Reinkarnasi Cinta Rain

Dingu
Chapter #4

Tak Terima

Sosok wanita berumur 22 tahun tak luput dari pandangan Gina. Dirinya sejak tadi menemani wanita yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu dan kini memilih tidur sejak tadi. Mungkin karena obat bius yang terimanya membuatnya belum sadarkan.

Gina tak henti melafazkan doa dari mulutnya untuk sang adik. Kandungan yang baru saja berumur delapan bulan harus dikeluarkan secara tiba-tiba karena takut akan kondisi sang ibu dan bayi. Bahkan tadi sempat dokter menyuruh suami dari adiknya untuk memilih salah satu dari mereka. Betapa takutnya adik iparnya tadi menyuruh dirinya memilih antara sang istri dan anak. Syukurlah semua berjalan lancar dan keduanya selamat.

Kini sang ibu sedang tidur, di sana sang anak berjuang dengan alat medis di seluruh badannya terutama bagian mulutnya. Bahkan Gina yang menjadi seorang bibi kini sedih melihat sang ponakan yang harus diletakkan dalam sebuah indikator yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Dibiarkan selama beberapa hari untuk pemulihan sang bayi.

Namun dibalik semua itu, ada satu yang membuat Gina sangat penasaran dan aneh. Di mana sang bayi yang mirip seperti wajah Rain yang sudah tiada ditambah lagi dirinya juga melahirkan secara prematur ketika kehamilannya memasuki bulan ke delapan. Ini semua hanya kebetulan atau sekadar salah liat karena bayi terlihat sama walaupun berbeda.

Bunyi dorongan pintu tak berhasil membuat Gina berpaling dari sosok adiknya. Dia sungguh tau rasanya melahirkan secara caesar karena dirinya juga pernah alaminya sendiri.

"Gin, ini makan dulu yah. Katanya mas Roni kamu belum makan yah? Kamu boleh kok jagain Fina, tapi jangan lupa sama kondisi kesehatan mu. Apalagi ku dengar sejak kemarin kamu belum makan apapun kecuali air mineral," perintah seseorang dari arah belakang.

Ternyata itu Mirna dan suaminya yang datang menjenguk sang shabat. Mirna menghampiri Gina setelah meletakkan beberapa makanan di atas meja samping pasien. Dirinya berdiri di samping si sahabat.

"Aku tau kamu merasakan apa yang di rasakan Fina. Aku sangat ingat di mana kita sama-sama berjuang melahirkan anak kita secara bersamaan, walaupun disitu aku melahirkan secara normal sedangkan kamu secara caesar. Perkiraan sebulan lagi malah ternyata lebih cepat dari perkiraan, kita berjuang sama-sama di rumah sakit yang sama tapi dengan cara berbeda. Aku ingat saat kamu sadar dan langsung teringat akan anakmu yang sedang dalam pemulihan," lanjut Mirna dengan mengingat kenangan mereka melahirkan secara bersamaan.

"Entahlah Mir, rasanya semua ini tidak masuk akal dan membuat ku. Sebulan lalu aku kehilangan anak semata wayang ku dan sekarang aku hampir kehilangan adik yang ku miliki dan anaknya. Rasanya begitu takut melihat kondisi kemarin yang tiba-tiba merasakan kontraksi dan semua itu mengingat kan ku kepada anakku yang aku lahirkan dengan cara yang sama. Ditambah melihat ponakan ku yang masih di dalam indikator membuat ku teringat ketika aku menangis melihat anakku juga pernah di dalamnya. Semua ini membuatku bingung dan takut," nangis Gina tak henti-henti.

Mirna hanya diam dan membiarkan sang shabat mengeluarkan tangisannya yang pilu itu. Dirinya tau kalau Gina memendam semuanya sejak kemarin malam demi adik iparnya yang butuh dukungan darinya yang sebagai Kakak ipar. Sungguh lebih mementingkan kondisi orang lain dibandingkan diri sendiri.

Lihat selengkapnya