Reinkarnasi Sang Putri

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #8

Jejak Pengkhianatan

"Dia tahu semua tentangmu, Isabella," Edward berkata,  masih terngiang di telinga Isabella, dingin dan menusuk, saat jari-jarinya memegang kunci perak yang diserahkan Edward. Dia percaya padaku? Atau ini perangkap lain? Isabella menatap pintu kayu jati yang diukir rumit. Pintu perpustakaan pribadi Nathalie.

Edward baru saja meninggalkannya, kembali ke ruang kerjanya setelah interogasi yang menguras emosi. Isabella melangkah maju, napasnya tertahan. Kunci itu terasa berat, sebuah beban kepercayaan atau, bisa jadi, tanda bahaya yang lain. Edward ingin dia mencari jurnal kedua Nathalie, tentang harapan dan proyek rahasia. Edward tidak menyebut jurnal pertama, jurnal ketakutan dan pengkhianatan, yang sudah Isabella temukan. Edward tahu tentang jurnal pertama. Dia tahu aku sudah membacanya. Dia pasti tahu isinya.

Dengan tangan gemetar, Isabella memasukkan kunci ke lubangnya. Bunyi klik pelan memecah keheningan koridor. Pintu berderit terbuka, menyingkap ruangan yang lebih gelap dan berdebu dari perkiraannya. Aroma buku-buku tua dan kayu manis menusuk indranya. Rak-rak buku menjulang tinggi, menutupi dinding, dan meja kerja besar Nathalie terletak di tengah, berantakan dengan kertas-kertas dan peta.

"Isabella," suara Edward kembali terngiang, di balik pintu itu, mungkin ada jawaban yang lebih gelap dari yang kau bayangkan. Edward memercayainya, atau mengujinya? Edward ingin ia menemukan jurnal kedua. Isabella punya agenda sendiri,  mencari Kristal Zenith, Taman Terlarang, dan orang di balik pengkhianatan Nathalie. Siapa "dia" yang Nathalie percayai, lalu ia ragukan?

Isabella melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Kegelapan segera menyelimutinya, tetapi cahaya bulan ungu Zenithra menyusup dari jendela tinggi, melukis bayangan-bayangan aneh di lantai. Ia menyalakan lentera kuno di meja kerja. Cahaya hangat menerangi ruangan, menyingkap tumpukan gulungan perkamen, bola dunia, dan beberapa bingkai foto.

Ia mulai memeriksa meja kerja. Kertas-kertas bertebaran, coretan tangan Nathalie yang rapi, tetapi beberapa terlihat tergesa-gesa. Peta-peta kerajaan tersebar, beberapa dengan tanda khusus di area perbatasan. Nathalie punya proyek besar. Edward tidak berbohong soal itu. Isabella menyentuh lembaran peta, merasakan dinginnya kertas tua. Proyek apa ini, Nathalie? Apa yang begitu penting sampai kau harus mati karenanya?

Matanya tertuju pada salah satu bingkai foto. Sebuah foto lama, memudar. Di sana, Nathalie tersenyum, dengan rambut tergerai dan gaun musim panas. Di sampingnya berdiri Edward, lebih muda, dengan senyum yang lebih rileks dan mata yang masih memancarkan kehangatan. Mereka tampak begitu bahagia. Isabella merasakan dadanya sesak. Edward yang ini ... Edward yang kehilangan "bintang kecilnya".

Ia mengambil bingkai foto itu, jemarinya mengusap wajah Nathalie. Senyum itu terasa begitu menyedihkan sekarang. Edward memang mencurigai Nathalie dalam jurnal pertama, tetapi Edward juga kehilangan seseorang yang ia cintai. Apakah Edward benar-benar mendorong Nathalie ke jurang? Atau bisikan hantu itu hanya tipuan? Keraguan itu merayap.

Saat ia membalik bingkai foto, tangannya menyentuh sesuatu yang ganjil. Sebuah lipatan kasar di bagian belakang, seperti ada celah tersembunyi. Ia menggeser penutup kayu di bagian belakang. Di sana, terselip sebuah amplop kecil, terbuat dari kertas perkamen yang sama dengan belati naga. Tanpa nama, tanpa segel.

Isabella menarik keluar isinya. Selembar surat, dengan tulisan tangan Nathalie. Tulisan itu tidak serapi di jurnal pertama, lebih tergesa-gesa, seolah ditulis dalam ketakutan.

"Edward, aku tahu kau tidak sepenuhnya memercayaiku lagi. Kau curiga pada obsesiku dengan Kristal Zenith dan proyek untuk Zenithra. Kau tidak melihatnya, bayangan di istana ini, yang semakin mendekat. Dia yang berjanji melindungiku, yang seharusnya menjadi sekutuku, kini berbicara tentang mengendalikan energi Zenithra untuk kekuasaan. Dia mendesakku untuk segera mengaktifkan Kristal itu di Taman Terlarang. Aku tidak bisa memercayainya lagi."

Isabella terkesiap, napasnya tertahan. Dia yang berjanji melindungiku ... Taman Terlarang. Ini mengaitkan semua petunjuk. Jurnal pertama, bisikan hantu yang menuduh Edward, Monalisa yang menyebut "dia yang berjanji melindungiku" dan "bayangan". Nathalie bertemu seseorang di Taman Terlarang. Seseorang yang ia percayai, lalu ia ragukan.

Surat itu melanjutkan,  "Edward, jika kau menemukan ini, itu berarti aku gagal. Aku tahu Theron berbahaya, tetapi 'dia' lebih dekat. Lebih berbahaya. Dia mengumpulkan sekutu, dan dia tahu aku punya Kristal Zenith. Dia ingin mencurinya. Pertemuan di Taman Terlarang besok malam adalah jebakan. Aku harus berhati-hati. Aku tidak bisa memercayai siapa pun lagi."

Isabella merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Edward! Edward yang memintanya mencari jurnal Nathalie tentang harapan, tapi malah menuntunnya pada surat ini. Edward yang tahu tentang Theron. Edward yang tahu Nathalie bertemu seseorang di Taman Terlarang. Edward tahu!

Edward tidak menipu Nathalie. Edward mencoba melindungi Nathalie. DanEdward sedang menguji Isabella, membiarkannya menemukan kebenaran sendiri. Edward memberinya kunci ke perpustakaan ini, seolah tahu ia akan menemukan surat ini. Rasa bersalah yang menusuk muncul di hati Isabella karena telah meragukan Edward begitu lama.

"Dia yang berjanji melindungiku," gumam Isabella. Sebuah bisikan Nathalie kembali terngiang di benaknya, lebih jelas dari sebelumnya. Edward ... dia yang mendorongku ke jurang malam itu. Bisikan itu selalu terasa aneh, karena Edward melindungi Isabella.

Lihat selengkapnya