"Jadi, kamu masih berani melangkahkan kakimu ke sana, setelah semua peringatan itu?" Suara Lady Seraphina menyapa Isabella, menusuk tajam dari balik pilar saat Isabella mencoba menyelinap keluar kamar, jubah gelap membungkus tubuhnya. Seraphina berdiri di sana, siluetnya ramping dan mengancam di tengah lorong yang remang. Cincin perak itu berkilat di jarinya, seolah mengejek.
Isabella membeku. Edward mengirimnya? Atau dia memang mengawasiku setiap saat? Rasa kesal membuncah, bercampur rasa takut. Edward telah menempatkannya di antara serigala. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Lady Seraphina." Isabella berusaha terdengar tenang, meskipun tangannya tanpa sadar meremas belati naga perak di pinggangnya.
"Oh, benarkah?" Seraphina tertawa kecil, suara renyah itu seperti pecahan kaca. "Padahal, aku yakin Pangeran Edward juga tidak ingin Putri yang 'baru kembali' ini tersesat di lorong gelap. Terutama ... lorong yang mengarah ke taman terlarang. Atau ke ruang bawah tanah." Matanya yang biru tajam berkilat, seolah melihat menembus Isabella. "Edward sendiri yang memberiku perintah untuk memastikan Anda aman. Atau ... tetap berada dalam jangkauan kami."
Edward. Selalu Edward. Isabella merasa marah. Edward telah memercayainya, mengaku ingin melindunginya, tetapi membiarkannya diawasi begitu ketat oleh musuh yang Edward sendiri identifikasi. Apakah ini semua bagian dari permainan Edward? Apakah dia ingin Seraphina tahu aku bergerak? Isabella menarik napas dalam, membiarkan ingatan Nathalie menenangkan sarafnya. Jangan tunjukkan kelemahan. Jangan berikan mereka kepuasan.
"Edward tahu apa yang terbaik untuk Zenithra, Lady Seraphina," balas Isabella, kini lebih dingin. "Dan aku, sebagai Putri Mahkota, akan mematuhi keputusannya. Jika Edward ingin aku berada dalam jangkauan pengawasannya, aku akan berada di sana. Sekarang, jika Lady Seraphina sudah selesai mengawasiku, aku harus pergi." Isabella melangkah maju, dadanya terasa sesak.
Seraphina tidak bergerak, hanya tersenyum tipis. "Ke mana, Yang Mulia Putri? Pangeran Edward memberi tahu saya bahwa Anda menunjukkan minat yang sangat besar pada sejarah Zenithra kuno akhir-akhir ini. Mungkin, daripada berkeliaran di lorong gelap, Anda ingin mengunjungi perpustakaan istana? Bagian terlarang, mungkin? Saya bisa menemani Anda." Nada terlalu manis, sebuah undangan yang terasa seperti jebakan.
Isabella merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Dia tahu. Dia tahu aku mencari sesuatu. Edward sengaja memberitahunya agar aku terdorong ke perpustakaan? Ini adalah permainan pikiran yang mengerikan, dan Edward adalah dalangnya. Edward ingin ia ke perpustakaan, tempat Master Lyra, guru Nathalie, berada. Edward tahu Seraphina akan mencoba menghentikannya, atau lebih tepatnya, mengarahkannya.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Lady Seraphina," Isabella mencoba tersenyum, senyum Nathalie yang paling mematikan. "Edward memang punya selera aneh untuk buku-buku kuno. Saya hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu itu." Edward pasti sudah menyiapkan ini. Itu satu-satunya penjelasan. "Ayo. Jangan buang waktu lagi."
Perjalanan ke perpustakaan terasa seperti arak-arakan menuju tiang gantungan. Seraphina berjalan di sampingnya, elegan dan mengancam, seolah setiap langkahnya adalah tarian maut. Isabella bisa merasakan tatapan para penjaga yang disebar Edward di sepanjang koridor, mengawasinya, mengawasi Seraphina, mengawasi segalanya.Edward tidak meninggalkan apa pun pada kesempatan. Ia memanipulasi mereka semua.
Begitu mereka tiba di depan perpustakaan utama, yang dindingnya menjulang tinggi dengan rak-rak buku tua, Seraphina tersenyum lagi. "Pangeran Edward telah meminta saya untuk memastikan Anda menemukan apa yang Anda cari, Putri. Bahkan ... sampai ke bagian terlarang." Seraphina mengisyaratkan ke arah sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku besar. "Ia bilang, Master Lyra, guru lama Anda, sedang menunggunya."
Edward benar-benar merencanakan ini. Isabella merasakan gelombang kemarahan, tetapi juga rasa lega yang aneh. Setidaknya Edward memang berusaha keras mengungkap kebenaran, bahkan jika itu berarti mengorbankan keamanan Isabella. Edward pasti tahu Master Lyra akan memberinya petunjuk penting.
Mereka masuk ke perpustakaan, lalu menuju bagian terlarang yang ditunjukkan Seraphina. Bau debu, perkamen, dan aroma bunga lavender kering menyambut mereka. Ruangan itu lebih kecil, lebih padat dengan manuskrip-manuskrip kuno yang berjajar rapi. Di tengah ruangan, seorang wanita tua dengan rambut perak dan kacamata bertengger di hidungnya sedang membaca sebuah gulungan perkamen yang sangat tua. Master Lyra.
"Master Lyra," sapa Seraphina dengan suara yang entah kenapa terdengar lebih lembut. "Putri Nathalie datang berkunjung."
Master Lyra mendongak, matanya yang tajam menatap Isabella, lalu ke arah Seraphina. Ada kerutan di dahinya, seolah membaca lebih dari sekadar penampilan. "Nathalie? Kau sudah kembali, Putri?" serak, tetapi penuh kehangatan. "Lama sekali kau tidak mengunjungi tempat ini."
Isabella mendekat, merasakan aura kebijaksanaan dari wanita tua itu. Edward benar. Master Lyra adalah kunci. "Maafkan saya, Master Lyra. Setelah ... insiden itu, banyak ingatan saya yang samar. Saya berharap dapat menemukan beberapa jawaban di sini." Isabella menatap Lyra, mencoba mencari koneksi yang Nathalie miliki dengan gurunya.
"Edward mengatakan kau sangat tertarik dengan sejarah kuno Zenithra," Lyra berkata, matanya menyipit. "Terutama bagian yang ... sensitif." Lyra melirik Seraphina yang berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin.