Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #5

Langkah Pertama di Istana

"Jadi, kamu sudah siap, Putri?" Edward berdiri di ambang pintu, tajam menusuk, tidak meninggalkan ruang untuk Isabella bernapas. Matanya yang kelabu menelusuri Isabella dari ujung kepala sampai kaki, seolah dia bisa melihat belati di bawah bantalnya, bahkan jejak tinta jurnal Nathalie yang masih menempel di pikirannya.

Isabella mengepalkan tangan, berusaha menyembunyikan getaran dari Monalisa yang masih merapikan gaunnya. "Tentu saja," balasnya, mencoba terdengar acuh tak acuh. Edward yang kupercayai ... dia yang mendorongku ke jurang. Kalimat Nathalie itu bagai mantra yang terus menghantuinya. Tapi Edward juga yang memperingatkanku tentang Theron. Siapa yang harus kupercaya? Pertanyaan itu membelit.

"Bagus," Edward mengangguk tipis, ekspresinya sulit dibaca. "Raja ingin kau mulai menunjukkan wajahmu. Berkeliling istana. Menunjukkan pada semua orang bahwa Putri Mahkota Zenithra sudah kembali. Dan dia ingin aku menugaskan seseorang untuk mendampingimu." Edward melirik Monalisa, yang segera menunduk. "Bukan kau, Monalisa. Seseorang yang lebih ... berpengalaman dalam intrik istana."

Isabella merasakan firasat buruk menjalari punggungnya. Pendamping baru? Pengawas baru, lebih tepatnya. Ia tahu ini adalah bagian dari "perlindungan" Edward yang sebenarnya adalah pengawasan. Edward melambaikan tangan, memberi isyarat agar Monalisa pergi. Begitu Monalisa meninggalkan ruangan, Edward melangkah mendekat, auranya yang dingin menyelimuti Isabella.

"Jurnal itu," bisik Edward, "kau sudah membacanya, kan? Tentang 'dia yang kupercayai'?"

Mata Isabella membelalak. Dia tahu?! Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia juga membaca jurnal itu? Atau dialah 'dia' yang Nathalie maksud? Ketakutan merayapi dirinya, bercampur dengan kemarahan. "Kamu ... menggeledah kamarku?"

"Aku tahu segalanya tentang kamarmu, Isabella," jawab Edward, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. "Aku yang menempatkanmu di sana. Termasuk buku harian itu. Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan." Dia mencondongkan tubuh, aroma kayu cendana kembali menyesakkan. "Aku ingin tahu apakah kau akan mencari kebenaran, atau hanya akan menjadi boneka lain yang bisa dikendalikan oleh mereka."

"Mereka?" Isabella menatapnya tajam. "Siapa 'mereka' yang selalu kamu maksud? Kamu tidak pernah jelas!"

Edward menggeleng, tatapannya kini berubah menjadi keseriusan yang menusuk. "Belum saatnya. Tapi, 'mereka' itu ada di sekeliling kita. Bahkan mungkin ... di sampingmu. Aku akan menugaskan Lady Seraphina sebagai pendampingmu. Dia bangsawan, pintar, dan ... tahu banyak hal."

Lady Seraphina? Ingatan Nathalie berkelebat, seorang wanita cantik dengan mata tajam, selalu tersenyum tapi senyumnya tak pernah mencapai mata. Seorang penasihat muda yang seringkali terlalu dekat dengan Grand Duke Theron. Astaga, Edward mau menempatkan mata-mata musuh di dekatku? Atau justru dia sedang mengujiku? Isabella merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan oleh dua pemain berbahaya.

"Kenapa dia?" tanya Isabella, mencoba menjaga tetap tenang. "Apa dia bisa dipercaya?"

Edward tertawa kecil, suara kering tanpa humor. "Di istana ini, tidak ada yang bisa sepenuhnya dipercaya. Bahkan diriku sendiri. Kau harus belajar itu, Isabella. Sekarang, ayo. Sudah waktunya untuk bertemu dengan 'dunia' barumu."

Beberapa hari berikutnya terasa seperti sandiwara tanpa henti. Isabella, dengan Edward di sisinya, atau setidaknya di dekatnya, mulai menjelajahi koridor-koridor istana yang lebih luas. Setiap langkahnya diawasi, bukan hanya oleh pengawal yang ditunjuk Edward, tetapi juga oleh tatapan para bangsawan yang bergosip di setiap sudut. Mereka berbisik, membandingkannya dengan Nathalie yang lama, mencari celah, mencari bukti bahwa ia adalah penipu.

"Lihat Putri itu," bisik seorang wanita gemuk dengan jubah hijau zamrud, melirik sinis ke arah Isabella. "Gayanya berbeda. Nathalie yang kukenal lebih pendiam."

"Benar. Dan sorot matanya ... lebih liar. Seperti binatang yang terkurung," sambung pria di sebelahnya, menyesap anggur.

Isabella pura-pura tidak mendengar. Rasa jengkel membuncah di dadanya. Sialan, aku cuma mau tahu kebenaran, bukan jadi bahan gosip! Edward, yang berjalan di sisinya, tak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya terus maju, seolah terbiasa dengan bisikan-bisikan beracun itu.

"Yang Mulia Putri, Pangeran Edward memanggil saya," suara renyah menyapa dari belakang. Isabella menoleh dan melihat seorang wanita ramping dengan rambut hitam legam dan mata sebiru lautan. Lady Seraphina. Dia memakai gaun sutra mewah yang memancarkan kekayaan, senyumnya begitu lebar, tetapi tetap saja, matanya kosong.

Edward menoleh. "Seraphina, ini Putri Nathalie. Dan Nathalie, ini Lady Seraphina. Dia akan mendampingimu mulai sekarang."

"Suatu kehormatan, Yang Mulia," Seraphina membungkuk anggun, tatapannya menyelimuti Isabella. Terlalu ramah, terlalu sopan, terlalu sempurna. Ini pasti jebakan. Nathalie dalam ingatannya tidak menyukai Seraphina. Ada rasa tidak suka yang dalam, tersembunyi di balik senyum tipis Nathalie.

Lihat selengkapnya