Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #7

Sang Pangeran Berduri

"Kenapa kau memanggilku ke sini, Edward? Aku sibuk," Isabella berkata, berusaha keras terdengar tegas. Ia berdiri di hadapan Edward di ruang kerjanya yang luas, dipenuhi buku-buku kuno dan peta gulungan. Beberapa hari berlalu sejak ia melihat sosok berjubah di lorong rahasia, tetapi Edward terus mengawasinya, membuatnya belum sempat mencari lebih jauh. Perasaan terkurung mencekiknya.

Edward mengangkat pandangannya dari meja kerjanya, matanya yang kelabu menatap Isabella tajam. "Sibuk? Bukankah tugasmu hanya bersandiwara sebagai putri yang hilang, Isabella?" Ia sengaja menekan nama aslinya, sebuah sindiran yang selalu berhasil membuat Isabella geram. "Atau kau sibuk memikirkan cara untuk menyelinap ke ruang bawah tanah seperti yang kau coba beberapa malam lalu?"

Isabella terkesiap, darahnya seolah surut dari wajah. Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Rasa panik menghantam dadanya, bercampur dengan kemarahan karenaEdward selalu selangkah di depannya. Ia mengepalkan tangan di samping tubuh. "Aku ... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."

"Jangan berbohong padaku," Edward bangkit dari kursinya, berjalan mendekat. Aroma kayu cendana yang familier, tetapi kini terasa lebih mengancam, menyelimuti Isabella. "Nathalie adalah seorang Putri. Dia punya sejarah, ambisi, dan seribu satu detail yang harus kau tahu. Aku ingin mengujimu, sekarang. Jika kau gagal, aku tidak akan bisa lagi melindungimu. Kau akan dikurung, atau lebih buruk, mereka akan menghabisimu."

"Siapa 'mereka'?" tanya Isabella, bergetar. Edward selalu berbicara tentang 'mereka', tapi tidak pernah memberikan jawaban yang jelas.

"Orang-orang yang ingin kau mati, sama seperti mereka menginginkan Nathalie mati," jawab Edward, tatapannya dingin. "Kau mengklaim kembali, tapi ingatanmu kosong. Kau harus mengisi kekosongan itu, atau orang lain yang akan mengisinya dengan pisaunya." Ia menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah. Ini bukan permohonan. Ini perintah."

Isabella duduk, punggungnya tegak, berusaha menunjukkan sedikit keberanian. Ini bukan tentang kemarahan Edward padanya, ini tentang hidup dan mati. Ia merasa bertanggung jawab pada Nathalie, pada janji yang tidak diucapkannya untuk mengungkap kebenaran.

Edward mulai mengajukan pertanyaan. "Apa nama perjanjian damai yang mengakhiri Perang Bayangan, dan siapa jenderal yang menandatanganinya?"

Isabella memejamkan mata, memanggil ingatan Nathalie. Kilasan tentang buku sejarah yang tebal, aula perjanjian yang gelap, dan seorang jenderal berjanggut abu-abu. "Perjanjian Cahaya Ungu. Ditandatangani oleh Jenderal Valerius Agung." Ia tahu nama Jenderal Valerius itu juga nama keluarga bangsawan yang kini ada di istana. Sebuah koneksi yang samar, tetapi terasa penting. Edward tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk kecil.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun Menara Mata Naga, dan siapa arsiteknya?"

Menara Mata Naga ... Ingatan Nathalie tentang proyek-proyek besar ayahnya, suara Ayah yang bangga. "Tujuh puluh lima tahun, oleh Master Kenji, arsitek dari Timur."

Lihat selengkapnya