Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #6

Sang Penjaga Rahasia

"Monalisa," panggil Isabella, terasa memaksa, bahkan pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram erat cincin perak peninggalan ibu Seraphina, rasanya dingin dan menghujam. Seraphina tahu tentang ruang bawah tanah. Edward tahu Seraphina tahu. Pikiran itu berputar, memicu urgensi yang menyakitkan. Ia harus bicara dengan Monalisa. Sekarang, sebelum Edward atau Seraphina lebih dulu mengendalikan langkahnya.

Monalisa, yang sedang menyusun gaun di lemari, terkesiap. Matanya yang biasanya sendu kini memancarkan keterkejutan. "Yang Mulia Putri? Ada apa? Apakah ada yang tidak beres?"

"Tidak," Isabella buru-buru menjawab, memaksakan senyum yang terasa kaku. "Aku hanya ... merasa sedikit rindu. Rindu masa lalu, Monalisa. Saat aku masih kecil." Ia menghela napas, meniru lengkungan bahu Nathalie yang sering ia lihat dalam ingatannya saat bersedih. "Rasanya aneh. Ada begitu banyak kenangan yang samar, seperti kabut. Aku ingin kau membantuku mengingatnya." Tolong percaya padaku, Monalisa.

Monalisa menunduk, tangannya gemetar memegangi gaun. "Hamba ... hamba tidak yakin bisa membantu, Putri. Ada banyak hal yang ... sensitif." Nada penuh kekhawatiran. Matanya melirik ke arah pintu, seolah Edward bisa muncul kapan saja.

"Tidak ada yang sensitif, Monalisa," Isabella melangkah mendekat, sengaja merendahkan , memancarkan kehangatan yang tulus dari Isabella yang sebenarnya. "Hanya ... kenangan. Bukankah kau salah satu orang yang paling dekat denganku? Aku ingat Edward pernah bilang, kau seperti ibuku yang kedua."

Kilasan ingatan Nathalie tentang Monalisa sebagai sosok ibu muncul, meluluhkan dinding pertahanan Isabella. Rasa bersalah menghantam. Ia benar-benar menipu perempuan tua ini. Tapi demi kebenaran Nathalie, ia harus. Air mata Monalisa mulai menggenang. Edward benar tentang sentuhan personal.

"Itu benar, Putri," bisik Monalisa, parau oleh emosi. "Hamba ... hamba memang sangat menyayangi Putri."

"Itu sebabnya aku ingin kau jujur padaku," Isabella menatap Monalisa lurus, mencoba menyalurkan rasa takut dan kebutuhannya yang tulus. "Aku merasa ada yang berbeda dari diriku. Ada hal-hal yang tidak kukenal. Dan ada orang-orang yang terus menatapku dengan curiga." Isabella meremas tangannya. Aku harus menyinggung Seraphina tanpa menyebut Edward. "Seperti Lady Seraphina. Dia selalu mengawasiku. Apa ... apa Nathalie dulu dekat dengannya?"

Monalisa terkesiap lagi, menoleh ke arah pintu secepat kilat. "Lady Seraphina? Dia ... dia selalu ada di sisi Putri, ya. Tapi ... Nathalie yang hamba kenal tidak begitu suka dengan caranya mendekati Pangeran Edward." Monalisa berbisik pelan, seolah takut didengar dinding. "Putri Nathalie selalu bilang, Seraphina itu seperti ... bunga beracun."

Bunga beracun. Jadi Edward tidak salah menempatkan Seraphina di sisiku. Dia tahu sifat Seraphina. Edward menggunakanku untuk mengorek rahasia Seraphina dan Theron. Sebuah kepahitan muncul, tapi juga secercah harapan. Edward bukan pembunuh Nathalie. Edward tahu, dan dia sedang mencoba membongkar konspirasi ini melalui Isabella.

"Begitu," Isabella mengangguk, berpura-pura merenung. "Aku merasa ada yang tidak beres denganya. Dia berbicara tentang ruang bawah tanah. Seperti mengujiku." Isabella menatap Monalisa dengan sorot penuh harapan. "Apa Putri Nathalie pernah bercerita tentang sesuatu yang disembunyikan di ruang bawah tanah?"

Monalisa memucat. Matanya bergetar. "Ruang bawah tanah? Tidak, Putri. Nathalie ... dia tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ... ada satu tempat yang selalu ia sebutkan dengan nada khawatir. Sebuah tempat yang sering ia kunjungi secara rahasia. Terutama saat ia ingin ... kabur dari pengawasan.

"Di mana itu, Monalisa? Tolong, aku harus tahu. Ini penting untukku ... untuk kita."

Lihat selengkapnya