Fajar menyingsing di atas atap-atap kayu kawasan pemukiman barat Delvarn. Cahaya keemasan lembut menerobos tirai kain di kamar sewa Kaito, memantulkan pendar tipis pada permukaan meja tulis ek tempat ia meletakkan tongkat kayu dan kantong koinnya. Kaito sudah terbangun sejak lonceng gereja tua di alun-alun kota berdentang lima kali.
Setelah menata ranjang kapuknya dan membasuh wajah dengan air dingin dari tempayan, Kaito melangkah turun menuju pelataran bawah. Clara sedang menyusun mangkuk-mangkuk kayu di atas meja panjang, sementara suaminya, seorang pria berbadan tegap dengan janggut rapi bernama Henk, sedang memeriksa engsel pintu depan.
"Selamat pagi, Kaito," sapa Clara ramah seraya menuangkan sup gandum hangat ke dalam mangkuk. "Kau selalu bangun lebih awal dibanding tamu lain yang pernah tinggal di sini."
Setelah menata ranjang kapuknya dan membasuh wajah dengan air dingin dari tempayan, Kaito melangkah turun menuju pelataran bawah. Clara sedang menyusun mangkuk-mangkuk kayu di atas meja panjang, sementara suaminya, seorang pria berbadan tegap dengan janggut rapi bernama Henk, sedang memeriksa engsel pintu depan.
"Selamat pagi, Kaito," sapa Clara ramah seraya menuangkan sup gandum hangat ke dalam mangkuk. "Kau selalu bangun lebih awal dibanding penyewa lain yang pernah tinggal di sini."
"Selamat pagi, Bu Clara, Pak Henk," balas Kaito sopan. "Terima kasih supnya."
Henk menoleh dan tersenyum tipis. "Gaya hidupmu sangat teratur untuk ukuran petualang muda. Kebanyakan anak muda yang baru memegang kartu guild suka menghabiskan malam di kedai minum sampai larut."
"Menjaga kondisi tubuh jauh lebih praktis daripada mengobati rasa pusing di pagi hari," sahut Kaito tenang sembari menikmati sup gandumnya.
Usai menyudahi sarapan dan membayar biaya kebersihan mingguan, Kaito melangkah keluar menyusuri jalanan batu yang mulai ramai. Pasar pemukiman barat memancarkan kesibukan khas pagi hari. Pedagang buah menjajakan hasil panen lokal, sementara aroma roti memanggang bertiup di sepanjang lorong. Kaito membeli sepotong roti kering berbumbu seharga dua keping tembaga untuk perbekalan jalan, lalu mengarahkan langkahnya ke pusat kota menuju gedung Adventurer Guild.
Suasana aula guild pagi ini terasa berbeda. Jika kemarin kerumunan terfokus pada papan pengumuman umum, hari ini beberapa perwira guild dan petualang senior tampak lalu-lalang membawa peta wilayah yang lebih luas. Isu penutupan rute timur menuju Lumer akibat pergeseran wilayah monster rupanya mulai memicu efek domino ke wilayah perbukitan barat.
Kaito berjalan tenang membelah kerumunan, menghampiri konter administrasi yang dijaga Mira. Resepsionis wanita itu tampak sedang menandatangani beberapa berkas berkop stempel merah.
"Selamat pagi, Mira," sapa Kaito.
Mira mendongak, lalu menghela napas panjang sembari meletakkan penanya. "Selamat pagi, Kaito. Pagi yang sangat sibuk. Kau datang di saat yang tepat."
"Ada perkembangan baru dari rute luar kota?" tanya Kaito rasional.
Mira menyandarkan punggungnya di kursi kayu, merendahkan intonasi suaranya. "Tim investigasi gabungan yang masuk ke hutan utara Lumer mengirimkan pesan burung tadi subuh. Ancaman di rute timur memang makin memburuk. Monster-monster agresif dari kedalaman hutan terus terdesak ke luar."
Mira kemudian menarik selembar peta wilayah barat daya dan membentangkannya di atas meja. "Dampaknya tidak cuma berhenti di rute timur. Peningkatan aktivitas pedagang yang memutar lewat Jalur Barat Daya—seperti rombongan Pak Gordon kemarin—mulai menarik perhatian kawanan monster dari Celah Perbukitan Tua."
