"Mereka sudah tahu kamu bukan Nathalie yang asli," desis Edward, serendah geraman binatang buas. "Dan sekarang, mereka datang bukan untuk bicara, tapi untuk memastikan kamu benar-benar mati kali ini."
"Mati?" Isabella memekik, jantungnya berpacu seiring tubuhnya gemetar ketakutan. Udara dingin menyusup dari jendela yang terbuka lebar, seolah mengundang malapetaka masuk ke kamar. Belati naga perak yang tersembunyi di bawah bantalnya terasa dingin, berat, dan anehnya, satu-satunya benda yang terasa nyata di antara kepalsuan ini. Siapa mereka? Pembunuh Nathalie? Dan bagaimana mereka tahu? Edward menarik napas berat, matanya mengamati lorong yang kini dipenuhi suara keributan. Ia segera menutup jendela, menguncinya dengan sigap.
"Kita gak punya waktu," Edward menoleh, rahangnya mengeras. "Para penjaga sudah diperintah untuk mengamankan istana, tapi ini bukan sekadar penyusup biasa. Ini peringatan. Mereka ingin kau tahu mereka mengawasimu, Isabella." Ia menyebut nama asliku, sebuah pengakuan yang mengejutkan di tengah kepanikan ini. "Sekarang, bereskan dirimu. Raja ingin bertemu denganmu sebelum fajar. Kesempatan terakhirmu untuk meyakinkannya bahwa kau putrinya."
"Bagaimana aku bisa beres-beres? Aku bahkan gak tahu harus pakai baju apa, Edward!" protes Isabella, tenggorokannya tercekat. Ingatan Nathalie adalah labirin yang membingungkan. Bisikan hantu di cermin, peringatan Edward, dan ancaman anonim di belati itu berputar di kepalanya. Cari Kristal Zenith di ruang bawah tanah. Pesan itu masih terngiang, menambah beban di pundaknya.
Edward mendengus. "Untungnya untukmu, Nathalie selalu punya selera yang ... ekstravagan," Ia menunjuk ke arah barisan gaun sutra dan brokat yang tergantung di lemari terbuka. "Pilih yang paling sederhana. Sekarang, Monalisa akan membantumu. Aku akan menunggu di luar. Jangan membuat keributan."
Monalisa, pelayan berambut perak dengan mata yang penuh kesedihan, masuk beberapa saat kemudian. Gerakannya lambat, tetapi cekatan. Isabella membiarkan dirinya didandani, gaun sutra ungu gelap membungkus tubuhnya, terasa asing dan mewah. Setiap sentuhan Monalisa terasa seperti bayangan, seolah ia menyentuh kenangan, bukan Isabella yang asli. Selama Monalisa menyisir rambutnya yang panjang, Isabella menatap pantulannya di cermin. Wajah Nathalie, tetapi dengan tatapan Isabella. Sebuah kebohongan yang hidup.
"Putri tampak cantik sekali hari ini," bisik Monalisa, serak dan bergetar. "Seperti dulu ...."
"Monalisa," Isabella menyentuh tangan tua itu. "Apa Raja benar-benar percaya aku ini Nathalie?"
Monalisa terdiam sejenak, tatapannya kosong. "Yang Mulia Raja ... hatinya hancur selama tiga tahun ini, Putri. Ia terlalu merindukan Anda untuk bisa mempertanyakan keajaiban. Tapi ... ada orang lain yang tidak akan semudah itu tertipu." Matanya tanpa sadar melirik ke arah pintu, seolah Edward bisa mendengar bisikannya.
Orang lain itu Edward? Atau pembunuh Nathalie? Pikiran Isabella kalut. Ia harus berhati-hati dengan setiap kata, setiap gerakan. Hidupnya, dan entah kenapa, hidup Edward juga, bergantung pada ilusi ini. Perasaan aneh muncul di benaknya, campuran takut, haru, dan sedikit simpati pada Nathalie yang malang. Ia harus bermain peran, demi dirinya, demi Monalisa, dan mungkin, demi Edward yang entah kenapa tetap melindunginya meski dengan cara yang keras.
"Putri sudah siap?" Suara Edward terdengar dari balik pintu, tegas dan tanpa emosi.
Isabella mengangguk pada Monalisa. "Sudah, Monalisa. Terima kasih."
Saat pintu terbuka, Edward berdiri tegak dengan zirah tipisnya, tatapan tajamnya menyambut Isabella. Ada sedikit keraguan di matanya saat melihat gaun ungu yang ia pilih, seolah kilasan Nathalie yang lama muncul sesaat. Tapi Edward segera menguasai dirinya.
"Ingat," bisiknya, pelan hanya untuk Isabella. "Raja akan mencari detail. Ingatan-ingatan kecil yang hanya Nathalie yang tahu. Kau harus siap."
"Bagaimana kalau aku tidak ingat?" tanya Isabella, kepanikan menusuk dadanya lagi.
"Maka kau harus menciptakannya," balas Edward, tatapan matanya mengeras. "Pikirkan apa yang Nathalie inginkan. Pikirkan bagaimana Nathalie akan bertindak. Kau adalah dia sekarang. Atau kau akan mati mencoba menjadi siapa pun."
Kata-kata Edward menghujam seperti belati, tapi ada kebenaran brutal di dalamnya. Isabella menarik napas dalam, merasakan aroma dupa istana yang berat. Para pengawal berbaris di depan dan belakang mereka. Langkah kakinya bergemuruh di koridor marmer yang panjang, memantul di dinding berlukiskan sejarah Zenithra. Setiap lukisan, setiap patung, seolah menatapnya, mempertanyakan haknya untuk melangkah di sini.