Rekah

Mildha Maharani
Chapter #4

Bab 4 - Gangnam

Langit biru menyambut kedatangan Ayla di kota para idol itu. Ayla baru tahu jika ternyata dirinya tersesat di Gangnam. Yoona yang memberitahunya. Ayla beruntung bisa mengenalnya. Menurut nya, Yoona itu seperti Gmaps. Dia selalu memberitahu Ayla tempat-tempat yang bagus dan sering menyarankan restoran-restoran yang enak. 

Selain itu, dia juga sering membantu Ayla dalam banyak hal. Contohnya, seperti ponsel yang ada di dalam tasnya ini. Yoona bilang, ponselnya akan membantunya, setidaknya sampai Ayla mendapatkan ponsel baru. Namun, entah kapan itu? Ayla harus menabung. 

Ayla berjalan dengan langkah yang gusar, ia baru saja dari kantor Polisi yang kemarin menahan paspornya. Ayla menghela napas, hatinya gusar. Ia tidak bisa merasa tenang jika paspornya tidak ada digenggamannya.

Polisi itu bilang kalau paspornya belum selesai diperiksa. 

Ayla menghela napas lagi. “Kenapa lama sekali?” 

Ayla menatap jalanan yang lengang. Siang hari itu, Gangnam tidak seramai malam kemarin.

Sepertinya warganya sedang sibuk bekerja,“ pikir Ayla.

Ayla berjalan dan berjalan tanpa arah. Pikirannya terasa penuh. Kang Eunseo, hpnya yang rusak, paspornya yang ditahan, dan tenggat waktu untuk membujuk Eunseo yang sebentar lagi akan jatuh tempo. 

Tanpa sadar, Ayla tiba di pertigaan jalan.

Sial, lagi-lagi dirinya terjebak dalam kesesatan. Ayla merogoh-rogoh tasnya itu. Mencari benda pipih milik Yoona.

“Aaaaaaaaa!“ Sebuah teriakan nyaring dan ramai berhasil mengalihkan perhatian Ayla dari kesibukannya. Segerombolan gadis-gadis berlari mengejar satu orang lelaki dengan pakaian serba hitam. 

Ayla seperti mengenali lelaki itu. Entah kenapa, kakinya ikut bergerak mengikuti gerombolan itu. Ayla merasa tidak bisa menyusul mereka. Ayla memutuskan untuk mengambil jalan yang lain. Menyusuri jalan-jalan sempit dan mengikuti instingnya. 

Ayla berhasil menyusul mereka dengan cepat. Ayla kini berdiri di sebuah gang kecil di tengah-tengah gedung tinggi. Dengan napasnya yang tersengal, Ayla menyiapkan tubuhnya untuk menyelamatkan laki-laki dengan pakaian serba hitam itu. 

Akhirnya, laki-laki itu semakin dekat, Ayla tak melihat gerombolan gadis-gadis itu.

Bagus! ini waktunya," pikirnya.

Ayla menarik lengan laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Namun, laki-laki itu justru malah mendorong Ayla ke tembok dan mencengkram pergelangan tangannya.

Laki-laki itu menatap mata Ayla tajam. Cengkraman tangannya begitu kuat. Ayla kesulitan melepaskan genggaman tangan itu. Tak lama, masker hitam yang dipakainya putus dan terjatuh. Benar saja firasat Ayla, ternyata dia memang Eunseo. 

🌻🌻🌻

“Bi … bisa … a … anda lepaskan … tangan anda sekarang? Sa ... Sa ... Saya mulai agak kesakitan,“ pinta Ayla.

Eunseo tak langsung menurut. Ia masih menatap Ayla dengan tatapan tajam. Keningnya mengkerut. Cengkramannya masih sekuat sebelumnya. 

“Saya mohon." Pinta Ayla lagi. 

Seolah tersadar. Eunseo buru-buru melepaskan cengkramannya. Eunseo melongok ke luar gang. Memastikan apakah gadis-gadis itu masih mengejarnya. Namun, Gadis-gadis itu kini sudah pergi entah kemana. 

Kini, hanya ada Ayla dan Eunseo di gang sempit di antara dua gedung tinggi. 

“Maaf,” ucap Eunseo.

“Tidak apa-apa,“ ucap Ayla. 

Ayla memijit-mijit pergelangan tangannya. Eunseo tak mengatakan apapun lagi. Matanya menatap ke sembarang arah. 

Ada banyak hal yang ingin dikatakan Ayla. Tetapi, mulutnya seolah terkunci. Pikirannya tiba-tiba kabur. 

“Kalau begitu, hati-hati di jalan,” ucap Eunseo.

“Eh tunggu, aw!“ Teriak Ayla, membuat Eunseo menghentikan langkahnya, dan langsung memegang lengan Ayla. Ayla meringis kesakitan.

Lihat selengkapnya