perbekalan. Sebelum melangkah keluar, ia menyambar tongkat kayu di sudut ruangan yang berfungsi sebagai penyamaran utamanya sebagai penyihir angin.
Saat menuruni tangga kayu menuju lantai bawah, Kaito menyapa Clara yang sedang menata mangkuk kayu di meja makan. Wanita paruh baya itu menyambutnya dengan senyuman hangat, menawarkan secangkir teh herbal hangat sebelum Kaito berangkat kerja. Kaito menerima tawaran itu dengan sopan, menikmati tehnya sejenak sebelum berpamitan menuju pusat kota.
Suasana jalanan Delvarn mulai menggeliat. Pasar pagi di sekitar persimpangan dipenuhi oleh deretan gerobak sayur dan aroma roti gandum yang baru dipanggang. Kaito berhenti sebentar di sebuah kios untuk membeli sepotong roti isi daging asap seharga dua keping tembaga untuk mengganjal perut, menyantapnya secara santai sembari melangkah menuju gedung Adventurer Guild.
Gedung guild sudah ramai oleh lalu lalang petualang sejak subuh. Meskipun perbatasan rute timur menuju Lumer masih ditutup akibat investigasi khusus Rank C, dampaknya mulai meluas ke sektor lain. Banyak kelompok pedagang yang terpaksa menunda perjalanan atau mencari jalur alternatif demi menghindari ketegangan di area hutan utara. Akibatnya, aula utama guild dipenuhi oleh kerumunan pedagang dan pengawal yang mendiskusikan rute memutar melalui jalur barat daya.
Kaito melangkah membelah kerumunan, mengarahkan jalurnya menuju loket administrasi. Di balik konter kayu tebal, Mira tampak sibuk memeriksa tumpukan lembaran tugas dan peta jalur perdagangan.
"Selamat pagi, Mira," sapa Kaito ramah.
Mira mendongak, lalu mengulas senyum lega saat melihat kehadiran Kaito. "Selamat pagi, Kaito. Senang melihatmu tepat waktu seperti biasa. Bagaimana dengan kamar barumu di pemukiman barat? Sudah mulai terbiasa?"
"Sangat nyaman," jawab Kaito jujur. "Suasananya jauh lebih tenang dibanding penginapan umum. Mengenai situasi guild hari ini, sepertinya aula jauh lebih padat dari biasanya."
Mira menghela napas pendek seraya menata tumpukan peta di mejanya. "Efek dari pembekuan rute timur. Karena jalan utama menuju Lumer ditutup untuk sementara, banyak pedagang yang mencoba mengalihkan pengiriman barang mereka melintasi Jalur Melingkar Barat Daya. Masalahnya, peningkatan lalu lintas di jalur alternatif itu mulai memancing perhatian kelompok monster liar dari perbukitan."
"Jadi ada permintaan pengawalan tambahan untuk jalur memutar itu?" tanya Kaito rasional.
"Tepat sekali," sahut Mira seraya mengambil selembar kertas tugas berstempel resmi dari tumpukan khusus. "Ini permintaan baru yang masuk setengah jam lalu. Sebuah rombongan pedagang bahan pangan butuh pengawal tambahan untuk mengamankan dua gerobak muatan melintasi celah perbukitan barat daya menuju Pos Perbatasan Oakhaven. Tugas utamanya adalah memastikan gerobak tidak disergap oleh kawanan Goblin atau Wild Boar yang mulai turun ke pinggir jalan."
Kaito mencerna rincian tugas tersebut. Jalur memutar di perbukitan barat daya berada di area terbuka dengan risiko terukur, cocok untuk menjaga keuangannya tetap mengalir tanpa menarik perhatian yang tak perlu. Imbalan yang tertera adalah lima puluh keping tembaga, angka yang sangat memadai untuk tugas pengawalan harian.
"Saya ambil tugas ini, Mira," kata Kaito seraya menyodorkan kartu guild Rank E miliknya.
Mira tersenyum puas dan membubuhkan stempel resmi pada lembar konfirmasi tugas. "Rombongan pedagangnya sudah menunggu di pos pengumpulan gerobak dekat pintu gerbang barat daya. Namanya Pak Gordon. Hati-hati di jalan, Kaito."
"Terima kasih, Mira. Saya berangkat sekarang."
Kaito mengantongi lembar tugas dan melangkah keluar dari gedung guild. Saat ia menyusuri trotoar batu menuju gerbang barat daya, suara Eira mendadak bergema di dalam kepalanya.
"Kamu benar-benar menikmati peran jadi petualang rajin, ya?" celetuk Eira dengan intonasi santai.
Kaito tidak mengubah ritme langkahnya. Ini cara paling praktis untuk menjaga hidup tetap teratur dan punya pemasukan yang jelas.
"Terserah kamu saja," sahut Eira terkekeh pelan. "Mau kawal gerobak atau mau jalan-jalan di perbukitan, yang penting jangan sampai kamu bikin kekacauan besar yang merusak waktu tidurku."
Tenang saja. Semuanya bakal selesai dengan rapi.
Komunikasi terputus saat Kaito mendekati pintu gerbang barat daya, tempat dua gerobak kayu penuh muatan dan beberapa pekerja lokal tampak bersiap menempuh perjalanan.
Di persimpangan dekat gerbang barat daya, dua gerobak kayu beratap terpal tebal tampak bersiap untuk berangkat. Beberapa pekerja sibuk memperketat ikatan tali pada tumpukan peti bahan pangan, sementara dua ekor kuda penarik mendengus pelan di barisan depan. Seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan mantel bulu kusam tampak berjalan mondar-mandir sembari memeriksa roda gerobak.
Pria itu adalah Gordon, pedagang yang mengajukan permintaan pengawalan ke guild.
Kaito melangkah mendekat, menghentikan langkahnya beberapa meter di samping gerobak terdepan. "Pak Gordon?"
Pria tambun itu menoleh seketika. Matanya menyapu penampilan Kaito dari ujung kepala hingga ujung kaki, tertahan sejenak pada tongkat kayu di tangan kanan dan kartu guild Rank E yang tersemat di pinggangnya.
"Ah, kau petualang dari guild?" tanya Gordon dengan nada lega namun tersirat sedikit kecemasan. "Nama saya Gordon. Kau dikirim sendirian untuk pengawalan ini?"
"Kaito Haru, penyihir angin Rank E," jawab Kaito tenang. "Saya yang mengambil tugas pengawalan rombongan Anda menuju Pos Perbatasan Oakhaven."
Gordon mengusap dahi bertutup keringat tipisnya, lalu mengangguk-angguk. "Baiklah, Kaito. Asal kau bisa menjaga gerobak ini dari serangan hewan liar atau kelompok Goblin yang berkeliaran di celah bukit, itu sudah cukup. Dua gerobak ini membawa gandum dan daging asin segar. Kalau sampai dijarah, kerugianku bisa melambung tinggi."