Reinkarnasi Sang Dokter

Best Siallagan
Chapter #6

Menantu yang Terbuang

Tengah malam di sudut kota besar, pendar lampu jalanan yang kuning temaram menyinari aspal yang basah. Udara malam begitu menggigit, membawa embusan angin yang terasa menyayat kulit seperti bilah pisau.

Arya Dewangga bisa merasakan dingin itu. Dia terengah, memandang kedua tangannya yang tampak semi-transparan. Di tengah kebingungan mutlak, satu hal yang dia sadari: dia telah berhasil keluar dari telaga baka dan kembali ke dunia manusia.

Namun, kepuasan itu sirna seketika. Arya menyadari dirinya kini tak lebih dari seonggok arwah gentayangan. Berkali-kali dia mencoba berteriak, menyapa orang-orang yang melintas di trotoar, tetapi tidak ada satu pun yang menoleh. Dia sekadar angin lalu; diasingkan oleh dunia yang pernah ditinggalinya. Dunia ini terasa seperti sebuah sangkar raksasa yang ditutupi kain hitam pekat—mengisolasinya dalam kesunyian mutlak.

Kengerian baru muncul saat Arya melihat bintik-bintik cahaya samar perlahan menguap dari tubuh batinnya. Dia semakin menipis. Dalam waktu lima belas menit lagi, jiwanya akan benar-benar terhapus dari eksistensi. Sebagai seorang dokter, dia tahu waktunya sudah habis. Dia butuh raga, atau dia akan musnah.

Arya teringat cerita mistis lokal tentang fenomena pinjam kapang atau hantu yang menghuni mayat segar untuk kembali hidup. Egoisme sebagai makhluk hidup bergejolak. Dia tidak peduli lagi raga siapa yang akan diambilnya, dia hanya ingin selamat. Namun, setiap kali dia mencoba mendekati orang hidup, pendar hawa panas dari ubun-ubun dan bahu mereka memancarkan pelindung tak kasat mata yang justru membakar jiwanya.

Kringgg...

Suara lonceng pintu memecah keputusasaan Arya. Di depannya, sebuah toko buku kecil dengan plang usang masih menyalakan lampu. Seorang pria bermut kutu (jaket hoodie) tampak tergesa-gesa keluar dari sana, melangkah lebar menembus kegelapan malam tanpa menyadari keberadaan Arya.

Saat itulah, Arya merasakan hembusan aura hangat yang teramat kuat memancar dari dalam toko buku tersebut. Bagaikan orang yang hampir mati membeku di gunung es dan mendadak menemukan sekotak korek api, Arya langsung melesat masuk, menembus pintu kaca tanpa hambatan.

Di balik deretan rak buku yang berdebu, seorang pemuda terkapar di lantai dalam posisi tertelungkup. Usianya mungkin sekitar dua puluh tiga tahun, mengenakan jaket tipis. Daya tarik kehangatan dari tubuh yang baru saja kehilangan nyawa itu begitu magis. Tanpa ragu, Arya berjongkok dan menempelkan telapak tangan kirinya ke dada pemuda itu.

Seketika, sepuluh kuku hitam mistisnya memanjang, menancap perlahan ke dalam kulit luar sang pemuda. Berbeda dengan sensasi hampa sebelumnya, kali ini ada rasa tersengat listrik yang hebat. Jiwa Arya seperti ditarik paksa, melebur, dan tumpang-tindih menguasai setiap jengkal urat syaraf yang dingin di tubuh tersebut.

Lihat selengkapnya