Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #14

Episode 14 - Paths Crossing In Delvarn

Pagi di pemukiman barat Delvarn mengalir dalam ketenangan yang kian akrab bagi Kaito. Suara desir angin perbukitan berpadu dengan aroma gurih roti panggang yang tercium dari dapur Clara di lantai bawah. Sejak menyewa kamar kayu dua lantai ini, Kaito merasakan ritme hidupnya makin tertata dengan rapi. Ia tidak lagi harus mengkhawatirkan bisingnya penginapan umum atau tempat menyimpan barang bawaannya.

Usai membasuh muka dan merapikan jubah pengembaranya, Kaito menyambar tongkat kayu sederhana di sudut meja, lalu menuruni tangga. Di pelataran bawah, Clara sedang menyapu lantai kayu sementara Henk tampak sibuk memeriksa gerendel jendela depan.

"Selamat pagi, Kaito. Mau mengambil tugas di guild lagi hari ini?" sapa Clara ramah.

"Selamat pagi, Bu Clara, Pak Henk. Iya, saya mau mengecek papan pengumuman," jawab Kaito sopan.

"Semoga harimu lancar," ujar Henk seraya tersenyum tipis. "Jalanan menuju pusat kota sepertinya mulai makin ramai oleh rombongan pedagang dari selatan."

Kaito berpamitan, lalu melangkah keluar menyusuri jalanan batu yang disiram cahaya keemasan mentari pagi. Ia sempat mampir ke kios langganannya di persimpangan pasar untuk membeli roti isi daging hangat seharga dua keping tembaga. Sembari menikmati sarapan ringannya, Kaito melangkah santai membelah lorong-lorong Delvarn menuju gedung Adventurer Guild.

Suasana di aula utama guild tampak sibuk. Kesibukan tersebut bukan hanya dipicu oleh pembekuan rute timur Lumer, melainkan juga oleh tingginya volume permintaan pengawalan di jalur memutar perbukitan barat daya. Beberapa kelompok petualang veteran tampak sibuk berdiskusi di depan papan peta, sementara di sudut lain, para petualang muda sibuk memilah lembaran tugas harian.

Kaito melangkah membelah kerumunan dengan tenang, mengarahkan langkahnya menuju konter administrasi. Di balik meja kayu tebal, Mira sedang mencatat beberapa dokumen pembayaran. Namun, di samping konter, tampak Lysa sedang berdiri bersedekap seraya memperhatikan papan tugas khusus Rank D dan Rank E.

Gadis berambut pirang terikat kuncir kuda itu mengenakan zirah kulit tebal yang pas di badan, dengan busur pendek serta tempat anak panah terikat rapi di punggungnya. Ketika mendengar derap langkah Kaito mendekat, Lysa menoleh dan senyum tipis melintas di wajahnya.

"Pagi, Kaito," sapa Lysa dengan nada ceria yang khas.

"Selamat pagi, Lysa, Mira," balas Kaito tenang sembari menganggukkan kepala.

Mira mendongak dari tumpukan berkasnya, membalas sapaan Kaito dengan senyum lega. "Selamat pagi, Kaito. Kau datang tepat waktu. Lysa baru saja menanyakanmu."

Kaito menoleh ke arah Lysa dengan sedikit rasa ingin tahu. "Ada keperluan denganku?"

Lysa terkekeh pelan, menyandarkan siku tangannya di atas konter kayu. "Bukan masalah berat. Cuma soal pembagian tugas tim. Garrick dan beberapa anggota grup senior kami ditugaskan oleh guild untuk menjaga pos garis depan di rute timur selama seminggu ke depan. Tugasnya cuma bersiaga dan tidak butuh pemanah bergerak cepat seperti aku."

"Jadi kau tidak ikut ke garis depan?" tanya Kaito rasional.

"Tidak. Mengurung pemanah di pos benteng diam itu membosankan," sahut Lysa seraya mengibaskan tangannya santai. "Lagi pula, guild sedang membuka beberapa penawaran misi eksplorasi dan pengawalan bergerak di wilayah selatan yang butuh kombinasi pemanah dan penyihir bergerak cepat."

Mira mengambil selembar berkas tugas berstempel khusus dari laci konter lalu membentangkannya di atas meja. "Ini penawaran misi gabungan untuk Rank E dan Rank D. Permintaan datang dari Serikat Herbalis Delvarn. Mereka butuh tim kecil terdiri dari dua orang untuk mendampingi pemetaan tanaman obat langka di Lembah Lembap wilayah selatan."