"Celah Perbukitan Tua?" Kaito menatap garis bukit yang tertera di peta.
"Benar. Itu wilayah lembah batu yang terhubung dengan hutan barat daya," jelas Mira. "Pagi ini, pos penjagaan Oakhaven melaporkan bahwa tim patroli mereka menemukan bekas sarang Hobgoblin dan beberapa jejak monster bersisik keras di dekat reruntuhan jalur lama. Pihak pos butuh petualang untuk melakukan pemindaian area dan pembersihan jalur sebelum kelompok monster itu mendirikan pemukiman permanen di dekat jalan utama."
Mira mengambil kertas konfirmasi misi berstempel khusus. "Misi ini dikategorikan sebagai tugas inspeksi dan pembersihan skala menengah untuk Rank E dan Rank D. Imbalannya lumayan tinggi, delapan puluh keping tembaga, karena kawasannya agak jauh di dalam lembah."
Kaito mempertimbangkan rincian tersebut. Misi inspeksi di wilayah lembah batu terisolasi memberinya ruang gerak yang sangat luas. Di sana, ia tidak perlu khawatir akan kerumunan saksi mata atau keharusan membatasi sihirnya secara berlebihan jika bertemu ancaman yang tak terduga.
"Saya ambil misi ini, Mira," kata Kaito seraya menyodorkan kartu guild miliknya.
Mira mengamati Kaito sejenak, lalu tersenyum hangat. "Pak Gordon memberikan ulasan yang sangat tinggi tentang caramu mengawal kemarin. Pimpinan guild menyetujui jika kau mengambil misi inspeksi ini secara mandiri, asal kau tetap berada di batas jalur aman. Namun, kalau kau menemukan ancaman berskala besar, tugasmu cuma melapor, bukan bertarung mati-matian."
"Saya mengerti batasannya," jawab Kaito tegas.
Mira membubuhkan stempel resmi pada lembar konfirmasi misi lalu menyerahkannya bersama selembar peta rinci Celah Perbukitan Tua. "Hati-hati di jalan, Kaito."
"Terima kasih, Mira."
Kaito mengantongi peta dan lembar izin tugas, membalikkan badan, lalu melangkah keluar dari aula guild menuju gerbang barat daya Delvarn untuk memulai perjalanannya.
Matahari merambat naik menuju puncak langit saat Kaito melintasi gerbang barat daya kota Delvarn. Rute jalan tanah berkerikil yang ia lalui sama dengan rute pengawalan gerobak Gordon kemarin. Namun, begitu melewati titik Pos Perbatasan Oakhaven, jalan utama berbatu mulai menyempit, berganti menjadi jalan setapak berrumput yang menanjak ke arah Celah Perbukitan Tua.
Kawasan perbukitan di sisi ini terasa jauh lebih liar. Pohon-pohon pinus berukuran raksasa tumbuh rapat di tebing-tebing batu kapur, menaungi jalan setapak dengan bayang-bayang kelam yang dingin. Angin pegunungan bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan desir dedaunan kering.
Kaito melangkah dengan kestabilan fisik yang sempurna. Ujung tongkat kayunya mengetuk tanah secara berirama. Tanpa perlu merapal sihir pelacak yang rumit, inderanya yang tajam dapat merasakan keberadaan getaran mana dan aliran kehidupan di sekitar lembah.
"Suasana tempat ini sepi sekali," ujar suara Eira mendadak di dalam kepalanya, dibawakan dengan nada malas yang santai.
Kaito tidak memperlambat langkahnya. Memang ini area perbukitan tua yang jarang dilalui pedagang biasa.
"Tapi instingmu bilang ada sesuatu di depan, kan?" celetuk Eira. "Aku bisa merasakan riak mana yang agak berisik di balik bukit batu itu."
Iya. Ada kumpulan energi yang bergerak tidak teratur.
"Ya sudah, bereskan dengan rapi seperti biasa," kata Eira terkekeh samar. "Jangan sampai bajumu kotor lagi."
Komunikasi Eira memudar perlahan. Kaito memfokuskan pandangannya ke arah celah tebing batu di depan.