Rekah

Mildha Rani
Chapter #8

Bab 8 - Daejeo Park

Ayla menaruh piring terakhir itu di rak. Ia baru saja selesai mencuci piring. Matanya melirik setiap sudut ruangan itu. Lalu, lirikannya berhenti pada sebuah pintu yang terbuka di ujung ruang tamu.

Ayla berjalan menuju pintu terbuka itu. Sebuah ruangan kosong menyapanya. Ada sebuah kursi panjang di tengah-tengah ruangan itu. Ruangan itu di kelilingi kaca tembus pandang. Lewat kaca itu, ia bisa melihat langit dengan sangat jelas. Cahaya matahari dengan bebas masuk ke dalam ruangan itu. Lantainya berlapiskan tanah dan baru-batu kecil. Ada beberapa pot kecil berjejer di sana. Namun, belum ada satupun tanaman yang tumbuh.

Ayla duduk di kursi panjang itu, punggungnya ia sandarkan pada kursi hangat itu. Langit biru menyapanya hangat. Ia memejamkan matanya, hangatnya matahari pagi Busan mengalirkan rasa nyaman. Tubuhnya yang terasa sakit saat bangun tidur tadi berangsur membaik.

Sebuah suara benda terjatuh membuat Ayla mengerjap.

"Oh astaga, sepertinya aku membuatmu terkejut. Apa yang sedang kau lamunkan nona muda?"

Ayla tersenyum malu. "Tidak. Hanya sedang menikmati matahari pagi."

Bibi Nam tersenyum ramah. "Apakah senyaman itu?"

Ayla masih dengan senyuman malunya."iya."

Bibi Nam menghela napas. "Menikmati alam memang selalu menyenangkan. Aku juga sering begitu dulu, tapi tidak di dalam ruangan seperti ini,"

"Oh ya?" Tanya Ayla.

"Iya, dulu aku sering naik turun bukit bersama suamiku. Hanya bukit kecil. Kami juga sering piknik bersama dengan anak-anak kami," mata bibi Nam berbinar saat mulai menceritakan anak-anaknya.

"Saat itu, mereka benar-benar sangat lucu. Mereka sering berlarian lalu tertawa bersama," bibi Nam kini mulai tersenyum.

"Kami sering memasak di bukit itu. Di tumpu kayu yang kami buat sendiri dengan batu besar sebagai tempat memanggangnya. Kau harus coba nak! Makanan yang dimasak seperti itu rasanya jauh lebih enak," mata Ayla melebar saat bibi Nam membicarakan soal makanan.

"Aku jadi ingin mencobanya," ucap Ayla spontan.

Bibi nam terdiam. "Kau sepertinya tukang makan ya?"

"Tentu saja, semua orang suka makan. Memang ada orang yang tidak suka makan?"

"Banyak! Bahkan anak-anak ku setelah mereka menjadi dewasa, entah kenapa mereka malah jadi malas makan. Kau harus lihat badan mereka yang kurus itu. Padahal aku sering mengirim makanan agar mereka makan dengan baik dan punya tubuh yang sehat. Tapi mereka malah memprotes hal itu. Bilang kalau makanan yang kuberikan untuk mereka itu bisa membuat berat badan mereka naik... aigooo!" Bibi Nam terus mengoceh, sedangkan Ayla tersenyum menanggapi.

"Aigoooo! Aku terlalu banyak bicara. Maaf membuatmu tidak nyaman,"

"Oh tidak, bibi santai saja," Ayla menggeleng-ngelengkan tangannya.

Bibi Nam tersenyum, Ayla juga membalas senyuman bibi Nam.

Ayla melirik-lirik sekitar."Ngomong-ngomong, apa Eunseo berencana membuat kebun di dalam apartemen ini?"

"Ah ini. Bukan... ini bukan Eunseo yang minta," bibi Nam melirik-lirik lalu diam sebentar. "Aku bingung harus ku apakan dengan ruangan ini. Kupikir sepertinya bagus jika ada tanamannya. Eunseo sering duduk melamun di sini berjam-jam," bibi Nam lalu menghela napasnya. "Anak itu... Anak itu juga sama saja," ucap bibi Nam tiba-tiba membuat alis Ayla terangkat.

"Dia sering sekali melamun duduk di sini dengan wajah sedihnya itu. Anak itu sangat susah ditebak. Bersabarlah dengannya..." Bibi Nam menghela napas lagi.

"Jadi kutanam beberapa tanaman di sini. Ini semua bibit dari tanaman di rumah ku. Kuharap tanaman-tanaman ini kelak bisa membuatnya ceria lagi seperti dulu,"

Ayla tersentuh, matanya berbinar. Bibi Nam ternyata sangat baik. Jarang sekali ada asisten rumah tangga yang sepengertian seperti bibi Nam.

Ayla juga merasa Eunseo yang sekarang sangat pendiam. Ia tak banyak bicara, berbeda dengan saat Ayla pertama kali bertemu dengannya.

"Ngomong-ngomong Agassi, siapa namamu?"

"Namaku Ayla." Jawab Ayla sopan.

"Sepertinya kau bukan orang Korea asli?"

Ayla tersenyum."Aku lahir di Indonesia. Ayahku Indonesia sementara ibuku dari Korea. Dia berasal dari sini,"

"O jeongmal? Dia dari desa mana?"

Ayla menggeleng. "Aku tidak tahu. Ibuku tidak pernah cerita. Kami belum bertemu lagi sejak umurku 12 tahun,"

"Aigooooo, kau sudah mengalami masa yang sulit ternyata," bibi Nam menepuk-nepuk lalu mengelus-ngelus punggung Ayla. Ayla hanya tersenyum.

"Jadi... " dering ponsel memotong percakapan antara Ayla dan bibi Nam. Itu dari Yoona. Ayla melirik bibi Nam sebelum mengangkat telpon. "Cepat angkat, siapa tahu penting," Ayla mengangguk.

"Yeoboseyo!" Sapa ayla, namun yang menelpon justru tak merespon.

"Yoona-ah! " Tak ada jawaban. Tak lama telpon itu mati dengan sendirinya. Kening Ayla mengkerut tak mengerti. Lalu Ayla menyimpulkan mungkin ia tidak sengaja menekan.

Ayla melihat jam di ponsel milik Yoona itu. Mata Ayla melebar, ternyata waktu sudah semakin siang. Ayla harus cepat bergegas. Ah sial, tapi apa yang harus Ayla lakukan?

Lagi-lagi masalahnya terpikirkan kembali.

"Kenapa Nak?" tanya bibi Nam risau.

🌻🌻🌻

Ayla keluar dari kamar dengan tas yang ia kaitkan di pundaknya.

"Kau sudah siap?" Tanya bibi Nam yang sedang membersihkan lantai dengan vacum cleaner.

"Sudah."

"Tunggu sebentar, tunggu aku menyelesaikan ini dulu," pintanya, Ayla mengangguk lalu duduk di kursi dapur bersama Eunseo yang sedang membaca sebuah naskah dengan secangkir kopi di sampingnya.

"Kalian mau kemana?" tanyanya membuat Ayla sedikit terkejut.

"Bibi Nam mau membantuku survey tempat untuk lokasi syuting nanti,"

Ayla beruntung, bibi Nam ternyata begitu pengertian bahkan pada orang asing seperti dirinya. Ayla menceritakan tentang masalahnya pada bibi Nam, dan bibi Nam tak segan untuk mengantarnya ke beberapa tempat.

Eunseo mengangguk-ngangguk lalu menenggak kopinya hingga tandas lalu mencucinya.

Lihat selengkapnya