Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #15

Episode 15 - The Warmth of Familiar Streets

Lentera batu berpendar hangat di sepanjang lorong pemukiman barat Delvarn ketika matahari petang benar-benar bersembunyi di balik garis bukit. Suasana malam di kawasan ini terasa tenteram, dihiasi aroma masakan gurih yang berembus dari kedai-kedai kecil di pinggir jalan.

Kaito melangkah berdampingan dengan Lysa menyusuri trotoar batu. Di sampingnya, Lysa telah menyimpangkan busur pendeknya ke dalam sarung kain pelindung agar tidak terlalu menyolok di tengah kerumunan warga lokal. Langkah kaki pemanah wanita itu terasa ringan, diiringi senyum simpul yang tak lepas dari wajahnya sejak mereka meninggalkan gedung Adventurer Guild.

"Kedai yang kumaksud ada di ujung lorong ini," kata Lysa seraya menunjuk sebuah bangunan kayu dua lantai dengan plang bergambar cangkir kayu di atas pintunya. "Pemiliknya mantan petualang veteran. Rebusan daging sapi dan roti rempahnya terkenal paling enak di kawasan barat."

"Pilihan yang bagus," sahut Kaito ramah. "Setelah berjalan seharian di Lembah Lembap, hidangan hangat memang yang paling dibutuhkan."

Lysa tertawa renyah, membuka pintu kayu kedai yang diiringi denting bel besi kecil di atas ambang pintu. Suasana di dalam kedai terasa hangat dan ramah. Beberapa meja kayu terisi oleh warga sekitar dan pedagang lokal yang sedang menikmati makan malam.

Mereka memilih meja kecil di dekat jendela yang menghadap ke lorong jalan. Seorang pelayan wanita paruh baya menyambut mereka dengan ceria, mencatat pesanan dua porsi besar rebusan daging sapi berbumbu, roti gandum hangat, serta dua cangkir teh rempah manis.

Usai pelayan berlalu, Lysa menyandarkan sikunya di atas meja kayu, menatap Kaito dengan binar mata yang jernih dalam pendaran lilin meja.

"Jujur saja, Kaito," ujar Lysa membuka percakapan dengan nada tulus. "Hari ini salah satu hari kerja paling menyenangkan selama aku menjadi petualang di Delvarn."

Kaito menyesuaikan posisi duduknya, menatap Lysa dengan raut wajah tenang. "Karena panen sampel Luma Root kita melimpah?"

"Bukan cuma soal tanaman obat atau kepingan tembaga," sahut Lysa seraya menggeleng pelan. "Tapi soal rasanya punya rekan satu tim yang bisa dipercaya sepenuhnya. Biasanya, kalau bertarung dengan penyihir pemula, aku harus selalu membagi fokus untuk memastikan mereka tidak panik atau berdiri di posisi yang salah. Tapi bersamamu, aku bisa fokus melepaskan anak panah tanpa rasa cemas."

Kaito mendengarkan setiap kata yang diucapkan Lysa. Sikap polos dan keterbukaan pemanah wanita di hadapannya memberi rasa nyaman tersendiri. Kaito memahami bahwa di dunia Arethos yang penuh bahaya ini, menemukan rekan yang tidak mementingkan ego adalah hal yang sangat berharga.

"Saya juga merasakan hal yang sama, Lysa," balas Kaito tulus. "Tembakanmu sangat presisi dan kau punya kesadaran taktis yang tinggi. Tanpa dukungan panahmu, pembersihan monster di lembah tadi tidak akan berjalan secepat itu."

Rona merah halus kembali muncul di pipi Lysa mendengar pujian lugas Kaito. Ia tersenyum manis, memutar-mutar cangkir teh kosong di atas meja dengan jemarinya yang lentik.

"Garrick pernah bilang padaku," lanjut Lysa pelan, suaranya terdengar makin hangat. "Petualang yang hebat bukan dilihat dari seberapa keras dia berteriak di lapangan, melainkan dari seberapa tenang dia menjaga rekan-rekannya tetap aman. Dan kau punya hal itu, Kaito."

"Aduh, manis sekali percakapan kalian ini," celetuk suara Eira mendadak bergema di dalam kepala Kaito, dibawakan dengan intonasi santai yang jahil.

Kaito tidak merubah raut wajahnya sedikit pun, membalas sang dewi di dalam benaknya. Kami cuma mendiskusikan evaluasi kerja tim.

"Iya, iya, evaluasi kerja," goda Eira terkekeh samar. "Gadis di depanmu itu matanya sampai berbinar begitu. Kalau kamu tidak peka, kasihan dia. Tapi setidaknya makanan di kedai itu kelihatan lumayan enak."

Saya selalu menghargai rekan kerja yang profesional.

"Terserah kamu sajalah," tutup Eira sebelum memutus komunikasinya dengan nada geli.

Dua porsi rebusan daging sapi yang berasap harum beserta roti gandum hangat disajikan di atas meja. Aroma rempah yang kaya seketika menggugah selera. Lysa dan Kaito menikmati makan malam mereka dalam suasana yang akrab dan santai, diselingi tawa kecil dan cerita pengalaman Lysa selama menjelajahi wilayah selatan Delvarn.

Di bawah pendaran lilin kedai yang hangat, batas antara dua petualang yang semula asing perlahan terkikis, melebur menjadi ikatan kepercayaan dan benih kehangatan yang siap melandasi langkah mereka selanjutnya di kota Delvarn.

Lihat selengkapnya