Reinkarnasi Sang Dokter

Best Siallagan
Chapter #4

Detik-Detik Menuju Abu

Guncangan mobil ambulans akhirnya berhenti. Arya bisa mendengar suara pintu belakang yang dibuka paksa, disusul oleh derit engsel tandu roda yang diturunkan ke atas permukaan semen. Udara luar yang menyusup ke dalam celah peti tidak lagi terasa sejuk, melainkan kering, gersang, dan membawa aroma samar jelaga yang sangat pekat.

Arya tahu persis di mana dia berada sekarang. Kompleks krematorium kota.

"Peti nomor empat, atas nama Arya Dewangga. Berkasnya sudah lengkap, langsung proses saja karena antrean hari ini cukup padat," suara petugas administrasi terdengar renyah, memperlakukan namanya tak lebih dari sekadar angka antrean.

Sepasang tangan kekar mulai mengangkat raga lumpuh Arya dari dalam peti es, memindahkannya ke atas sebuah dipan besi panjang yang terasa dingin dan keras. Kain kafan tipis dibentangkan di atas tubuhnya. Arya bisa merasakan setiap sentuhan itu, tetapi cangkang dagingnya tetap membatu, menolak memberikan respons sekecil apa pun.

Kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup kini meledak di dalam dadanya. Ini adalah batas akhir. Jika tubuhnya sampai masuk ke dalam tungku pembakaran, maka tamat sudah. Dia akan benar-benar lenyap dari dunia ini tanpa sisa.

Bergerak... Kumohon, bergeraklah sedikit saja! Arya menjerit histeris dalam batin, memusatkan seluruh energi jiwanya ke ujung jari telunjuk tangan kirinya—tepat di area bekas luka robekan kuku hitam sang kakek semalam.

Secara ajaib, rasa dingin sedingin es yang mengendap di luka itu tiba-tiba berdenyut kencang. Kulit pergelangan tangannya terasa seperti ditusuk jarum tak kasat mata.

Set.

Ujung jari telunjuk Arya berkedut pelan. Hanya satu kali, sangat tipis. Namun, itu adalah sebuah pergerakan nyata.

Lihat selengkapnya