Sinar matahari pagi memancar cerah di atas gerbang selatan kota Delvarn, menyirami rute jalan batu yang mulai dipadati oleh rombongan pedagang dan musafir. Udara perbukitan selatan bertiup sejuk, membawa aroma padang rumput basah dan pepohonan pinus dari kejauhan.
Kaito berdiri tenang di samping pos penjagaan gerbang, memegang tongkat kayunya dengan santai. Di sebelahnya, Lysa sedang memeriksa simpul tali busur pendeknya serta memastikan posisi tempat anak panah di punggungnya sudah terikat kencang. Zirah kulit tebal yang dikenakannya tampak bersih dan rapi, memantulkan pendaran cahaya mentari pagi.
Di depan mereka, dua gerobak kayu besar beratap kain terpal tebal tampak siap untuk diberangkatkan. Gerobak tersebut memuat berbagai barang kerajinan ukiran kayu dan perkakas besi dari Serikat Pengrajin Delvarn yang hendak dikirim menuju Pemukiman Oakhaven di wilayah selatan.
Pimpinan rombongan pedagang tersebut, seorang pria paruh baya berambut tebal bernama Varner, berjalan menghampiri Kaito dan Lysa dengan senyum lega.
"Semuanya sudah siap diikat kencang," kata Varner seraya menepuk sisi gerobak. "Terima kasih banyak sudah mau mengambil tugas ini. Pihak guild merekomendasikan tim kalian sebagai pasangan petualang yang sangat efisien."
Lysa tersenyum hangat, menepuk tempat anak panahnya. "Anda tidak perlu cemas, Pak Varner. Saya dan Kaito akan memastikan dua gerobak ini tiba di Oakhaven tanpa kurang suatu apa pun."
"Senang mendengarnya," sahut Varner ramah. "Kita bisa berangkat sekarang sebelum matahari terlalu terik."
Rombongan kecil itu mulai bergerak melintasi pintu gerbang selatan. Dua kusir gerobak memicu kuda penarik mereka, membuat roda-roda kayu berputar melindas rute jalan tanah berkerikil dengan irama yang stabil.
Kaito dan Lysa mengambil posisi di barisan depan kanan gerobak pertama. Langkah kaki mereka selaras dan teratur. Lysa mengedarkan pandangannya ke arah lereng bukit di sisi kiri jalan, sementara Kaito mengamati garis semak-semak di sisi kanan dengan kepekaan indera yang tajam.
"Perjalanan pertama kita sebagai tim resmi," ujar Lysa pelan dengan nada gembira, melirik ke arah Kaito di sampingnya.
Kaito menoleh dan mengulas senyum tipis. "Iya. Rute selatan ini relatif terbuka, jadi kita bisa menjaga pandangan dengan lebih mudah."
"Dan yang paling penting, kita tidak perlu membuang waktu untuk berdebat soal taktik," tambah Lysa terkekeh renyah. "Aku menjaga jarak menengah dengan busur, dan kau menopang dari belakang dengan sihir anginmu. Kombinasi yang sempurna."
"Kamu kelihatan makin menikmati tugas pengawalan ini," goda suara Eira mendadak bergema di dalam kepala Kaito, dibawakan dengan intonasi santai dan sedikit jahil.
Kaito mempertahankan ekspresi biasanya di jalan. Memiliki rekan kerja yang bisa diandalkan membuat tugas pengawalan berjalan jauh lebih lancar.
"Baguslah kalau begitu," sahut Eira seraya menguap pelan. "Ingat, jaga output sihirmu tetap irit seperti biasa. Aku tidak mau dibangunkan cuma gara-gara kamu meniup gerobak pedagang itu sampai melayang."
Tenang saja. Semuanya berada dalam kendali.
Komunikasi Eira memudar perlahan saat sang dewi kembali menyudahi bicaranya.
Satu jam pertama perjalanan berlangsung dalam suasana yang hangat dan tenang. Jalur perbukitan selatan dinaungi oleh pepohonan rindang di sepanjang tepian jalan. Varner dan para kusirnya tampak santai, menikmati obrolan ringan di atas gerobak melihat kestabilan dua petualang pengawal di depan mereka.
Namun, saat rombongan memasuki celah jalan yang diapit oleh dinding tebing batu kapur rendah, Lysa mendadak menghentikan langkahnya. Tangannya secara refleks terulur menyentuh bagian sarung anak panahnya.
"Kaito," bisik Lysa rendah, matanya menyipit menatap semak-semak di lereng tebing sebelah kiri. "Ada gesekan di balik daun."
Kaito menghentikan langkahnya di samping Lysa. Tanpa perlu sihir pelacak rumit, inderanya telah menangkap keberadaan empat riak mana monster yang bergerak cepat turun dari tebing batu.
"Empat target," kata Kaito tenang. "Dua di lereng kiri, dua lagi berputar di balik celah kanan."
"Tahu saja kau posisinya," puji Lysa kagum. Ia mencabut sebuah anak panah dengan gerakan cepat, memasangnya pada tali busur pendeknya. "Aku ambil yang di lereng kiri!"