Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #2

Sangkar Emas dan Bisikan Memori

"Bisa pelankan suaramu?" tanya Edward, matanya yang abu-abu baja menatap tajam, seolah ingin menguliti setiap lapisan kebohongan yang mungkin disembunyikan wanita di depannya.

Isabella mundur selangkah hingga punggungnya menabrak tiang tempat tidur yang dingin. Gaun sutra berat itu terasa seperti beban yang ingin menenggelamkannya ke dasar bumi. "Aku sudah bilang berkali-kali, namaku Isabella! Kenapa kalian semua terus memanggilku Nathalie?"

"Karena wajahmu, tanda di tubuhmu, dan cara bicaramu yang tiba-tiba berubah sangat mirip dengannya," Edward melangkah mendekat, bayangannya menelan cahaya lilin di kamar luas itu, menciptakan atmosfer yang mencekam. "Kamu pikir aku bodoh? Seorang putri menghilang tiga tahun lalu dan tiba-tiba muncul di Hutan Terlarang tanpa luka sedikit pun? Itu tidak masuk akal."

"Aku bahkan gak tahu gimana caranya aku bisa ada di hutan itu, Pangeran!" seru Isabella frustrasi,  bergema di langit-langit kamar yang tinggi.

"Pangeran?" Edward mendengkus, sudut birunya terangkat membentuk senyum sinis yang hampa. "Dulu kamu memanggilku Edward. Atau terkadang, kamu memanggilku dengan sebutan yang jauh lebih akrab daripada itu. Perubahan sikapmu ini benar-benar menarik, atau mungkin sangat berbahaya."

Isabella terdiam, terasa menyakitkan di dada. Tiba-tiba, sebuah denyut aneh menghantam kepalanya. Kilasan ingatan tentang pria ini, bukan sebagai pangeran yang dingin, tapi sebagai remaja yang tertawa di bawah pohon sakura Zenithra, muncul begitu saja seperti potongan film yang rusak.

"Aku gak ingat apa-apa," bisik Isabella, berusaha menahan pening yang menyerang secara tiba-tiba. "Beneran, aku gak tahu siapa itu Putri Nathalie."

Edward berhenti tepat di depan Isabella. Aroma kayu cendana yang maskulin dan hawa dingin dari logam zirah tipisnya menusuk indra penciuman Isabella. "Kalau kamu emang bukan dia, kenapa kamu tahu letak saklar rahasia di balik lukisan Raja Alaric tadi pagi? Kenapa kamu tahu kalau aku hanya suka minum teh kamomil pahit tanpa gula?"

"Itu ... aku cuma nebak," jawab Isabella asal, meski tangannya mulai gemetar hebat karena ia sendiri tidak tahu dari mana pengetahuan itu berasal.

"Jangan bohong," Edward mencengkeram dagu Isabella, memaksanya menatap langsung ke dalam manik matanya yang mengintimidasi. "Kebohongan adalah racun yang paling cepat membunuh di istana ini. Kamu sudah berada di sangkar emas sekarang, Nathalie. Atau siapa pun kamu yang sedang berpura-pura."

"Lepasin!" Isabella menepis tangan pria itu dengan kasar. "Kenapa kamu terus-terusan curiga? Apa salahnya kalau aku beneran kembali ke sini?"

"Salahnya?" Edward tertawa pendek, suara yang terdengar begitu dingin di telinga. "Karena Nathalie yang aku kenal sudah mati. Aku melihatnya jatuh ke jurang terdalam di perbatasan dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, katakan padaku, entitas apa yang sekarang menghuni tubuh ini dan mencoba membodohi seluruh kerajaan?"

Isabella terkesiap, darahnya seolah membeku. Kalimat itu seperti siraman air es yang menyadarkannya pada kenyataan pahit. "Mati? Kamu bilang dia dibunuh?"

Edward tidak menjawab secara langsung. Ia berjalan ke arah jendela besar yang memperlihatkan bulan ungu Zenithra, membelakangi Isabella. "Istana ini punya banyak rahasia yang terkubur. Sebagaimana kutipan kuno yang sering dibacakan guru kita dulu, 'Cahaya yang terlalu terang sering kali membutakan, dan bayangan yang paling gelap justru bersembunyi di bawah kaki sang raja.'"

"Apa artinya itu?" tanya Isabella bingung, mencoba mencari logika di tengah kegilaan ini.

"Artinya, ada orang-orang di luar sana yang lebih suka kamu tetap 'menghilang' selamanya," Edward berbalik, wajahnya terlihat sangat lelah meski ia berusaha menutupinya dengan keangkuhan kerajaan. "Kehadiranmu di sini bukan cuma sebuah keajaiban, tapi ancaman politik yang nyata. Dan tugasku adalah memastikan apakah kamu itu ancaman, atau justru korban selanjutnya yang sedang menunggu giliran."

Lihat selengkapnya