Suara kemarahan di pagi hari membuat para tetangga memilih diam dan melanjutkan kegiatannya yang sedang dilakukan. Mereka sudah biasa mendengar suara gaduhan di rumah nuansa warna putih itu, setiap pagi tak ada hentinya suara kegaduhan. Terlihat seorang anak kecil yang berumur 5 tahun keluar dari rumah tersebut dengan diikuti dua wanita separuh baya. Yang satunya membawa sapu dan yang satunya hanya melihat sambil tertawa melihat tingkah mereka.
Anak kecil itu berlari ke sebrang rumah tanpa memperdulikan panggilan wanita yang membawa sapu tersebut. Dia hanya tertawa melihat kemarahan sang ibu yang sudah memuncak. Sedangkan sang bunda hanya tertawa melihat kelakuan anak kandungnya itu.
"Kamu kok cuman ketawa sih, liat itu anak mu. Bandel sekali, pagi-pagi sudah pergi ke rumah Mirna. Alasannya apa? Rindu sama Mas Angga," kesel Gina.
"Mbak, sudahlah namanya juga anak kecil. Dia persis sama seperti Rain kita yah mbak, bandelnya bahkan wajahnya mirip seperti Rain. Inget ga waktu Rain masih umur 1 tahun. Dia dikira almarhum Rain punya kembaran gara-gara mirip seperti anak mbak. Ternyata sudah lima tahun yah mbak, semoga Rain bahagia dan tersenyum melihat semua ini," ucap Fina.
"Kamu bener Fin, rasanya aku jadi seorang ibu lagi waktu tiba-tiba Rain panggil ibu ke aku. Rasanya aku bahagia bisa mengegam anak itu, anak yang persis sekali denganku. Makasih yah Fin, udah melahirkan anak seperti Rain. Rinduku kepadanya rasanya terbalas kan," sendu Gina dan memeluk Fina.
Fina hanya menenangkan mbaknya itu. Setiap pagi dia akan sedih ataupun ketika melihat tingkah anaknya yang mirip seperti keponakannya yang sudah tiada. Fina juga merasakan rindu yang dalam walaupun dirinya tau bahwa anak yang dia lahir kan lima tahun lalu adalah Rain, ponakan kesayangannya.
Mbak, dia anakmu. Rain si pencuri mangga Pak RT walaupun Rain yang sekarang juga begitu. Dia anakmu mbak yang ku lahir kan lima tahun lalu, batin Fina.
Sedangkan di sebrang perumahan mereka bunyi nyaring dari anak kecil perempuan yang baru saja keluar dari rumah Gina dan Fina terdengar. Bahkan penghuni rumah hanya diam dan tersenyum melihat tingkah lakunya. Tingkah laku yang mirip seperti seseorang yang sudah pergi lima tahun yang lalu.
"Mama, papa. Mana mas Angga?" tanya Rain dengan antusiasnya.
"Ada di atas lagi siap-siap mau ke sekolah. Rain sudah sarapan?" tanya Hiro lembut sambil melipat koran yang baru saja dia baca.