Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #20

The Threat Beyond The Perimeter

Debu batu kapur yang membumbung tinggi perlahan mengendap di celah lembah. Bau hangus asam dan cairan kristal sihir yang pecah masih tercium samar di sekitar dua gerobak logistik. Meskipun bangkai Cave Crusher sepanjang delapan meter telah tergeletak kaku di tanah berkerikil, ketegangan di antara rombongan pengawal pedagang ibu kota belum sepenuhnya memudar.

Tuan Banting menyeka keringat dingin di dahinya, berjalan perlahan mendekati Kaito dan Lysa. Di belakangnya, dua petualang Rank D yang sempat terhempas kibasan ekor cacing raksasa sedang membantu mengikat kembali tali penutup terpal gerobak nomor empat.

"Kalian berdua..." Tuan Banting menarik napas panjang, menatap Kaito dengan mata membelalak heran. "Sihir anginmu sanggup menghentikan tumpuan cacing raksasa seberat itu? Dan tembakan panah milikmu..."

Lysa menyarungkan busur pendeknya ke punggung, mengulas senyum tipis yang hangat. "Sihir Kaito memotong momentum terjangannya tepat saat bagian bawah lehernya terbuka. Tanpa bantuan dorongan udaranya, anak panah saya tidak akan bisa menembus celah sisiknya."

Petualang veteran berzirah besi yang memimpin barisan depan melangkah mendekati mereka, menatap bangkai Cave Crusher lalu beralih memandangi tongkat kayu di tangan Kaito.

"Bukan sekadar Gust biasa," puji petualang veteran itu tegas. "Kapasitas kontrol dan timing pelepasan sihirmu sangat matang untuk seorang penyihir Rank E. Jika pusaran anginmu terlambat setengah detik saja, gerobak nomor tiga sudah hancur dihantam rahangnya."

Kaito merapikan jubah pengembaranya, menanggapi pujian tersebut dengan raut tenang khas dirinya. "Saya hanya memanfaatkan momentum saat kepalanya terangkat. Yang terpenting adalah muatan kristal sihir milik Tuan Banting tetap utuh."

"Pola pikir yang sangat bagus," puji Tuan Banting seraya menepuk bahu Kaito pelan. "Setelah sampai di Oakhaven nanti, aku bakal memastikan nama tim kalian mendapat rekomendasi khusus di kantor cabang guild."

Namun, di tengah kelegaan rombongan pedagang yang mulai membenahi posisi kuda penarik, Kaito tetap memegang tongkat kayunya secara stabil.

Pandangannya tertuju lurus ke puncak tebing hitam yang menjulang di sisi kanan lembah. Dari ketinggian tersebut, kapasitas mana mutlak milik Kaito secara samar mengindera sebuah riak energi tak kasatmata yang sedang memancar rendah. Kehadirannya tidak membawa hawa pembunuh yang kasar seperti monster liar, melainkan pendaran sihir pemantau yang dingin dan sangat terstruktur.

"Ada yang tidak beres di atas sana, kan?"

Suara Eira mendadak bergema di dalam kepala Kaito, dibawakan dengan intonasi santai namun tersirat pengamatan yang jeli.

Kaito tidak merubah arah pandangannya, merespons sang dewi secara intuitif di dalam benak. Kamu juga merasakannya?

"Tentu saja," sahut Eira terkekeh samar. "Riak sihir di puncak tebing itu bukan milik monster perbukitan biasa. Itu sihir pengintai yang sengaja dipasang untuk memicu pergerakan cacing tanah tadi ke arah jalan utama."

Kaito mencerna analisis Eira. Kemunculan Cave Crusher dari bawah tanah tepat di dekat gerobak yang membawa kristal sihir sensitif rupanya bukanlah insiden kebetulan semata. Ada pihak luar yang sengaja memancing monster perbukitan untuk menguji tingkat pertahanan rute selatan kota Delvarn.

Lysa menyadari tatapan Kaito yang tertahan ke arah tebing. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping bahu kiri Kaito dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu.

"Kaito? Kau melihat sesuatu di atas sana?" bisik Lysa pelan.

Kaito menoleh ke arah Lysa, mengulas senyum ramah yang menenangkan. "Tidak ada ancaman langsung. Hanya sisa angin yang membentur tebing. Mari kita pastikan rombongan gerobak segera bergerak sebelum ada monster lain yang mendekat."

Lysa mengangguk tulus, membalas senyuman Kaito dengan kehangatan yang utuh. "Baiklah. Kita selesaikan perjalanan ini."

Rombongan lima gerobak pedagang ibu kota kembali bergerak menyusuri celah lembah batu kapur, melanjutkan perjalanan mereka menuju Kota Perbatasan Oakhaven di bawah naungan sinar matahari siang yang cerah.

Sisa perjalanan menyusuri rute perbukitan selatan berlangsung dalam kewaspadaan penuh. Tuan Banting dan para kusir tidak lagi membiarkan jarak antar-gerobak terpisah terlalu jauh, sementara dua tim Rank D di barisan depan memperketat penyisiran pada setiap belokan tebing.

Kaito dan Lysa tetap menjaga posisi pengawasan di sayap kanan. Langkah kaki Lysa berada di depan, sementara Kaito berjalan tepat di sampingnya, memosisikan diri untuk menutup sudut buta sang pemanah tanpa membatasi ruang pandangnya.

"Terima kasih untuk yang tadi, Kaito," kata Lysa pelan saat mereka melintasi alur sungai kecil di tepi jalan.

Kaito menoleh sedikit. "Untuk apa?"

"Untuk reaksi cepatmu," sahut Lysa seraya menatap lurus ke jalan di depan, rona merah halus bersemi samar di pipinya. "Sewaktu Cave Crusher itu mencuat dari tanah, kau tidak melompat mundur untuk menyelamatkan diri sendiri. Kau melangkah maju menutupi posisiku dan memberi aba-aba yang sangat jelas. Bertarung di sampingmu membuatku merasa tidak pernah ragu melepaskan anak panah."

Kaito menatap Lysa, merasakan kehangatan yang mendalam dari penuturan tulus rekannya. "Itu kewajiban sebagai rekan satu tim, Lysa. Saya mempercayai ketepatan tembakanmu, sebagaimana kau mempercayai sihir angin saya."

Lihat selengkapnya