Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #4

Bayangan di Cermin

"Aku kembali," bisik Isabella pada pantulannya sendiri di cermin kristal besar. Wajah Nathalie menatap balik, bibir Isabella membentuk senyum pahit. Bukan aku. Ini bukan aku. Gaun sutra ungu yang membalut tubuhnya terasa asing, membebani, seperti kulit yang salah. Aroma dupa istana masih melekat, bercampur dengan lavender dari pelukan Raja, dan samar-samar, kayu cendana dari Edward. Semua terasa begitu nyata, tetapi baginya adalah kepalsuan yang menyesakkan.

Raja Alaric telah memeluknya, menyebutnya "bintang kecilku" dengan air mata tulus. Edward telah mengawasi, memperingatkannya tentang "serigala" dan "Kristal Zenith" sambil menyebut nama aslinya, Isabella. Lalu, ada bisikan dari "Nathalie" yang menuduh Edward. Kepalanya serasa pecah. Siapa yang harus dia percaya di sangkar emas ini? Ketidakpastian adalah racun paling mematikan.

"Sial," umpat Isabella, memejamkan mata erat-erat. Ia merasakan frustrasi yang memuncak. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa hanya menunggu untuk dibunuh, atau dikirim kembali ke tanah seperti kata Edward. Belati naga perak yang ia sembunyikan di bawah bantalnya terasa seperti satu-satunya pegangan nyata. Pesan anonim itu masih terngiang jelas, Cari Kristal Zenith di ruang bawah tanah sebelum mereka menemukan siapa kamu sebenarnya.

Ia harus menemukan sesuatu. Petunjuk. Apapun. Jika Nathalie bisa menyembunyikan belati dan pesan, mungkin ada hal lain. Isabella mulai memeriksa sekeliling kamarnya. Ini kamar Nathalie, penuh dengan barang-barang pribadi. Pasti ada sesuatu. Ia mulai dari meja rias. Laci-laci kayu mahoni berisi perhiasan berkilau, parfum, dan surat-surat yang tampaknya bersifat pribadi, ia hanya melihat sekilas lalu menyimpannya kembali. Tak ada yang mencurigakan.

Isabella bergerak ke lemari pakaian, menggeser ratusan gaun yang memenuhi ruangan. Nathalie benci perayaan, dia lebih suka buku-buku, Edward berkata. Jadi, bukan di sini. Ia beralih ke rak buku. Koleksi buku-buku kuno dan modern, beberapa dengan sampul kulit yang usang, beberapa lagi masih tampak baru. Isabella mulai mengeluarkan buku satu per satu, memeriksa setiap halaman, setiap sela.

Tidak ada. Kosong. Isabella menggigit bibir, rasa putus asa mulai merayapi. Mungkin Edward hanya mencoba menjebakku, atau hantu itu hanya halusinasi belaka. Tapi dorongan kuat dari dalam dirinya, rasa takut yang dingin, mendorongnya untuk terus mencari. Ini bukan hanya untuk bertahan hidup, ini untuk mengetahui kebenaran tentang Nathalie, tentang dirinya sendiri. Ia merasa punya tanggung jawab yang aneh pada gadis malang yang tubuhnya ia pinjami ini.

Edward, dengan segala sikap dinginnya, telah menyelamatkannya dari penyusup tadi malam. Tapi, dia juga melihat Nathalie jatuh ke jurang. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu menghantui. Mungkinkah Edward yang mendorong Nathalie? Tapi kenapa dia melindungiku? Pikiran Isabella terasa seperti benang kusut yang tak terurai.

Kemudian, matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan. Sebuah lemari kecil yang menempel ke dinding, di dekat jendela. Di atasnya ada patung kecil naga perak. Naga perak ... seperti belati itu. Ia mendekat, jemarinya meraba dinding di balik lemari. Dingin. Solid. Tidak ada yang aneh.

Namun, saat ia menekan sedikit lebih keras di satu titik, terdengar suara klik samar. Patung naga itu sedikit bergeser. Mata Isabella membelalak. Ia mencengkeram patung itu dan memutarnya perlahan. Dinding di belakang lemari bergeser, memperlihatkan celah sempit. Di dalamnya, tersembunyi sebuah laci kayu kecil.

Napas Isabella tertahan. Ini dia.

Ia menarik laci itu keluar. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit tua, tipis, dan usang. Bukan buku harian yang mewah, melainkan jurnal kecil yang terasa pribadi. Ada sebuah kunci perak mungil di sampingnya. Isabella mengambilnya dengan tangan gemetar.

Lihat selengkapnya