Bunyi kode sandi yang ditekan menyambut Eunseo di apartemen mewahnya yang dihuninya selama tiga tahun belakangan ini.
Eunseo menghempaskan tumpukan kertas itu ke atas meja lalu merebahkan tubuhnya ke sofa. Lengannya menutupi matanya yang lelah. Walau pandangannya tertutup, bayang-bayang gadis itu tetap menari-nari di pikirannya.
Tangannya merogoh saku mantelnya. Ia mengeluarkan sehelai kain berwarna biru langit dengan sulaman bunga matahari dan huruf "E.S"di tengahnya.
Tak lama, bibir tipisnya tersenyum miring. Terbersit kembali bayang-bayang saat gadis itu menyodorkan sehelai kain itu. Dengan wajah penuh harap bercampur keputusasaan. Matanya yang indah itu... Sial, Eunseo tak dapat menghapus pandangan mata itu dari pikirannya. Pandangan penuh harapan itu, mengiris hatinya.
Eunseo bukannya tak senang, justru Ia sangat senang. Terlewat senang malah. Beberapa kali pertemuannya dengan gadis itu membuat hatinya bergejolak.
Gadis itu... Akhirnya ia berhasil. Eunseo merasa bangga padanya. Namun, dirinya malah merasa payah.
Eunseo mengacak-acak rambutnya. Ia bangkit lalu berjalan gontai ke arah dapur, lalu meneguk satu botol air mineral hingga tandas. Perutnya tak kalah berisik dengan pikirannya. Entah sudah berapa botol Ia teguk untuk menahan rasa laparnya. Eunseo terdiam lalu menatap lagi naskah yang tergeletak itu dari kejauhan.
"Ayla... Apa kau bisa menungguku?"
🌻🌻🌻
"Aaaaaah! Kau serius?" teriak Yoona histeris.
Ayla menutup mulutnya dengan telunjuk. "Sst! Jangan terlalu berisik. Aku tidak ingin semua orang tahu tentang hal ini," pinta Ayla pada Yoona. Ia celingak-celinguk ke sana ke mari, memastikan jika teriakan Yoona tidak terdengar oleh rekan-rekan kerjanya.
"Aiiih, memangnya kenapa? Justru ini adalah berita bagus." Ucap Yoona dengan lantang, membuat Ayla reflek memukul lengannya. "A! Sakit."
"Sst! Sudah kukatakan jangan terlalu berisik." Desak Ayla.
Yoona menarik napas, berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu menggeser kursi kerjanya agar bisa mendengar Ayla lebih jelas. "OKE... jadi?"
"Jadi sekarang aku menunggu kabarnya,"
"Berarti kalian?... Haaa..." Simpul Yoona dengan matanya yang melebar sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa? Kenapa?" Tanya Ayla heran.
"Kalian... Bertukar... nomor?" Tanya Yoona berbisik-bisik.
Ayla menggeleng. "Tidak. aku tidak berani meminta nomornya."
"Ya! Jika kalian tidak bertukar nomor, bagaimana cara dia menghubungimu?" Tanya Yoona, kesal.
"Aku sudah menyertakan nomorku di naskahnya. Jadi, kupikir itu saja sudah cukup," jawab Ayla santai.
"Tapi, bagaimana jika dia lupa? Bagaimana jika naskahmu dia lupakan? Bagaimana jika naskahmu tergeletak di mobil begitu saja?" Tanya Yoona lugas.
Ayla berpikir akan kemungkinan itu, tak lama kemudian ia menggeleng."Aku percaya Eunseo bukanlah orang yang seperti itu."
"Tetap saja sangat disayangkan," ucap Yoona, menepuk pahanya pelan.
"Hei! Aku tak ingin terlalu menekannya," ucap Ayla tegas.
"Oke oke! Terserah padamu saja," ucap Yoona. Ia menyerah sebab tak ingin terlalu lama berdebat. "Lalu, bagaimana sekarang kakimu? Sudah membaik?"
Ayla mengangguk, "Aku sudah bisa berjalan seperti biasa."
Salah satu keberuntungan Ayla bekerja di kantor itu adalah Ayla mendapatkan bos yang baik. Sutradara Park mengizinkan Ayla untuk istirahat di rumah sampai kakinya pulih.
