Rekah

Mildha Maharani
Chapter #2

Bab 2 - Hari yang Sial

Lobi itu memancarkan aura kemewahan yang tak tersamarkan. Lantainya mengilap memantulkan cahaya lampu gantung di atasnya. 

Wangi dari parfum semerbak bertebaran di area lobi itu.  

Dua orang resepsionis yang sibuk mencatat, mengetik, dan menjawab telepon di belakang meja panjang itu terlihat sangat lihai. 

Sebuah layar besar menampilkan tayangan-tayangan singkat dari drama yang diperankan aktor dan aktrisnya. 

Ayla duduk sembari mengayun-ayunkan kakinya di sofa empuk di lobi itu. Matanya sibuk menatap sekitar, sesekali ia menghitung ubin di lantai. Kalau sudah muak dengan ubin, Ayla menggeser ponselnya bolak- balik. Ketika seorang laki-laki yang mengenakan kacamata lewat, Ayla akan bangkit dengan senyum di wajahnya. Lalu, Ayla akan kembali duduk dengan raut wajah kecewa setelah mengetahui orang yang lewat itu bukan orang yang sedang ia tunggu.  

Entah sudah berapa jam, atau berapa hari, Ayla duduk menunggu di sana tanpa kepastian. 

Pundaknya turun. "Kenapa harus sesulit ini menemui seorang manajer?" batin Ayla.

Berkali-kali Ayla mendatangi resepsionis untuk menanyakan apakah manajer Kang Eunseo sudah tiba. Namun, mereka hanya menjawab, "Nanti kalau sudah tiba, akan kami kabari." 

"Aku lagi ngapain, sih?" pikirnya.

Ayla tak tahu harus berbuat apa agar bisa bertemu dengan manajer Eunseo itu. Teman-temannya di kantor tidak ada yang mampu memberinya saran karena mereka sudah lelah dengan aktor ternama itu. 

Kabarnya, Eunseo memang sedang tidak ingin bermain peran dalam drama apa pun. Namun, tidak ada pernyataan resmi dari agensinya. Itu tandanya, mungkin saja Eunseo memang sedang ingin jual mahal. 

Ayla menghela napas, ia bosan menunggu. Pertemuannya yang tidak disengaja kemarin dengan Eunseo benar-benar tidak membantunya. Padahal Ayla sangat berharap hal itu akan membuat jalannya lebih mudah. 

"Apa aku benar-benar harus menyerah?" pikirnya.

Ayla menggeleng kecil. "Tidak. Ini adalah drama pertama. Kalau bukan karena Eunseo, aku tidak akan jadi seperti ini."

"Harus ... pokoknya harus Kang Eunseo!" Ayla bertekad.

Saat sedang berusaha optimis, seorang pemuda dengan rompi bertuliskan "Jajangmyeon" di belakangnya menarik perhatian Ayla. Pemuda itu dengan mudah masuk ke dalam area kantor.

Ayla jadi terpikir sesuatu. 

Ayla mengeluarkan ponsel pintarnya dan mencari nama Yoona di sana. "Yeoboseyo¹! Yoona-ya, kau bisa bantu aku?" 

🌻🌻🌻

Sebuah es krim stroberi dijilat dan diemut oleh Ayla beberapa kali. Ayla sedang menunggu Yoona di taman tak jauh dari kantor agensi Eunseo. Kebetulan, Yoona sedang bertemu temannya yang lokasinya tidak jauh dari kantor agensi itu. Namun, sudah satu jam Ayla menunggu dan es krimnya hampir habis, Yoona belum juga datang. 

"Ayla!" teriak seseorang. Ayla menarik napas lega. 

"Maaf, lama, ya? Tadi macet soalnya. Katanya ada kecelakaan kecil di sebelah sana."

Ayla menggeleng, "Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menunggu, kok." 

Yoona khawatir melihat ekspresi Ayla yang terlihat sedikit murung. "Dia masih belum bisa ditemui?" 

Ayla mendesah, lalu menggeleng.

"Waaaaah, benar-benar! Manajer sialan itu sepertinya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Kau sudah melakukan hal ini berhari-hari, dan dia masih belum bisa menemuimu?" hardik Yoona. 

"Yah, mungkin dia memang tidak masuk kantor. Resepsionisnya bilang begitu."

"Yah, kalau dia memang benar-benar tidak masuk kantor. Harusnya resepsionisnya bilang saja kalau hari ini dia memang tidak masuk kantor. Kenapa malah membuat orang membuang waktu seperti ini?" hardik Yoona lagi.

Ayla mendesah lagi. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Yoona memang ada benarnya. Ayla merasa jadi orang paling bodoh sedunia. 

"Jadi, kenapa kau tiba-tiba memanggilku? Kau punya rencana?"

Ayla mengangguk. "Kau tahu bagaimana caranya supaya aku bisa mengantarkan makanan ke sana?"

"Mengantarkan makanan?" tanya Yoona heran.

🌻🌻🌻

Ayla kini sudah berada di depan gedung kantor agensi Eunseo. Kali ini, dia tidak berpakaian seperti biasanya. Ia mengenakan rompi dengan tulisan "Fried Chicken" di belakangnya. 

Biasanya Ayla mengenakan rok, tapi kali ini ia mengenakan celana kulot dan kerudung sport tanpa pet berbahan jersey dan masker berwarna hitam untuk menutupi wajahnya. 

Ayla sengaja merapatkan rompinya agar kerudungnya tidak terlihat seperti kerudung, melainkan hanya penutup kepala biasa. 

Kedua tangannya kini menenteng beberapa kantong ayam goreng yang siap dihantar ke setiap orang yang memesan.

Beruntung Yoona punya tetangga yang bekerja paruh waktu di salah satu restoran ayam di Seoul, dan lebih beruntungnya lagi, lokasinya dekat dan karyawan di sana sering memesan ke restoran ayam goreng itu. 

Sesuai dugaan Ayla. Setelah dipastikan Ayla aman oleh sekuriti, mereka mengizinkan Ayla masuk. 

Ayla menyusuri koridor marmer kantor agensi Eunseo. Kantor itu luas dan terasa seperti galeri seni modern. 

Dindingnya didominasi warna putih gading dengan bingkai foto aktor dan aktris menghiasinya. 

Ayla menatap sebuah foto yang menampilkan wajah Eunseo dengan tatapan dingin, tapi berkarisma. Ia sangat tampan dengan balutan jaket racer kerah berdiri berwarna beige

"Apa Anda sedang mengantarkan ayam goreng?" Sebuah pertanyaan dari seorang wanita yang mengenakan jas berwarna merah itu mengagetkan Ayla. 

"Ah, iya,” jawab Ayla. 

"Kalau begitu cepatlah. Waktu istirahat kami tidak lama," ucap wanita itu. Ia lalu pergi tanpa menunggu Ayla menjawab. 

Ayla berjalan menyusuri lorong, melewati beberapa ruangan. Ruangan itu terlihat sepi. Kegiatan seperti mengetik, menjawab telepon, menulis beberapa dokumen itu hanya dilakukan oleh beberapa orang. Beberapa meja terlihat kosong.  

"Kayaknya, sebagian pada makan di luar," pikir Ayla. 

Lihat selengkapnya