Sebagai perempuan, semua hal ditentukan dengan berbagai pilihan yang tampak sulit. Namun, apa harus selalu tampak sempurna dan tanpa cela? Reva merenung dengan nasib dan jalan hidup yang tengah dihadapinya saat ini. Dirinya masih ingin meraih impian dan harapan yang belum terwujud. Tapi, dengan situasi dan kondisi yang seperti sekarang, rasanya semua seperti mustahil.
Tujuh bulan setelah resmi menjadi seorang ibu, Reva merasa hidupya kini begitu monoton dan membosankan. Ia harus menjalani kegiatan yang sulit ditinggalkan dan waktu istirahatnya semakin jauh berkurang. Terkadang rasanya ingin menyerah, namun tak bisa. Ingin protes dan marah, tapi kepada siapa? Semua memang harus dijalani dengan baik dan sabar karena sekarang roda kehidupannya sudah berbeda. Tapi, harus sampai kapan?
Suara tangisan Nesha seketika terdengar dari box bayi. Reva yang ingin istirahat sejenak setelah semalaman begadang, segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia tak tahu kenapa lagi anaknya menangis, padahal baru minum susu dan sudah ganti popok. Menggendong putrinya yang masih rewel, Reva berusaha menenangkan agar tangisan Nesha berakhir. Tak berapa lama, putrinya kembali tertidur.
Menghela napas panjang, Reva memijit dahinya yang terasa agak pusing. Matanya sudah sangat mengantuk, tapi untuk tidur sebentar saja tak ada waktu. Saat tak sengaja melihat pantulan di cermin, Reva merasa dirinya kini sudah jauh berbeda dibandingkan sebelum menjadi seorang ibu. Sekarang ia hanya perempuan biasa dengan tampilan seadanya. Pakaian kumal, berat badan naik, rambut berantakan, tanpa riasan dan mata panda. Tak pernah lagi ikut kelas olahraga, pergi ke salon dan perawatan di klinik kecantikan seperti dulu.
Apa mungkin karena penampilan seperti sekarang, Mas Yudha jadi jarang pulang?
Apa mungkin Mas Yudha sudah tak cinta lagi?
Reva segera menepis pikiran buruknya. Ia tak mau berpikiran negatif dan menambah masalah saat suaminya bekerja di luar kota. Pernah berada di dunia pekerjaan yang sama, Reva mengerti dengan kesibukan suaminya. Gimanapun juga Mas Yudha sudah banyak berjasa membantu kariernya dulu. Namun, dengan keadaan dirinya dulu yang terbiasa dibawah lampu sorot dan di depan kamera dengan tampilan yang cantik dan menarik, membuat Reva semakin insecure.
Bel pintu depan berbunyi.
“Bibi, tolong buka pintunya,” sahut Reva pelan. Takut membangunkan putrinya yang sedang terlelap.
Kesal menunggu pembantu barunya yang tidak cukup gesit, dengan terpaksa Reva melangkah keluar kamar.
“Lho Sari?” tanya Reva kaget saat membuka pintu.
“Halo. Apa kabar?” Sari melepas kaca mata kuning emas berkilau bentuk bintang dengan gayanya yang eksentrik. “Tolong jangan panggil dengan Sari lagi. Nama populerku Stefania Sesilia Andromeda. Bisa dipanggil Stefi.”