Dingin. Rasa dingin yang mutlak dan hampa menjalar ke seluruh kesadaran Arya.
Dia tidak lagi merasakan jilatan api tungku krematorium yang membakar kulitnya hidup-hidup. Ketika kedua matanya terpaksa terbuka, Arya mendapati dirinya sedang berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang sempit dan terpencil. Di kanan dan kirinya, hamparan bunga kantil dan lili darah bermekaran dengan sangat lebat. Kelopak-kelopak bunga itu bergoyang pelan, memancarkan aroma wewangian kuburan yang pekat seolah sedang mengejek kedatangannya.
Arya mengamati sekeliling dengan sisa kesadaran medisnya yang mulai berkabut. Jalur sunyi ini dipadati oleh ratusan manusia. Ada orang lanjut usia, anak-anak, hingga kaum muda dari berbagai kalangan. Anehnya, mereka semua berjalan dengan berjinjit, tanpa suara, dan tanpa ekspresi. Satu-satunya bunyi yang terdengar di tempat terkutuk ini hanyalah gesekan lirih antarsol sepatu yang menyentuh tanah kelabu.
*Aku sudah mati,* batin Arya berbisik pasrah. Ini adalah alam barzah—gerbang terakhir bagi raga yang telah menjadi abu. Ketakutan dan kebingungan perlahan mencekik jiwanya. Dia tidak ingin berada di sini. Dia masih ingin hidup.
"Yiyaaa... aaa..."
Sebuah alunan tembang jawa kuno yang jernih namun menyayat hati tiba-tiba bergaung dari kejauhan. Dari balik kabut tebal, iring-iringan wanita berjalan anggun mendekat. Mereka mengenakan kemben hitam pekat dengan rambut yang disanggul rapi, memegang payung kertas bermotif bunga kamboja. Gerakan mereka tersinkronisasi dengan sempurna, meluncur pelan melintasi lautan bunga makam tanpa menyentuh tanah.
Kulit mereka seputih susu dengan riasan wajah yang terlalu tebal. Saat wanita terakhir melintas di depan Arya, sosok itu mendadak menoleh. Paras yang semula terlihat sangat elok dalam sekejap mata berubah menjadi datar tanpa mata, hidung, ataupun mulut. Sosok wanita tanpa wajah.
"Kau... ikutlah bersamaku..."
Suara manis yang memabukkan itu membisikkan mantra ke dalam kepala Arya. Detik itu juga, logika Arya lumpuh. Pikirannya mendadak kosong, digantikan oleh rasa tenang semu yang mematikan. Tanpa sadar, kaki Arya mulai melangkah, memisahkan diri dari barisan ruh lainnya untuk mengikuti iring-iringan mistis tersebut menuju sebuah telaga berair jernih di ujung jalan.