Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #1

Kilatan Takdir di Zenithra

"Di mana aku?"

Isabella terbangun dengan napas memburu, ia seolah baru saja lolos dari jurang. Keningnya berkerut, bukan karena mimpi buruk yang biasa, melainkan karena sensasi asing yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Gaun tidur katun kesayangannya semalam entah ke mana, kini ia mengenakan gaun sutra berat berwarna biru laut, dihiasi bordiran perak yang terasa dingin di kulit. Sebuah kain yang terlalu mewah, terlalu asing untuknya. Ini bukan kamarnya di asrama, bukan pula efek obat flu yang biasanya membuat mimpinya aneh. Ini nyata.

"Sshhh!"

Geraman rendah, berat, dan mengancam, membelah kesunyian hutan yang pekat. Isabella menoleh cepat, pandangannya menyapu rerimbunan akar pohon raksasa. Sepasang mata merah menyala, berpendar tajam dalam kegelapan, menatapnya. Makhluk itu, tinggi menjulang, berbulu gelap seperti malam, mencakar tanah dengan kuku-kuku panjang yang memantulkan cahaya redup. Ia menggeram lagi, kali ini lebih lama, seolah mencicipi aroma mangsa yang menggiurkan.

Kepanikan murni menyergap Isabella, meremas paru-parunya. Ini bukan mimpi. Ini bukan flu. Ini nyata, dan ia akan dimakan hidup-hidup. Keringat dingin membanjiri punggungnya. Ia merangkak mundur, mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata, tetapi hanya menemukan dedaunan lembap dan batang pohon yang lapuk.

Makhluk itu menerjang, seperti bayangan yang melesat dari neraka.

"AARGH!" Isabella menjerit, tercekat di tenggorokan, saat cakar dinginnya hampir merobek lengannya. Tiba-tiba, seberkas cahaya perak menyilaukan melesat dari antara pepohonan, menembus bayangan lebat, dan menghantam makhluk itu dengan kekuatan brutal. Makhluk berbulu itu meraung kesakitan, asap tipis mengepul dari luka bakar di bahunya, lalu berbalik dan lari tunggang langgang, menghilang ditelan kegelapan hutan.

Isabella terisak hebat, napasnya tersengal, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Kakinya terasa lemas, lututnya ambruk ke tanah berlumpur.

"Tetap di sana. Jangan bergerak."

Suara itu dalam, dingin, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. Isabella mendongak, matanya yang basah dan perih bertemu dengan sepasang mata abu-abu baja yang memancarkan ketidakpercayaan mutlak. Di sekelilingnya, beberapa prajurit bersenjata lengkap muncul dari balik pepohonan, pedang terhunus, seragam zirah gelap mereka berkilauan di bawah cahaya remang. Mereka semua tampak seolah keluar dari halaman buku fantasi abad pertengahan yang ia baca, hanya saja ... mereka nyata. Dan mereka tidak tersenyum.

Pria di tengah, yang auranya paling mendominasi, adalah yang paling mencolok. Tinggi, garis wajahnya tegas dan tampan, tetapi diselimuti aura tajam yang membuat udara di sekitarnya terasa tebal, mencekam. Ia menatap Isabella seolah gadis itu adalah serangga menjijikkan yang baru saja ditemukan di antara bunga-bunga mawar.

"Siapa kau?" tanyanya, datar, tanpa emosi, tetapi sarat ancaman. "Dan bagaimana kau bisa sampai di Hutan Terlarang dengan pakaian semacam itu?"

"Aku ... aku tidak tahu," Isabella tergagap, instingnya mendorongnya untuk menutupi dadanya yang sedikit terbuka oleh gaun aneh itu. "Aku ... aku hanya terbangun di sini. Aku Isabella. Isabella Swan."

Pangeran itu, seorang pangeran mungkin, dilihat dari mahkota tipis perak yang menyisip di rambut hitam pekatnya, mendengus sinis. "Isabella Swan? Belum pernah kudengar nama itu di seluruh penjuru Zenithra. Apa kau menyamar?"

"Menyamar? Aku bahkan tidak tahu di mana 'Zenithra' itu!" Isabella merasakan gelombang frustrasi mengumpul di dadanya, mendesak air mata kembali menggenang. Ia hanya ingin kembali ke asramanya, ke tumpukan skripsi yang menunggunya, ke realitasnya.

Pangeran itu memberi isyarat singkat pada prajurit di sampingnya. "Bawa dia. Jangan sakiti, tapi pastikan dia tidak berontak. Kita akan cari tahu siapa dia sebenarnya di istana."

Dua penjaga bergerak cepat, tangan kekar mereka mencengkeram lengan Isabella terlalu erat, menariknya berdiri dengan kasar. Ia hampir tersandung karena rok gaun sutra yang berat itu, kainnya melilit kakinya.

"Tunggu! Aku bilang aku tidak tahu apa-apa! Aku bukan penyusup!" protes Isabella, berusaha menarik diri dari genggaman para prajurit.

"Semua penyusup mengatakan itu," balas sang Pangeran tanpa menoleh, matanya terpaku pada garis pepohonan, seolah sedang mencari ancaman lain yang mengintai. Dingin. Pria itu sangat dingin.

Lihat selengkapnya