"Kau tidak perlu khawatir soal masalah kantor. Ada banyak orang di sini. Take your time." begitu katanya tempo hari.
"Ngomong-ngomong, kita mau makan siang apa? " tanya Ayla.
"Ayla-ssi!"
Seorang laki-laki memanggilnya. Ia adalah asisten Sutradara Nam. "Setelah makan siang, kau harus menemui Sutradara Park."
"Ada apa?" Tanya Ayla bingung.
"Entahlah. Temui saja," ucap Asisten Sutradara Nam sembari mengedikkan bahunya.
"Ne, Gamsahamnida.¹"
🌻🌻🌻
Ayla duduk di sofa empuk di ruangan Sutradara Park. Ruangan dengan cat berwarna biru muda itu memiliki aroma chamomile yang menenangkan.
Ayla melirik tiga piala penghargaan dan jajaran sertifikat di lemari yang ada di depannya. Itu adalah salah satu hal yang membuat Ayla bangga bisa bergabung dengan perusahaan sebesar ini.
"Jadi, sudah sampai mana perkembangannya?" Tanya Sutradara Park tanpa basa basi. Ia duduk di samping dekat dengan sofa yang Ayla duduki.
Ayla berpikir sejenak. "Saya sudah memberikan naskahnya ke Eunseo. Tiga hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu."
"Ah, jeongmal²?, Waaaah! Kau beruntung sekali!" Sutradara Park tersenyum senang.
Ayla tertawa kecil. "Ya, saya beruntung."
Sutradara Park mengangguk-ngangguk. "Ngomong-ngomong, aku sudah menghubungi Nam Jaewon."
Mata Ayla membelalak. "Apa? Kenapa?"
"Waktumu hampir habis. Aku hanya berjaga-jaga. Kita sudah terlalu lama menunda," jelas Sutradara Park.
"Tapi..."
"Tenang saja. Aku menyuruhnya mengisi second lead," timpalnya, berusaha menenangkan Ayla.
"Tapi, jika Eunseo tetap tidak mau, maka dia yang jadi first lead-nya. Ngomong-ngomong, saat ini mereka berdua sedang bersaing. Kau tahu, kan?"
Oh, jelas saja Ayla tahu. Namun, Ayla tak begitu menyukai Nam Jaewon.
"Nam Jaewon sama bagusnya dengan Kang Eunseo. Makanya aku menaruh namanya dalam daftar. Selain visualnya yang tampan, aku suka bagaimana dia bisa mengubah ekspresinya dengan cepat," jelas sutradara Park. "Kau tahu? Ah sangat sulit untuk dijelaskan, kuharap kau paham maksudku,"
Ayla hanya mengangguk dan tersenyum setuju. Walau tak dipungkiri Nam Jaewon memang hebat. Tapi menurut Ayla, Eunseo tetap yang terbaik.
"Sambil menunggu, aku ingin besok kau pergi ke Busan. Busan adalah salah satu tempat dalam ceritamu, kan? Untuk mempercepat waktu, kita sambil survey tempat-tempat yang akan kita gunakan untuk syuting nanti," jelasnya.
"Saya?" Ayla memastikan bahwa ia tidak salah denger. "Sendirian?"
"Tidak. Kau pergi dengan Yoona nanti. Aku tidak sejahat itu mengirimmu ke sana seorang diri," jawab Sutradara Park.
Ayla merasa lega. Beruntung Ayla punya teman sebaik Yoona. Ayla belum pernah ke Busan sama sekali. Pekerjaannya membuatnya selalu sibuk hingga tak sempat untuk berkunjung. Padahal, Busan adalah tempat yang paling ingin Ayla datangi.
Ia bisa bekerja sambil mencari-cari informasi tentang ibunya di sana. Barangkali ia bisa bertemu dengan ibunya, atau sodaranya, atau tetangganya. Ah, siapa saja, yang penting kenal dengan ibunya.
🌻🌻🌻
Langit oranye menyapa dua gadis cantik yang sedang menikmati hangatnya butiran pasir. Desiran ombak dan suara burung camar menyambut mereka. Ini pertama kalinya Ayla mengunjungi pantai di Korea.
Senyumnya terus merekah saat kakinya mulai menginjak terminal tadi. Ayla tak berhenti tersenyum, sesekali ia berlari, sesekali ia bersenandung. Yoona sampai heran dibuatnya.