Mira memandang Kaito dan Lysa secara bergantian. "Tugasnya adalah menyusuri area hutan selatan, mengumpulkan sampel Luma Root, serta memastikan area pemetikan bebas dari kawanan Gutter Wolf dan Venom Spider. Imbalannya cukup besar, seratus dua puluh keping tembaga, dibagi dua."

Kaito mencerna rincian tugas tersebut. Lembah Lembap di selatan berada di kawasan perbukitan terbuka yang relatif sepi, jauh dari kerumunan petualang lain. Misi ini memberinya kesempatan untuk mengumpulkan imbalan yang memadai sekaligus melatih koordinasi kerja tim secara terkontrol.

Di sisi lain, Lysa bukanlah petualang yang gegabah. Dari pengalaman pengawalan ke Lumer sebelumnya, Kaito tahu bahwa Lysa adalah pemanah yang sangat tajam, memiliki kesadaran taktis yang tinggi, dan yang paling penting, tidak suka pamer kemampuan atau memicu keributan yang tidak perlu.

Lysa menatap Kaito dengan mata cokelatnya yang jernih, mengulas senyum menantang namun hangat. "Bagaimana, Kaito? Mau coba mengambil misi gabungan ini denganku? Aku butuh penyihir yang tenang dan tidak gampang panik kalau ada monster melompat dari semak-semak. Dan sejauh ini, cuma kau penyihir Rank E yang paling masuk akal di kota ini."

Kaito menatap lembar tugas di meja, lalu kembali menatap Lysa. Bekerja bersama mitra yang kompeten adalah langkah alami dalam perkembangan kariernya sebagai petualang.

"Tentu," jawab Kaito tegas. "Saya siap mengambil misi ini."

"Bagus!" seru Lysa puas seraya menepuk bahu Kaito pelan. "Kerja sama pertama kita dimulai hari ini."

"Akhirnya dapat teman jalan yang beneran," goda suara Eira mendadak di dalam kepala Kaito, dibawakan dengan intonasi malas namun terkesan geli.

Kaito tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang tenang di depan konter. Ini cuma tugas tim resmi dari guild.

"Iya, iya, terserah," sahut Eira terkekeh samar. "Gadis pemanah itu cukup jeli memperhatikan caramu bertarung. Jangan sampai kamu bertindak aneh di depannya kalau tidak mau ditanya-tanya terus di jalan."

Saya selalu bertindak wajar.

"Semoga saja," tutup Eira sebelum memutus saluran komunikasinya.

Mira tersenyum lega melihat keduanya bersepakat, lalu membubuhkan stempel resmi guild pada lembar tugas gabungan tersebut. "Misi pengumpulan sampel Lembah Lembap resmi dicatat atas nama Kaito Haru dan Lysa. Hati-hati di jalan, kalian berdua."

Kaito dan Lysa melangkah bersama keluar dari gedung guild menuju gerbang selatan kota Delvarn, memulai langkah awal dari ikatan tim yang bakal tumbuh secara alami di tengah petualangan mereka di dunia Arethos.

Matahari pagi menyinari gerbang selatan Delvarn saat Kaito dan Lysa melangkah keluar menelusuri jalan utama. Udara perbukitan selatan terasa lebih lembap ketimbang rute barat daya, membawa aroma tanah basah dan vegetasi yang lebat dari balik perbukitan hijau di kejauhan.

Lysa berjalan di sisi kanan Kaito dengan langkah ringan. Busur pendek di punggungnya bergetar pelan mengikut irama jalurnya, sementara jemari tangannya yang terbalut sarung kulit sesekali mengetuk sarung anak panah di pinggangnya.

"Kau selalu berjalan sesantai ini, Kaito?" tanya Lysa memecah keheningan, menoleh ke arah Kaito dengan pandangan ingin tahu.

"Tidak ada alasan untuk terburu-buru," jawab Kaito tenang seraya memegang tongkat kayunya. "Menjaga ritme langkah membuat stamina tetap teratur sebelum kita sampai di lokasi tugas."

Lysa tertawa kecil, suara tawanya terdengar bening di tengah kesunyian jalan perbukitan. "Jawaban yang sangat khas darimu. Kebanyakan penyihir pemula yang pernah kutemui selalu kelihatan tegang, atau malah sibuk merapal mantra tidak jelas sepanjang jalan cuma buat pamer."

"Itu cuma membuang tenaga," sahut Kaito lugas.

Lihat selengkapnya