Reinkarnasi Sang Dokter

Best Siallagan
Chapter #2

Dingin yang Mengkhianati

Sentakan beruntun menghantam dada Arya. Keras, ritmis, dan bertenaga. Sebagai seorang dokter, dia tahu betul ini adalah pijat jantung—sebuah upaya terakhir untuk memompa kehidupan yang hampir menguap dari raganya. Seseorang sedang berjuang menyelamatkannya di dalam ambulans yang berguncang hebat.

Namun, ada jurang pemisah yang mengerikan antara kesadaran batinnya dan realitas fisiknya.

Arya bisa mendengar kepanikan di sekitarnya. Dia mendengar isak tangis Suster Nisa yang pecah, juga napas dr. Pandu yang memburu kelelahan. Dia ingin membantu mereka. Dia ingin menggerakkan ujung jemarinya, mengedipkan kelopak matanya, atau sekadar melepaskan lenguhan kecil dari tenggorokan untuk memberi tahu mereka: Aku masih di sini! Jangan berhenti!

Namun, tubuhnya menolak patuh. Sistem sarafnya seperti terputus total. Di bawah analisis medisnya yang masih jernih, Arya menyadari kengerian ini; dia berada dalam kondisi mati suri ekstrem. Trauma hantaman truk kontainer membuat seluruh tanda vitalnya turun ke titik yang tidak bisa dideteksi oleh alat medis standar. Detak jantungnya terlalu lemah, napasnya terlalu tipis, membuat tubuhnya menyerupai seonggok daging mati.

Pandu, periksa arteri karotisku sekali lagi. Tolong, raba sedikit lebih lama...

"Hentikan kompresi," suara dr. Pandu terdengar serak, disusul bunyi hantaman tinju pada dinding ambulans. "Selesai. Waktu kematian, pukul dua puluh empat puluh lima."

Kata itu—kematian—menghantam batin Arya lebih menyakitkan daripada besi truk yang meremukkan dadanya. Harapannya runtuh seketika saat merasakan tubuhnya diangkat, digeser, lalu ditinggalkan di atas permukaan yang keras. Suara raungan sirene yang menemaninya sejak tadi mendadak mati. Keheningan yang sunyi dan asing mulai merayap.

Dia tahu ambulans sudah tiba di rumah sakit. Tempat kerjanya sendiri.

"Bagaimana bisa Arya pergi mendadak seperti ini?"

Lihat selengkapnya