Ayla mematung di lift, sementara Eunseo berjalan meninggalkannya.
Merasa Ayla tidak mengikutinya, Eunseo berbalik. “Kau ingin terjebak di sana dan jatuh?”
Mata Ayla membelalak, ia buru-buru mengejar Eunseo. Sudah cukup kejadian malam ini. Ia tidak ingin membuatnya bertambah parah.
Eunseo tersenyum tipis, ia memelankan langkahnya agar bisa sejajar dengan Ayla.
“Kita mau kemana?” Tanya Ayla. Ia kebingungan sendiri. Sementara yang ditanya tidak menjawab.
Ayla melirik ke sana kemari. Memperhatikan setiap dinding yang kosong. Dinding itu berwarna putih gading. Tak ada pajangan apapun di sana. Sementara lantainya berlapiskan granit, Bersih dan berkilau.
Tak jauh dari lift, sebuah pintu menyapa Ayla. Eunseo berhenti tepat di pintu itu.
Ayla bengong, sesekali menatap Eunseo. Eunseo menekan beberapa kode di dekat pintu itu.
“Eunseo mau bawa aku kemana sih? Ini kita masuk nih?” Pikir Ayla.
Eunseo masuk lalu membuka sepatunya. Sementara Ayla hanya mematung di ujung pintu.
Menyadari kekikukan dan keraguan Ayla. Eunseo meninggalkan Ayla dan masuk ke kamarnya yang ada di ujung lorong, tanpa menyuruh Ayla masuk terlebih dahulu.
Ayla berdecak. “Apa maksudnya itu?”
Tak lama kemudian, Eunseo kembali dengan beberapa pakaian dan handuk di tangannya.
“Masuklah! Akan sangat merepotkan jika ada seseorang yang memotret dirimu,” pinta Eunseo saat dirinya sudah berada dekat dengan pintu.
Ayla tak punya pilihan lain. Apa yang dikatakan Eunseo memang benar adanya.
Ayla melangkah masuk tetapi ia tidak menutup pintu. Ia masih khawatir dan belum yakin apakah dirinya benar-benar harus melakukan hal ini.
Sebagai seorang muslimah, pantrang baginya masuk ke rumah seorang lelaki yang bukan mahramnya, apalagi hanya berdua. Namun, keadaan Ayla benar-benar menyudutkannya.
Ayla tak punya kenalan. Ayla takut sendirian jika harus menginap di hotel setelah apa yang terjadi. Pakaian yang dikenakannya setengah kering, tas ranselnya kotor dan basah begitupun dengan pakaian yang ada di dalamnya. Hanya Eunseo yang dikenalnya dan hanya Eunseo yang membuatnya merasa aman.
Ayla tahu Eunseo tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya. Ayla percaya sepenuhnya pada Eunseo.
Eunseo menatap Ayla. Apa yang di pikirkan Eunseo justru berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Ayla. Eunseo masih mengingat prinsip Ayla yang tidak ingin berdekatan dan bersentuhan dengan lawan jenis. Eunseo juga tahu jika Islam melarang umatnya untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan keluarganya. Eunseo belum terlalu paham dari arti kata mahram, tapi dari yang ia pelajari, Mahram artinya keluarga.
Eunseo menyodorkan baju dan handuk yang ada di tangannya. “Pakai ini. Aku tidak punya baju perempuan, kuharap baju ini bisa membuatmu nyaman.”
Ayla terdiam, ia mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bawahnya. “Tidak ada tempat lain yang lebih aman selain rumahku ini. Memangnya kau mau menginap sendiri diluar setelah apa yang terjadi?”
Mata Ayla melebar. "Hah? Ini rumah Eunseo? Bukannya dia tinggal di Gangnam?” Pikir Ayla, Ayla jadi meragukan ucapan manajer Kim waktu itu.
Eunseo menggigit bibirnya. “Cepatlah! Tanganku mulai pegal."
“Ah iya, maaf.” Ayla benar-benar tak punya pilihan.
Eunseo kemudian berjalan ke arah pintu berwarna hitam yang tak jauh dari Ayla berdiri lalu membuka pintunya. “Kau bisa tidur di sini. Di dalam sudah ada kamar mandi. Aku tidak akan keluar kamar sampai pagi. Jadi kau tenang saja.”
