Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #19

The Shadow of A Rising Storm

Lonceng besar di alun-alun kota Delvarn berdentang lima kali saat Kaito melangkah keluar dari rumah sewa milik Clara. Udara pagi bertiup segar dari arah perbukitan barat, membawa aroma tanah yang disiram embun dan wangi roti gandum yang baru dipanggang dari kios-kios lokal.

Kaito merapikan posisi jubah pengembaranya, memastikan kantong koin serta tongkat kayunya berada pada posisi yang nyaman sebelum melangkah menyusuri trotoar batu.

Suasana pasar pemukiman barat sudah mulai sibuk oleh pedagang lokal. Kaito mampir ke kios langganannya untuk membeli dua potong roti isi daging asap seharga tiga keping tembaga. Sembari menikmati sarapan ringannya, ia melangkah santai menuju pusat kota.

Setibanya di gedung Adventurer Guild, keriuhan di aula utama terasa sedikit berbeda. Beberapa rombongan pedagang besar dari wilayah ibu kota tampak berdiri berkumpul di depan meja informasi utama, berbincang serius dengan Veld dan beberapa staf senior guild.

Kaito membelah kerumunan dengan tenang, mengarahkan jalurnya menuju konter administrasi tempat Mira bertugas.

Lysa sudah berdiri di sana lebih dulu. Gadis pemanah itu tampak mengamati lembaran tugas baru yang baru saja dipasang di papan pengumuman khusus. Begitu mendengar langkah Kaito mendekat, Lysa menoleh dan mengulas senyum manis yang hangat.

"Selamat pagi, Kaito," sapa Lysa ceria.

"Selamat pagi, Lysa, Mira," balas Kaito tenang sembari menganggukkan kepala.

Mira mendongak dari tumpukan berkasnya, membalas sapaan Kaito dengan senyum lega. "Selamat pagi, Kaito. Senang melihatmu tepat waktu. Laporan verifikasi peta perbukitan barat daya yang kalian serahkan kemarin sore sudah disetujui oleh Departemen Geografi."

Mira mengambil dua keping koin perak dan empat puluh keping tembaga dari laci pembayaran, lalu menyerahkannya kepada Kaito dan Lysa. "Ini imbalan resmi seratus empat puluh keping tembaga untuk kalian berdua."

Lysa menerima bagian koinnya dengan gembira, mengantonginya ke dalam dompet kulit di pinggangnya. "Terima kasih, Mira!"

Kaito menyimpan bagian imbalannya dengan rapi. "Bagaimana dengan situasi di aula hari ini, Mira? Tampaknya ada banyak rombongan dari luar kota."

Mira menghela napas pendek, merendahkan intonasi suaranya. "Dampak dari pembukaan kembali rute timur Lumer. Meskipun jalan utama sudah dibersihkan dari kawanan Blight Wolf, lalu lintas perdagangan dari ibu kota meningkat sangat drastis. Akibatnya, permintaan pengawalan untuk jalur distribusi barang melambung tinggi."

Mira kemudian membentangkan selembar berkas penugasan baru berstempel emas dari Serikat Pedagang Ibu Kota. "Ini penawaran tugas pengawalan khusus skala menengah. Sebuah rombongan kereta kuda yang membawa barang-barang mewah dan bahan sihir butuh tim pengawal tambahan untuk perjalanan menuju Kota Perbatasan Oakhaven melalui rute selatan."

Lysa memajukan tubuhnya sedikit, menatap lembar tugas tersebut dengan rasa ingin tahu. "Pengawalan bahan sihir ke Oakhaven? Imbalannya berapa, Mira?"

"Tiga ratus keping tembaga per tim," jawab Mira tegas. "Tugasnya adalah menjaga lima kereta kuda utama dari potensi gangguan kelompok penyamun atau monster perbukitan liar yang tertarik dengan bau bahan sihir."

Kaito mencerna rincian tugas tersebut secara cermat. Pengawalan rombongan pedagang ibu kota menuju Oakhaven memberikan imbalan yang sangat besar, berada di rute selatan yang aman, serta dikawal oleh beberapa tim petualang lain. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk memperkokoh tabungan keuangannya sekaligus menjaga rekam jejak timnya di guild.

"Kami ambil tugas ini, Mira," kata Kaito tegas seraya menatap Lysa untuk meminta konfirmasi.

Lysa mengangguk mantap dengan binar mata yang penuh rasa percaya. "Tentu saja! Kita ambil tugas ini bersama."

Persiapan rombongan pedagang dari ibu kota berlangsung sibuk di pelataran luas dekat gerbang selatan Delvarn. Lima gerobak kayu besar berdinding tebal dan dilapisi terpal bertulisan segel Serikat Pedagang terparkir rapi. Setiap gerobak ditarik oleh dua ekor kuda tegap, bermuatan kotak-kotak kayu berisi instrumen sihir, batu kristal mentah, serta kain sutra mahal yang akan didistribusikan ke wilayah perbatasan Oakhaven.

Seorang pria paruh baya mengenakan mantel bulu mewah berpola gandum—sang penanggung jawab rombongan bernama Tuan Banting—tampak sibuk memberikan instruksi terakhir kepada para kusir.

Kaito dan Lysa melangkah mendekati area perakitan rombongan. Di sana, tiga tim petualang lain sudah berkumpul. Dua di antaranya adalah tim Rank D berpengalaman yang membawa zirah besi lengkap, sementara satu tim lagi merupakan pasangan pemanah Rank E lokal.

Lysa menunjuk ke arah gerobak ketiga yang berada di barisan tengah. "Kaito, posisi kita ada di pengawalan sayap kanan gerobak ketiga dan empat."

"Posisi yang sangat ideal," sahut Kaito tenang seraya memegang tongkat kayunya. "Sisi kanan berbatasan langsung dengan lereng perbukitan rendah, jadi kita bisa memantau pergerakan monster liar dari jarak jauh."

Tuan Banting berjalan menghampiri para petualang pengawal, mengamati kesiapsiagaan Kaito dan Lysa. "Kalian tim Kaito dan Lysa yang direkomendasikan oleh Mira?"

"Benar, Tuan Banting," jawab Lysa ramah seraya menepuk tempat anak panahnya. "Kami siap mengamankan muatan hingga ke Oakhaven."

Tuan Banting tersenyum lega, mengamati penampilan Kaito yang tenang dengan tongkat kayu sederhananya. "Bagus. Muatan gerobak nomor tiga dan empat memuat kristal pemancar sihir yang cukup sensitif. Asal tidak ada guncangan keras atau serangan mendadak, perjalanan kita bakal aman."

Rombongan lima gerobak tersebut mulai bergerak melintasi pintu gerbang selatan Delvarn. Derap langkah kuda dan roda gerobak yang berderut di atas jalan tanah kering memecah keheningan perbukitan selatan.

Kaito dan Lysa mengambil posisi berjalan di sisi kanan gerobak ketiga. Kaito melangkah dengan irama fisik yang stabil, matanya mengamati garis semak-semak di lereng bukit. Lysa berjalan di sisinya, sesekali memeriksa kerapian bulu anak panahnya.

"Perjalanan ke Oakhaven kali ini rasanya jauh lebih ramai dibanding saat kita mengawal Pak Varner kemarin," ujar Lysa pelan, melirik ke arah Kaito.

"Karena nilai muatan barang ibu kota ini jauh lebih tinggi," balas Kaito tulus. "Tapi pola pengawalannya tetap sama. Kita fokus pada perimeter kita sendiri."

Lihat selengkapnya