Reinkarnasi Sang Dokter

Best Siallagan
Chapter #1

Kematian yang Ditolak

dr. Arya Dewangga membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran wastafel ruang jaga. Di cermin yang sedikit buram, bayangan dirinya yang tampak kusut dengan kantung mata menghitam balas menatap. Sebagai dokter residen yang berjaga di IGD malam itu, kelelahan fisik sudah menjadi makanannya sehari-hari. Pandangannya sempat beralih ke atas meja kecil di sudut toilet—sebuah kantong plastik berisi tumpukan kotak susu kotak dan biskuit cokelat yang sudah ia siapkan untuk anak-anak Panti Asuhan Kasih Ibu. Malam ini ada janji yang harus ia tepati setelah sifnya berakhir.

"Dokter Arya! Ada pasien darurat, rujukan kecelakaan atau jatuh dari ketinggian, ambulans baru saja masuk!" Suara ketukan keras di pintu memutus lamunannya. Itu Suster Nisa, perawat senior IGD.

"Iya, Sus. Saya keluar," sahut Arya, segera mengeringkan tangan dan bergegas menuju selasar depan.

Pintu belakang ambulans terbuka lebar, membawa aroma anyir darah yang langsung menusuk hidung. Di atas tandu, seorang pria tua bertubuh kurus tak sadarkan diri. Pakaian batiknya yang bermotif parang kuno robek di berbagai tempat, basah oleh cairan lambung dan noda darah yang menghitam. Dada pria itu kembang kempis secara tidak beraturan, memuntahkan busa bercampur serpihan jaringan halus dari tenggorokannya.

Arya langsung mengambil alih, ikut mendorong tandu dengan cepat menuju kubikel resusitasi. "Sus, pasang monitor, siapkan intubasi dan panggil dokter spesialis bedah on-call sekarang! Dia syok berat," perintah Arya sembari memeriksa refleks pupil pasien dengan senter medisnya.

Kondisi pasien sangat kritis, tekanan darahnya merosot tajam. Namun, di tengah kepungan peralatan medis yang mulai berbunyi nyaring, sepasang mata kakek itu mendadak terbuka lebar. Kornea matanya yang keruh mengunci pandangan Arya dengan intensitas yang tidak biasa untuk ukuran orang sekarat.

"Jangan... jangan biarkan mereka membawa saya kembali ke bawah..." bisik pria tua itu. Suaranya serak, bergetar oleh ketakutan yang murni.

"Tenang, Kek. Anda ada di rumah sakit sekarang. Kami akan bantu," ucap Arya menenangkan, memosisikan dirinya sebagai tenaga medis yang sigap.

Lihat selengkapnya