“Katanya sih, ibunya selingkuh,” ucap seorang wanita paruh baya berdaster batik motif bunga merah dan biru.
“Ih, beneran?” tanya seorang wanita paruh baya dengan kantong plastik berisi sayuran di tangannya. “Gak nyangka deh saya!”
“Iya, saya juga gak nyangka. emang dasar ya, orang luar. Lagian, so soan nikah sama orang luar. Akhirnya, orangnya pergi ke negaranya sama selingkuhannya itu,” timpal wanita berdaster itu.
"Iya ya bu? Padahal yang lokal juga masih banyak yang cantik. Masih banyak yang baik,"
“Eh, eh, sst! Ibu dengan daster motif batik bunga itu menoel ibu yang sedang membawa belanjaan itu, bermaksud menunjuk seorang gadis SMP yang berjalan melewati mereka.
“Kok jam segini baru pulang, Ay?” Tanya wanita berdaster itu, sedikit teriak.
Gadis itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan wanita berdaster itu.
“Hiiiiiih, sombong. Pantesan dia gak diajak sama ibunya itu,” ucap wanita berdaster itu.
Sudah satu bulan kiranya, telinga Ayla terasa panas sebab mendengar cuitan ibu-ibu kampung tentang ibunya yang tak kunjung kembali.
Hatinya seperti tertusuk tombak. Berkali-kali Ayla remaja terus mengucapkan sebuah kalimat, “Semua itu gak benar, Ay. Eomma gak mungkin selingkuh dan sengaja ninggalin kamu. bentar lagi Eomma pasti pulang… PASTI…”
Sampai 1 tahun berlalu, kalimat itu belum juga terbukti.
Ayla memegangi perutnya yang ramping. Sejak pagi, belum ada satu suap nasi yang masuk ke perutnya. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah dapur, berharap masih ada sisa nasi untuk mengganjal perutnya.
Tangannya membuka tudung saji berwarna pink lusuh di atas meja kayu tua. Senyumnya merekah saat melihat masih ada sepiring nasi yang tersisa.
“Ah, ada!” Ucapnya girang.
Matanya melirik ke sana ke mari, memastikan keberadaan ibu tirinya.
“Yes! Aman.“ Ucap Ayla senang.
Dengan tergesa-gesa, mengambil piring itu. Ia memutuskan untuk menyantap nasi itu di dalam kamarnya yang sempit dan lembab.
“HEH! NGAPAIN LO?” Sebuah suara melengking memergoki dirinya yang baru saja berjalan beberapa langkah dari dapur.
Langkahnya terhenti, tubuhnya menegang, jantungnya berdebar kencang, piring yang dipegangnya bergetar.
Wanita dengan perawakan gendut itu bernama Ratna, ia adalah ibu tirinya. Ayah Ayla menikah lagi tak lama setelah ibunya pergi.
“Oh, udah berani nyuri, ya!“ Tuduh Ratna.
Ratna celingak celinguk mencari sapu yang biasa Ia gunakan untuk memukul Ayla.
“SINI!“ bentaknya sambil menunjuk-nunjuk sapu itu ke arah Ayla.
"A.. ampun bu. Ayla laper, Ayla belum makan dari pagi!” Ayla berjalan mundur, berharap bisa menghindari pukulan itu kali ini.
“Enak aja mau makan gratis di sini. Minta sana sama ibu lo yang tukang selingkuh itu!” Ucap Ratna sembari memukul tubuh kurus Ayla tanpa ampun, membuat piring yang di bawanya jatuh berserakan.
“Aw, Bu! Sakit, Bu! Ampun! Sakit!“ Teriak Ayla.
Ratna tidak peduli dengan teriakan Ayla. Ia tidak pernah peduli, meskipun Ayla menangis dan kulitnya sudah membiru, ia akan terus memukulnya sampai dirinya merasa puas. “Gara-gara lo, hidup gue jadi susah tahu gak? Lo pikir enak apa ngurusin anak sial dan bapak lo yang tukang mabok itu, HAH?”
“Ampun bu! Maafin Ayla! Ampun!”
Wanita itu melempar sapu itu, napasnya tersengal-sengal. “Bangun lo!“
Ayla yang meringkuk lemas di atas lantai berusaha untuk bangkit. Namun gagal.
“BANGUN!“ Bentak Ratna.
Ayla berusaha lagi untuk bangkit tetapi sia-sia. Punggungnya terasa panas, rasanya seperti kumpulan jarum menghantam punggungnya tanpa ampun, berdenyut dan perih.
Kepalanya terasa pusing. Perutnya terasa bergejolak, napasnya mulai sesak. Ayla menyentuh dahinya. Air matanya mulai turun.
Wanita itu menatap Ayla dengan tatapan geram. Ia menghampirinya lalu menarik rambut Ayla dengan keras. “Denger ya! Kalau lo mau makan, Kerja! Dari kemaren gue bilang buat kerja sama si germo itu. Kenapa lo gak pergi-pergi juga! Perlu gua seret buat ke sana, hah?“
Ayla menggeleng, tangisnya mulai pecah. “Ampun bu. Ayla mohon, jangan jual Ayla.“
“Ntar malem, siap siap aja lo buat ke sana ikut gua, ngerti lo!“ Wanita itu membanting Ayla dengan keras lalu pergi meninggalkan Ayla.
BRAK!
Suara pintu di banting dengan keras oleh seorang laki-laki brewokan. Pakaiannya lusuh, rambutnya berantakan, matanya merah.
Laki-laki itu berjalan agak sempoyongan lalu menenggak botol berwarna hijau yang ada di genggamannya.
Darwin, seseorang yang dulu membelai lembut rambut putri kecilnya, berbicara manis dan selalu memanggil nama Ayla dengan lembut. Ia yang dulunya menatap putrinya dengan penuh cinta hingga akhirnya berubah menjadi tatapan kebencian.
Ratna yang mendengar Darwin membanting pintu kembali ke dapur. “Tau balik juga lo. Mana? Duit? Buruan?” Pintanya
Darwin merogoh saku celananya, menempelkan tangannya ke tangan wanita gendut itu. Di tangannya hanya ada pecahan seribu dan dua ribuan yang kalau di hitung jumlahnya tak sampai 50 ribu.
Bola mata Ratna melebar. “Lo bercanda?”
“Ntar gue kasih lagi yang banyak kalau ntar malem menang maen gaple,“ ucap Darwin ngawur.
Darwin berjalan melewati Ayla yang meringkuk di lantai. Ia bahkan tak menyapa Ayla. Jangankan menyapa, menoleh pun tidak.
Ayahnya itu tidak peduli lagi dengan Ayla. Setiap hari kerjaannya hanya minum dan berjudi. Entah apa yang merasukinya hingga ia tak peduli lagi dengan dirinya sendiri dan anak gadis semata wayangnya.
Hari demi hari berlalu. Ayla meringkuk di atas kasur tipis dan lembab. Tubuhnya panas, luka lebam di punggungnya membuatnya sulit bergerak. Setiap kali bergerak, otot punggungnya terasa kaku, tulangnya seperti mau patah.
Tiba-tiba pintu di banting, menimbulkan suara keras yang membuat Ayla meringis kesakitan.
Ratna yang muncul di ambang pintu melemparkan kain berwarna hitam. Kain hitam itu jatuh tepat di wajah Ayla.