"Sudah kubilang, aku bukan Putri Nathalie! Aku Isabella! Mau apa sih kalian?” keluh Isabella.
“Jangan coba-coba kamu pura-pura menjadi orang lain. Kamu pasti Tuan Putri yang tewas itu, ‘kan?” sarkas Edward masih tidak percaya.
“Terserah deh, apa mau kalian. Aku bakal cari di mana aku ini?”
“Dasar keras kepala! Cepat ikut kami!” salah satu ksatria melangkah menarik tangan Isabella.
“JANGAN SENTUH AKU KALIAN PARA KSATRIA GILA!” teriak Isabella.
“APA KATAMU?!” Edward semakin berani mendekati Isabella.
*
Isabella mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa asing. Gaun tidur katun yang dikenakannya semalam kini berganti menjadi gaun sutra berat berwarna biru laut, lengkap dengan bordiran perak yang terasa dingin di kulitnya. Ini mimpi buruk, ini pasti efek obat flu.
"Sshhh!"
Suara geraman rendah memecah kesunyian. Isabella menoleh cepat. Dari balik akar pohon raksasa, sepasang mata merah menyala menatapnya tajam. Makhluk itu, yang bertubuh tinggi, berbulu gelap, dengan cakar yang memantul di tanah, mengerang lagi seolah lapar.
Kepanikan murni menghantam Isabella. Ini bukan mimpi. Ini nyata, dan ia akan dimakan. Ia merangkak mundur, mencoba mencari sesuatu untuk membela diri, tetapi hanya menemukan dedaunan lembap.
Makhluk itu menerjang.
"AARGH!" Isabella menjerit saat cakar dinginnya hampir menyentuh lengannya. Tiba-tiba, seberkas cahaya perak menyilaukan melesat dari antara pepohonan, menghantam makhluk itu dengan kekuatan yang mengejutkan. Makhluk itu menjerit kesakitan, asap tipis mengepul dari luka bakar di bahunya, lalu lari tunggang langgang.
Isabella terisak, jantungnya serasa mau copot.
"Tetap di sana. Jangan bergerak."
Suara itu dalam, dingin, dan sangat otoritatif. Isabella mendongak, matanya yang basah bertemu dengan sepasang mata abu-abu baja yang memancar ketidakpercayaan mutlak. Sosok itu mengenakan baju zirah gelap yang dipoles sempurna, beberapa prajurit lain berdiri mengelilinginya dengan pedang terhunus. Mereka semua terlihat seperti keluar dari buku fantasi abad pertengahan, hanya saja, mereka nyata.
Pria di tengah, yang tampaknya memimpin, adalah yang paling mencolok. Ia tinggi dan tampan dengan aura tajam yang membuat udara di sekitarnya terasa tebal. Ia menatap Isabella seolah ia adalah serangga yang baru saja ditemukan di antara bunga mawar.
"Siapa kau?" tanyanya tanpa emosi. "Dan bagaimana kau bisa sampai di Hutan Terlarang dengan pakaian seperti itu?"
"Aku ... aku tidak tahu," Isabella tersentak, berusaha menutupi dadanya yang terbuka oleh gaun aneh itu. "Aku terbangun di sini. Aku hanya Isabella. Isabella Swan."
Pria itu, yang mungkin seorang pangeran dilihat dari mahkota tipis di rambut hitamnya, mendengus sinis. "Isabella Swan? Aku belum pernah mendengar nama itu di Zenithra. Kau menyamar?"
"Menyamar? Aku bahkan tidak tahu di mana Zenithra ini!" Isabella merasa air mata frustrasi kembali menggenang. Ia hanya ingin kembali ke asramanya, ke skripsinya.
Pangeran itu memberi isyarat singkat pada prajurit di sampingnya. "Bawa dia. Jangan sakiti, tapi pastikan dia tidak berontak. Kita akan temukan siapa dia sebenarnya di istana."