Dengung konstan dari mesin kompresor peti es menjadi satu-satunya melodi yang menemani kesunyian Arya. Rasa dingin yang awalnya menggigit kini berubah menjadi mati rasa yang mutlak. Pikirannya, yang terisolasi di dalam tempurung kepala yang membeku, mulai berhalusinasi. Antara sadar dan tidak, dia merasa jiwanya perlahan terkikis, bersiap melebur dengan keheningan abadi.
Blek.
Bunyi klik kunci besi memecah keheningan itu. Sentakan kecil terasa ketika penutup kaca peti mati esnya digeser terbuka. Detik berikutnya, gelombang udara hangat—yang terasa seperti membakar kulit wajahnya yang beku—menerobos masuk, membawa serta aroma kelopak bunga mawar, melati, dan wewangian kapur barus yang pekat.
Bersamaan dengan itu, suara musik pemakaman yang syahdu bergaung samar lewat pengeras suara ruangan.
"Arya... kenapa kamu harus pergi secepat ini, Nak?"
Suara parau yang sarat akan kedukaan itu seketika memicu sentakan emosi di dalam batin Arya. Itu suara Ibu panti. Diikuti oleh suara langkah kaki kecil yang ragu-ragu, bersahut-sahutan mendekati sisi petinya.
"Ibu... Dokter Arya cuma tidur, kan? Katanya malam ini mau bawain kita es krim cokelat..." Isak tangis seorang anak perempuan memecah ketegangan. Itu suara Salsa, salah satu anak panti asuhan yang paling dekat dengannya.