Menghajar Para Perampok
Budaya Dallo’, istilah budaya Tohucak Kodiring, Jihpon Desa’, asal-usul alam semesta, serta kisah tentang Inai Songuman memang berakar dari tradisi nyata.
Namun, dalam tulisan ini penulis melakukan modifikasi agar alurnya sesuai dengan kebutuhan cerita dan tidak sepenuhnya sama dengan versi aslinya.
Hal ini penting agar pembaca memahami bahwa kisah yang disajikan bukanlah dokumentasi etnografi murni, melainkan karya sastra yang terinspirasi dari kekayaan budaya tersebut.
…
Di lain saat pandangan Shinta membentur sesosok tubuh yang terikat di sebuah tiang dari kayu belian atau kayu besi khas Kalimantan, yang ukurannya sebesar dua kali pelukan orang dewasa. Sosok yang terikat itu adalah tubuh seorang wanita.
Dan ketika dia perhatikan dengan seksama, ternyata Shinta mengenali wajah wanita itu.
Hah?
"Kak Paskalia...! Kak Paskalia...!" teriaknya kaget dan khawatir. "Mengapa tubuhmu terikat?"
Tapi anehnya, Paskalia seperti tidak mendengar panggilannya. Dan lebih aneh lagi, orang-orang yang ramai berkerumun itupun tidak ada yang mendengar suaranya.
Shinta berusaha berlari ke tempat Paskalia terikat. Tapi kedua kakinya terasa tidak mampu lagi digerakan lebih dekat. Bagaimanapun dia mencoba, tetap tidak bisa. Akhirnya dia hanya bisa menatap Paskalia yang terikat tidak berdaya di tiang itu.
Beberapa saat kemudian, tampak kerumunan orang itu mengangkat tubuh Paskalia yang masih terikat dan membawanya ke suatu arah. Anehnya, justru pada saat itu Shinta mendapati kakinya kembali bisa digerakkan.
Tanpa ragu dan tanpa menunggu lebih lama, ia pun segera melangkah mengikuti jejak rombongan itu, berusaha menyingkap ke mana mereka akan membawa Paskalia.
Rupanya tubuh Paskalia di bawa menuju sebuah lubang yang cukup dalam. Lubang itu masih baru, karena tampak jelas tanahnya masih berwarna kuning kemerahan. Lebarnya sekitar satu meter dan dalamnya sekitar empat meter jika diukur dengan ukuran sekarang.
Kemudian kerumunan orang itu lalu bersorak sorai dan mengeluarkan kata-kata dalam sebuah Bahasa daerah yang sama sekali tidak di mengerti oleh Shinta.
Mereka juga melakukan gerakan seperti sebuah tarian perang. Mereka berteriak riuh rendah, di pinggang tergantung mandau dengan segala asesoriesnya. Tangan mereka ada yang memegang perisai dan ada juga yang menenteng tombak pusaka.
Semuanya tampak waspada dan beringas. Lalu mereka secara beramai-ramai membuat gerakan mengelililingi lobang besar itu sebanyak tujuh kali, diiringi sebuah alunan suara dengan Bahasa yang asing tadi dengan nada panjang dan diakhiri sebuah pekikan serentak yang keras membahana.
Tak lama kemudian tubuh Paskalia dilemparkan ke dalam lubang itu dan saat berikutnya beberapa orang laki-laki dengan tubuh kekar mengangkat sebuah tiang yang sebesar tiga kali pelukan orang dewasa dan panjangnya lebih dari tiga gagang tombak.