Cahaya fajar menembus tirai tipis kamar dua lantai milik Kaito di pemukiman barat Delvarn.
Udara pagi bertiup sejuk dari perbukitan, membawa wangi roti gandum hangat dan kaldu sapi yang mulai mendidih di dapur Clara di lantai bawah.
Kaito membasuh mukanya dengan air bersih, merapikan jubah pengembaranya, lalu mengikat dompet kulit dan tongkat kayu sederhananya. Setelah berpamitan ramah dengan Clara dan Henk di pelataran rumah, Kaito menyusuri trotoar batu menuju pasar barat. Ia membeli dua potong roti isi daging asap hangat seharga tiga keping tembaga di kios langganannya, menyantapnya santai sembari melangkah menuju pusat kota.
Aula utama Adventurer Guild pagi ini mengalir dalam suasana hangat yang menyenangkan.
Keberhasilan tim Kaito dan Lysa membongkar jaringan ekstraksi sihir ilegal di perbatasan Oakhaven dua hari lalu telah membuat rute perdagangan selatan kembali ramai tanpa gangguan.
Di dekat meja konter administrasi, Lysa sudah menunggu dengan zirah kulitnya yang rapi dan busur pendek di punggung.
Saat mendengar derap langkah Kaito mendekat, pemanah wanita berambut pirang itu menoleh dan menyambutnya dengan senyum cerah.
"Selamat pagi, Kaito!" sapa Lysa.
"Selamat pagi, Lysa, Mira," balas Kaito tenang sembari menganggukkan kepala.
Mira yang berada di balik konter menyerahkan lembar konfirmasi penugasan baru. "Pagi, Kaito, Lysa. Ini lembar tugas pengawalan bahan pangan ke wilayah timur yang kalian minta kemarin sore. Rombongan Tuan Dolf bersiap di gerbang timur, imbalannya seratus delapan puluh keping tembaga."
Lysa mengambil lembar tugas tersebut dengan binar gembira. "Terima kasih, Mira!"
Namun, sebelum mereka melangkah berbalik, pintu utama aula guild terbuka. Garrick melangkah masuk bersama dua petualang veteran berzirah tebal. Pria berbadan besar itu menyapu pandangan ke sekeliling aula, lalu tersenyum lebar begitu melihat Kaito dan Lysa.
"Kaito! Lysa!" panggil Garrick dengan suaranya yang berbobot, berjalan menghampiri konter. "Aku baru kembali dari pos patroli timur Lumer subuh tadi. Mira sudah menceritakan soal keberhasilan kalian membongkar markas ekstraksi ilegal di perbatasan selatan."
Garrick menepuk bahu Kaito dengan ramah. "Kerja yang sangat solid! Tidak salah aku merekomendasikan kalian sebagai pasangan tim resmi di guild."
"Terima kasih, Garrick," balas Kaito tulus. "Bagaimana kondisi di pos perbatasan Lumer?"
"Sangat terkendali," sahut Garrick lega. "Jalur perdagangan timur sudah dibuka penuh sejak kemarin. Tim Rank C berhasil memastikan area bekas tambang utara bersih dari sisa monster."
Lysa melirik Garrick dengan senyum tipis. "Berarti tugas Garrick di garis depan sudah tuntas?"
"Sudah! Dan malam ini kelompok senior kami mau merayakannya di kedai persimpangan pasar barat," kekeh Garrick. "Kalian berdua wajib datang setelah menyelesaikan pengawalan Dolf hari ini. Aku yang bayar sup dagingnya!"
Kaito dan Lysa saling melempar pandangan, lalu mengangguk setuju. "Kami pasti datang, Garrick," sahut Kaito ramah.
Dengan senyuman hangat dan semangat yang membuncah, Kaito dan Lysa melangkah keluar dari gedung guild menuju gerbang timur Delvarn untuk memulai tugas pengawalan mereka di bawah naungan langit pagi yang cerah.
Matahari memanjat naik menembus gugusan awan tipis di atas gerbang timur Delvarn, menyirami rute jalan batu yang kembali dihidupkan oleh deru roda gerobak dan langkah kaki para pengembara. Udara perbukitan timur berembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan pinus dari arah hutan Lumer.
Rombongan Tuan Dolf terdiri dari tiga gerobak kayu bermuatan bahan pangan kering—terigu, garam, dan daging asap yang hendak dikirim untuk mendukung pasokan logistik warga serta tim patroli di Desa Lumer. Dolf, sang pedagang paruh baya berwajah ramah, berdiri di dekat gerobak terdepan sembari mengawasi dua kusirnya merapikan tali penutup terpal.