Apa maksudmu aku harus pergi sendiri, Edward? Itu bunuh diri!" Isabella hampir berteriak, suaranya tercekat. Matanya menatap Edward, menuntut jawaban. Bulu gagak hitam itu masih di tangan Edward, terasa seperti simbol maut yang baru saja diserahkan kepadanya. Edward tahu segalanya, tentang Seraphina, tentang Theron, tentang bahaya di Taman Terlarang. Namun, ia malah memintanya pergi sendirian.
Edward menghela napas, tatapannya lelah. "Kau tidak sendirian. Mereka akan mengawasimu dari bayangan. Aku juga. Tapi kau harus bergerak seolah kau sendirian. Itu bagian dari rencana Nathalie." Jari-jemarinya mengusap lembut bulu gagak itu, seolah benda mati itu mengandung beban yang sangat besar. "Mereka perlu tahu kau aktif, kau mencari Kristal Zenith. Tapi mereka tidak boleh tahu kau punya sekutu sepertiku, atau Ksatria Bayangan."
"Dan jika aku gagal? Jika mereka menangkapku?" tanya Isabella, dadanya terasa nyeri. Edward mempercayainya, itu benar, tapi kepercayaan Edward terasa seperti pisau bermata dua.
"Maka kau akan menjadi martir seperti Nathalie," Edward menatapnya lurus, tanpa keraguan. Ada kejujuran brutal di matanya yang abu-abu. "Tapi kau tidak akan gagal, Isabella. Kau lebih pintar dari yang kau kira. Nathalie memilihmu. Aku tahu itu."
Kata-kata Edward menghantam Isabella, memberinya campuran kemarahan dan kekuatan. Nathalie memilihku? Apa artinya itu? Edward tidak menjelaskan. Ia hanya berbalik, menyimpan bulu gagak itu di saku dalamnya.
Beberapa hari berikutnya terasa seperti neraka yang perlahan membara. Isabella mencoba menyusun rencana untuk malam pertemuan. Edward ingin ia terlihat aktif, tetapi setiap langkah kecilnya untuk menyelidiki, setiap upaya menyelinap keluar dari kamarnya, selalu terhadang.
"Yang Mulia Putri, Pangeran Edward meminta Anda meninjau desain taman baru," Lady Seraphina tersenyum manis suatu pagi, menghalangi Isabella yang hendak belok ke koridor menuju paviliun lama. "Bukankah ini menyenangkan? Udara segar bagus untuk kesehatan Anda."
Isabella menahan geram. Desain taman? Edward tahu aku akan mencoba mencari jalan ke Taman Terlarang. Seraphina, dengan matanya yang tajam dan senyum yang terlalu lebar, adalah penghalang yang sempurna. Ia seperti bayangan, selalu ada, selalu mengawasi. Gerakannya terlalu anggun, senyumnya terlalu sempurna. Isabella bisa merasakan Edward memainkan Seraphina, dan Isabella sebagai bidak di antara mereka.
"Oh, tentu saja," Isabella memaksakan senyum. "Saya sangat senang Edward memikirkan hal itu. Mari kita pergi, Lady Seraphina."
Setiap pagi, setelah Edward memberinya petunjuk samar tentang "apa yang akan Nathalie lakukan", atau "di mana Nathalie mungkin menyembunyikan rencananya selanjutnya", Seraphina akan muncul, seolah membacanya dari udara. Edward akan mengawasinya dari jauh, tatapannya dingin dan penuh perhitungan, membuat Isabella bertanya-tanya apakah semua ini adalah tes lain.
Apakah Edward sengaja memberitahu Seraphina untuk melihat bagaimana aku akan bereaksi? Apakah dia mengujiku, atau mengujinya? Pikiran itu menghantuinya.
Suatu siang, Isabella mencoba menyelinap ke perpustakaan terlarang untuk mencari catatan tambahan dari Master Lyra, guru Nathalie. Edward mengizinkan, tapi kali ini Seraphina tidak menemaninya. Isabella merasa ada celah.
Namun, saat ia berbelok di koridor yang sepi, dua pengawal istana yang belum pernah ia lihat sebelumnya berdiri tegak di depan pintu perpustakaan terlarang. Mereka membungkuk hormat, tetapi tatapan mereka kosong, dingin.
"Mohon maaf, Yang Mulia Putri," kata salah satu pengawal, suaranya monoton. "Pangeran Edward memerintahkan kami untuk memastikan Anda tidak terganggu. Bagian ini sedang dalam pembersihan khusus."
Isabella mengepalkan tangan di balik punggungnya. Pembersihan khusus? Edward tahu aku akan ke sini. Ini bukan perlindungan, ini pengekangan. Edward memang ingin ia mencari, tetapi hanya di tempat dan waktu yang Edward izinkan. Frustrasinya memuncak. Ia tidak bisa bergerak. Ia merasa seperti burung di sangkar yang dilempar labirin, setiap jalan keluar dijaga.