Ayla tak menjawab. Entahlah, ia bingung harus menjawab apa. Terlalu banyak yang menimpanya malam itu.
“Jika kau bosan dan ingin keluar kamar. Keluar saja, aku akan diam dikamarku.”
Ayla tak berkutik…
“Itu saja, semoga tidurmu nyaman. Aku kembali ke kamarku,” ucapnya, lalu berjalan meninggalkan Ayla."A, jangan lupa tutup pintunya.”
Setelah itu, Eunseo benar-benar meninggalkan Ayla seorang diri di ujung pintu. Baru saja Eunseo menekan pintu kamarnya, “Eunseo-ya!”
Eunseo menoleh, menatap Ayla yang tersenyum manis padanya. “Terima kasih… terima kasih untuk semuanya.”
🌻🌻🌻
Ayla menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang besarnya dua kali lipat dari kasur di apartemennya. Bantalnya besar dan empuk. Ada empat bantal dan selimut yang tebal. sayang sekali tidak ada guling di sana.
Ayla baru saja selesai mandi dan shalat. Tubuhnya kini sudah bersih,hangat dan nyaman. Sabun di kamar mandi milik Eunseo itu wangi. Aromanya sangat menenangkan. Ayla tak bisa menebak wangi apa itu.
Ayla mengenakan celana panjang berwarna abu-abu muda dan sweater berwarna hitam yang kebesaran di tubuhnya. Beruntungnya pinggangnya di design dengan menggunakan tali, jadi untuk pinggangnya bisa menyesuaikan dengan pinggang Ayla yang kecil.
Ayla menatap langit-langit kamar itu. Suara derasnya hujan tidak terdengar lagi. Tak ada suara apapun di kamar itu. Sunyi…
Ayla mengingat kembali kejadian tadi, lalu ia mengingat kembali kejadian 10 tahun lalu yang menimpanya. Saat dirinya akan di jual oleh ibu tirinya.
Matanya mulai basah dan perih, pipinya terasa panas. Ayla mengubah posisi tidurnya, ia bersedekap di atas ranjang mewah milik Eunseo sembari memeluk dirinya sendiri. Tetes demi tetes air mata itu mulai jatuh. Ayla mulai terisak. Ia menutup mulutnya agar tidak berisik. Ayla khawatir suara tangisnya akan mengganggu.
Ayla mengusap-ngusap punggungnya. Pikirannya kini sudah seperti CD player yang sedang di putar.
Ayla tersentak saat mendengar suara pintu diketuk. Ayla berusaha menenangkan dirinya. Ia mengusap air matanya, meraih syal hitam milik eunseo yang ia taruh di ujung ranjang lalu memakainya sebagai pengganti hijab.
Ia berjalan ke arah pintu. Sekali lagi, Ayla memastikan tidak ada bekas tangisan di wajahnya.
Ayla membuka pintu pelan, tapi tak mendapati seseorang di sana. Awalnya Ayla pikir itu adalah Eunseo. Tapi, tak ada seorang pun di sana. Ayla melihat ke kanan, ke kiri. Tak ada siapapun. Pandangannya melihat ke bawah. Sebuah nampan dengan ramen yang masih mengepul serta secangkir teh panas, dan ada secarik kertas kecil di pinggirnya.
Kuharap kau menyukainya - Eunseo.
Ayla tersenyum, ternyata ia tidak benar-benar sendiri. Walaupun Ayla tidak tahu dan masih belum mengerti dengan sikap Eunseo yang berbeda, tidak seperti saat mereka pertama kali bertemu di Itaewon. Eunseo yang sekarang, terasa sedikit lebih hangat.
Ayla mengambil nampan itu lalu menatapnya lekat-lekat. Senyumnya mengembang, sebuah kenangan terlintas dalam benaknya. Semangkuk ramen mengingatkan Ayla pada semangkuk indomie.
🌻🌻🌻
Ayla berdelik, sebuah rasa hangat yang menyentuh ujung matanya membuatnya terbangun. Cahaya itu menyilaukan matanya. Ayla berusaha meraih ponsel yang ia letakkan di meja samping ranjang yang besar itu. mata Ayla membelalak. “Astagfirullah, kesiangan!”
Selesai salat subuh, Ayla duduk di pinggir kasur. Tangannya mengelus-ngelus tubuhnya yang seperti di tusuk jarum. Matanya terasa panas begitu juga dengan pipinya.