Hosh ... hosh ... hosh!
Langkah kakinya begitu cepat. Ia harus buru-buru sebelum matahari terbenam. Ayla khawatir bertemu dengan hewan buas atau hal yang lebih buruk dari itu. Selain itu, jalanan akan sangat sulit dilihat saat malam hari. Ayla takut akan makin terperosok. Ayla harus cepat-cepat menemukan rombongannya.
Ayla menghentikan langkah yang telah goyah, lalu menatap sekeliling. Napasnya terengah. Keringat membanjiri dahi, mengalir deras membasahi pipi merah padam. Kini, Ayla berada di antara rerumputan yang tingginya hampir menyentuh pinggang dan menutupi jalan. Tak ada pemandangan lain selain pohon-pohon yang menjulang tinggi.
"Di mana aku?" tanya Ayla pada dirinya sendiri.
Ayla memejamkan matanya. Bahunya tak mau berhenti naik turun. Ayla menelan ludah dengan susah payah. Air yang dibawanya sudah habis. Perutnya mulai bergetar. Ayla belum makan apa pun selama 12 jam.
"Ya Allah, tolonglah hambamu ini," batinnya resah.
Ayla berusaha memasang telinganya yang tertutup hijab berbahan jersey. Barangkali ada suara pendaki lain yang dapat menolongnya.
"Ayolah! Kumohon!" harapnya.
Tak ada suara apa pun selain suara daun yang bergesekan.
Srek! Srek!
Ayla terperanjat. Ia celingak-celinguk menatap sekitar. Napasnya semakin cepat begitu pun dengan ritme jantungnya. Ayla memang mengharapkan sebuah suara. Namun, suara apa itu?
Suara itu makin mendekat ....
"Apakah ini suara langkah kaki?" pikir Ayla.
Ayla memasang telinganya dengan lebih saksama. Suara itu terdengar semakin jelas.
Srek! Srek!
Senyumnya merekah. "Ya ... benar. Ini suara langkah kaki."
Ayla celingak-celinguk mencari sumber keberadaan suara itu. Namun, tak ada pertanda seseorang di sana.
"Ayla!"
Tubuhnya mendadak kaku saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ayla!"
Suara itu semakin jelas. Ayla melirik ke sana kemari. Namun, tak ada seorang pun di sana. Suara langkah kaki itu pun tak terdengar lagi.
"AYLA!"
"Hah!"
Ayla terperanjat dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal, dadanya berdegup kencang. Saking kencangnya, Ayla dapat mendengar suaranya. Ayla celingak-celinguk menatap sekitar. Ada banyak komputer terpajang di sana dan orang-orang yang menatapnya bingung.
Napasnya tersengal, "Astagfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah."
"Ya! Neo gwaenchana?1" tanya Yoona khawatir.
Ayla bersandar pada kursi kerjanya. Ia letakkan tangannya di dada sembari berzikir berusaha menenangkan diri."
Ayla? Neo gwenchana?"
"Hah?" serunya terkejut. "Oh, ya! Gwenchana,"ucapnya buru-buru. "Aku hanya bermimpi."
"Syukurlah. Aku sempat khawatir karena napasmu begitu cepat. Kupikir kau terkena serangan seperti orang-orang stres itu.”,"
Ayla berdecak. "Aku tidak stres!"
"Mereka juga bilang begitu. Kupikir gara-gara Kang Eunseo kau sampai seperti itu.”
Ayla tersenyum menyeringai. "Tidak. Barusan aku hanya bermimpi.”
Yoona menghela napasnya. "Kau masih belum menyerah?"
Ayla menggeleng. "Masih ada waktu. Sebelum waktu itu habis, aku akan terus berusaha.”
"Hei, masih ada aktor lain yang lebih hebat. Kenapa harus dia? Kau benar-benar menyiksa dirimu sendiri,” ucap Yoona, gelisah melihat temannya yang belum kunjung berhasil menaklukkan Kang Eunseo agar mau main dalam drama novel yang ditulisnya.
"Ini drama pertamaku dari novel pertama yang kutulis. Jadi, harus dia. Benar-benar harus dia!" tekad Ayla.