Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #18

Whispers Of The Forgotten Keep

Suasana pagi di pemukiman barat Delvarn mengalir dalam ketenangan yang telah menjadi bagian dari ritme hidup Kaito. Setelah menyelesaikan Misi Pembersihan Rute Timur bersama pasukan gabungan guild, kehidupan harian di kota ini berangsur normal kembali. Pedagang-pedagang dari wilayah selatan dan timur kini melintas tanpa raut cemas, memenuhi pasar-pasar lokal dengan pasokan bahan pangan segar.

Kaito menuruni tangga kayu rumah sewa milik Clara usai merapikan jubah pengembaranya dan mengikat dompet kulit di pinggang. Di pelataran bawah, Clara sedang mengelap meja kayu sementara Henk menata beberapa potong kayu bakar di samping perapian.

"Selamat pagi, Bu Clara, Pak Henk," sapa Kaito ramah.

"Selamat pagi, Kaito," balas Clara dengan senyum hangat. "Kudengar rute Lumer sudah aman sepenuhnya sejak kemarin sore. Banyak tetangga yang berterima kasih pada para petualang."

"Itu hasil kerja keras seluruh tim gabungan," sahut Kaito tenang.

Usai berpamitan, Kaito melangkah menyusuri jalanan batu menuju pasar pemukiman barat. Ia membeli sepotong roti isi daging panggang hangat seharga dua keping tembaga untuk mengganjal perut, lalu melangkah santai menuju gedung Adventurer Guild.

Aula utama guild pagi ini terasa jauh lebih lega dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi kerumunan padat di depan peta darurat. Para petualang kembali memilah lembaran tugas harian di papan pengumuman umum.

Saat Kaito melangkah mendekati konter administrasi, Lysa yang sudah tiba lebih dulu langsung menoleh dan menyambutnya dengan senyuman yang memancarkan kehangatan. Gadis pemanah itu mengenakan zirah kulitnya yang rapi, membawa gulungan kertas laporan dari Serikat Pengrajin.

"Selamat pagi, Kaito!" sapa Lysa dengan nada ceria.

"Selamat pagi, Lysa, Mira," balas Kaito sembari menganggukkan kepala.

Mira yang berada di balik meja mengulas senyum lega. "Selamat pagi, kalian berdua. Hari ini tidak ada pengumuman darurat, jadi kalian bisa mengambil tugas harian yang lebih santai."

Mira memilah beberapa berkas tugas dari laci meja, lalu membentangkan selembar kertas berstempel biru khusus dari Kantor Pemetaan Kota.

"Ini permintaan eksplorasi dan pencatatan ulang wilayah dari Departemen Geografi Delvarn," jelas Mira. "Mereka butuh tim Rank E atau Rank D untuk melakukan verifikasi batas wilayah dan memetakan vegetasi di area Lembah Perbukitan Barat Daya—sekitar dua kilometer di balik celah tempat ditemukannya gerbang batu tua kemarin."

Mira menatap Kaito dan Lysa. "Tugasnya adalah memetakan kontur tanah, memastikan tidak ada sarang monster baru, serta mencatat keberadaan reruntuhan tua yang mungkin masih terhubung dengan batas kota. Imbalannya seratus empat puluh keping tembaga."

Lysa melirik Kaito dengan mata berbinar. "Tugas eksplorasi dan pemetaan di perbukitan barat daya? Itu kan area yang pernah kita lewati sewaktu mengawal tim riset Tuan Nolan!"

Kaito mencerna rincian tugas tersebut secara rasional. Pemetaan wilayah perbukitan barat daya berada di kawasan terbuka yang sepi, cocok untuk menjaga rutinitas kerja tim mereka sekaligus memberi kesempatan untuk memeriksa garis perbatasan luar kota tanpa memicu keributan.

"Saya ambil tugas ini bersama Lysa," kata Kaito tegas seraya menyodorkan kartu guild milik mereka.

Mira membubuhkan stempel pengesahan pada lembar tugas tersebut. "Misi verifikasi peta perbukitan barat daya resmi dicatat atas nama Kaito Haru dan Lysa. Hati-hati di jalan, kalian berdua."

Kaito dan Lysa menerima lembar konfirmasi tugas, membalikkan badan, lalu melangkah bersama keluar dari gedung guild menuju gerbang barat daya Delvarn.

Jalan setapak perbukitan barat daya dinaungi oleh deretan pohon pinus tinggi yang berdiri rapat. Angin pagi bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah dan pinus yang segar. Rute ini relatif lengang dari aktivitas pedagang umum, hanya memperlihatkan beberapa patroli pos Oakhaven yang bergerak secara berkala.

Kaito melangkah stabil di sisi kanan jalan setapak, memegang tongkat kayunya dengan posisi sejajar pinggang. Lysa berjalan di sampingnya, memegang gulungan peta wilayah perbukitan yang baru diterimanya dari Mira. Langkah kaki sang pemanah terasa begitu ringan, dengan busur pendek di punggungnya yang berayun lembut mengikuti irama jalurnya.

"Verifikasi batas wilayah ini sebenarnya tugas yang santai," ujar Lysa seraya mengamati garis peta di tangannya. "Kita cuma perlu menandai tiga titik batas alam: alur sungai kecil di barat, ceruk pilar batu tua, dan lereng bawah dekat tebing hitam."

"Tugas yang rapi," sahut Kaito ramah. "Tidak ada target monster buruan khusus, cukup mencatat kondisi medan dan memastikan jalurnya aman."

Lysa menoleh ke arah Kaito, mengulas senyum manis yang hangat. "Dan yang paling penting, kita bisa melakukannya tanpa perlu terburu-buru. Setelah dua minggu berturut-turut berhadapan dengan Misi Pembersihan Lumer dan rombongan pedagang, berjalan santai begini rasanya menenangkan sekali."

Kaito menatap Lysa, merasakan kehangatan yang terpancar dari gestur sederhana tersebut. Ikatan tim yang terbangun di antara mereka kini terasa sangat alami. Lysa bukan lagi sekadar pemanah yang ia kenal sewaktu pengawalan Lumer pertama, melainkan seorang rekan tepercaya yang menghadirkan kenyamanan nyata di setiap perjalanannya di dunia Arethos.

"Kau suka suasana sepi seperti ini, Kaito?" tanya Lysa pelan, suaranya terdengar lembut di antara desir angin pinus.

"Iya," jawab Kaito tulus. "Tempat yang tenang membuat kita bisa berpikir lebih jernih dan menikmati perjalanan dengan lebih baik."

Lihat selengkapnya