Reincarnated Beyond the World's Limit by Lazy Goddess

Lyneetra
Chapter #22

The Echoes Of Arethos

Matahari pagi belum sepenuhnya membakar embun di atas atap kayu kota Delvarn saat Kaito melangkah keluar dari rumah sewa milik Clara. Udara dingin berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan asap kayu bakar yang menguar dari perapian rumah-rumah warga.

Kaito merapikan posisi jubah pengembaranya. Tongkat kayu sederhana yang kini menjadi ciri khasnya tergenggam santai di tangan kanan, sementara dompet kulit berisi kepingan uang hasil misi kemarin terikat mantap di pinggang. Setelah berpamitan singkat dengan Clara dan Henk di pelataran bawah, ia melangkah menyusuri trotoar batu menuju pasar pemukiman barat.

Kaito membeli dua potong roti isi daging asap hangat seharga tiga keping tembaga di kios langganannya. Sembari menikmati sarapan ringannya, ia melangkah santai membelah lorong-lorong Delvarn yang mulai dihidupkan oleh aktivitas warga lokal.

Gedung Adventurer Guild tampak riuh seperti biasa. Namun, tidak ada lagi ketegangan darurat yang membayangi aula utama. Suksesnya pembongkaran markas ekstraksi sihir ilegal di dekat perbatasan Oakhaven kemarin sore membuat situasi rute selatan kembali stabil. Para petualang muda sibuk memilah lembaran tugas harian di papan pengumuman umum, sementara beberapa kelompok veteran berbincang santai di dekat meja kayu.

Kaito membelah kerumunan dengan langkah tenang, mengarahkan jalurnya menuju konter administrasi.

Lysa sudah berdiri di sana lebih dulu. Gadis pemanah berambut pirang terikat kuncir kuda itu mengenakan zirah kulitnya yang rapi, membawa dua cangkir teh herbal hangat dari kedai guild. Begitu mendengar derap langkah Kaito mendekat, Lysa menoleh dan senyum manis yang hangat mengembang di wajahnya.

"Selamat pagi, Kaito!" sapa Lysa ceria seraya menyodorkan salah satu cangkir teh hangat kepada Kaito.

Kaito menerima cangkir tersebut, membalas senyuman rekannya. "Selamat pagi, Lysa, Mira. Terima kasih tehnya."

Mira yang berada di balik meja konter mendongak dari tumpukan berkasnya, membalas sapaan Kaito dengan raut lega. "Selamat pagi, kalian berdua. Laporan penangkapan jaringan ekstraksi sihir ilegal kemarin sudah diteruskan ke Markas Besar Guild di ibu kota. Pimpinan guild memberikan apresiasi khusus atas ketepatan tindakan dan laporan kalian."

Mira kemudian mengambil selembar dokumen resmi berstempel emas dari laci meja. "Ini surat konfirmasi pembaruan kontrak patroli pengawasan wilayah perbatasan. Karena ancaman utama sudah dilumpuhkan, tugas kalian minggu ini berfokus pada patroli rutin di sektor barat daya dan perbukitan selatan. Imbalannya tetap dua ratus lima puluh keping tembaga per minggu."

Lysa melirik Kaito dengan binar mata yang cerah. "Patroli rutin di perbukitan? Itu artinya kita punya waktu untuk menyisir jalanan sambil menikmati pemandangan."

"Tugas yang sangat teratur dan tidak memicu ketegangan berlebihan," sahut Kaito ramah seraya menyerahkan kartu guild miliknya untuk distempel.

"Namun," potong Mira dengan intonasi yang sedikit merendah, menatap Kaito dan Lysa secara bergantian, "ada satu hal kecil yang perlu kalian waspadai di sektor barat daya."

Lysa menaruh cangkir tehnya di meja. "Ada laporan bahaya baru, Mira?"

Mira menggeleng pelan. "Bukan bahaya monster. Pihak Departemen Pemetaan melaporkan adanya riak gelombang sihir pasif yang muncul kembali di sekitar celah tebing hitam—lokasi tempat gerbang batu tua yang kalian verifikasi beberapa hari lalu. Tim peneliti ingin kalian memeriksa apakah ada kerusakan struktur atau tanda-tanda intervensi luar."

Kaito mendengarkan penuturan Mira dengan raut tenang. Gelombang sihir pasif di tebing hitam tersebut sangat mungkin merupakan efek lanjutan dari Castle Magic kuno yang sebelumnya sempat ia rasakan.

"Kami akan menyertakan pemeriksaan area tebing hitam dalam rute patroli hari ini, Mira," kata Kaito tegas.

"Bagus sekali. Hati-hati di jalan, Kaito, Lysa," balas Mira seraya menandatangani berkas penugasan.

Kaito dan Lysa menghabiskan teh hangat mereka, membalikkan badan, lalu melangkah bersama membelah aula guild menuju pintu keluar, siap memulai rute patroli perbatasan sektor barat daya.

Jalur perbukitan barat daya dinaungi oleh deretan pohon pinus tinggi yang berdiri rapat di sepanjang lereng batu kapur. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma tanah basah serta kesegaran dedaunan yang disiram embun.

Kaito dan Lysa melangkah berdampingan menyusuri jalan setapak berkerikil. Derap langkah boots mereka terdengar teratur. Lysa menggenggam busur pendeknya dengan posisi santai di samping pinggang, sementara Kaito memegang tongkat kayu sederhananya.

"Pemeriksaan area tebing hitam ini sebenarnya tugas yang cukup menarik," ujar Lysa membuka percakapan, menoleh ke arah Kaito dengan binar mata yang cerah. "Sudah beberapa hari sejak kita memetakan titik ini bersama laporan Tuan Nolan, tapi riak sihirnya malah dilaporkan muncul kembali oleh Departemen Pemetaan."

Lihat selengkapnya