Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.
Kalimat itu cukup untuk membuat Ayla menoleh dan kembali duduk di kursi panjang berwarna putih itu.
“Ada apa?” Tanya Ayla ketus.
Eunseo tersenyum miring. “Kau yakin bicara denganku dengan nada seperti itu? Padahal aku adalah orang yang akan kau rekrut?“
Pandangan Ayla melirik tajam, ia sedang tak ingin diatur, tak peduli dengan seseorang yang ada di depannya ini.
“Ok baiklah! Aku benar-benar minta maaf. Maaf jika caraku bercanda tidak lucu.“
Itu sudah maafnya yang kedua. Ayla menghela napas. “Ok… aku maafkan.“
“Kau masih lapar?“ Tanya Eunseo yang dibalas dengan tatapan heran Ayla. “Jika kau masih lapar, aku bisa menunggu sampai kau kenyang,“
Ayla diam, kini pikirannya harus memilih antara lanjut mengisi perutnya atau tidak.
“Kau sudah kenyang?” Tanya Eunseo lagi karena Ayla tak bersuara, “Apa kau tidak bisa memutuskannya?“
Ayla mengalihkan pandangannya. Matanya terpejam erat. Ngomong-ngomong, sejak kapan Eunseo jadi banyak bicara begini?
“Baiklah, aku akan langsung mengatakannya… Aku tidak bisa bermain dalam dramamu,”
Ayla menoleh dengan cepat. Tubuhnya terasa kaku. Ia bertanya-tanya tentang kebenaran yang baru saja didengarnya. “Tadi kau bilang apa?”
Eunseo mengulang lagi ucapannya dengan hati-hati. “Aku tidak bisa bermain dalam dramamu.”
Mata Ayla berkedip beberapa kali, mendadak sibuk mencari objek agar tak saling bertatapan. “Apa aku salah dengar?”
Wajah datar itu tak menunjukan ekspresi apapun, bahkan sekadar menunjukan rasa bersalah pun tak terukir di sana. “Tapi… kenapa?“
Eunseo mengangkat sebelah bahunya. “Kau pasti sudah mendengar bahwa aku menolak banyak drama? tanya Eunseo, namun Ayla tak menjawab. Pandangannya fokus pada Eunseo.
“Jadi sudah pasti bukan karena ceritamu tidak bagus.“
Sebuah kerutan muncul di dahi Ayla…
“Sungguh, ceritamu itu bagus.“ Eunseo menekankan.
“Kalau bagus kenapa kau menolak?“ Ayla masih bersikukuh.
Bibir Eunseo mendadak kaku. Ia kehilangan kata-kata. Sejak menerima naskah Ayla, pikirannya terus berkecamuk. Ada rasa tak tega jika harus melihat kekecewaan terpancar dari mata gadis itu. Namun, ia juga tidak mau membuat Ayla khawatir jika mengetahui kondisi yang sebenarnya.
“Aku ada alasan.” Wajahnya datar namun hatinya pilu. Eunseo mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa mengatakanya dengan baik.
Bahu Ayla merosot, Ia tak menjawab dengan amarah, memiliki hakpun tidak. Bertahun-tahun Ayla menunggu, berjuang dan berharap. Ternyata ia melakukan semua itu seorang diri.
Hatinya pilu menyadari bahwa dirinya bukanlah seseorang yang penting bagi Eunseo, serta janji yang pernah diucapkan bersama… Ah… bahkan sepertinya janji itu juga terlupakan.
Rasa perih mulai menjalari mata Ayla, membuatnya menunduk dan menatap sepatunya buram. Ayla mengigit bibir bawahnya, meremas erat gamisnya.
Matanya yang mulai memerah menatap tajam ke arah Eunseo. “Baiklah…” ucap Ayla parau, ia menyentuh ujung hidungnya. “Terima kasih… setidaknya… aku jadi tidak perlu menunggumu lagi.”
Ayla bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh, meninggalkan Eunseo yang sedari tadi mengutuk dirinya karena membuat gadis itu terluka. Eunseo mengacak-ngacak rambutnya penuh frustasi, lalu menatap ke sembarang objek.
Ayla terus berjalan meninggalkan Eunseo. Sesekali ia menyeka air matanya yang ingin jatuh. Harapannya luruh seperti bunga yang mendadak layu sebelum dirinya merekah.
Sebuah amarah menyelimuti hatinya. Bukan karena penolakan, melaikan karena janji yang tak ia tepati.
Kang Eunseo, ia tak menepati janjinya.
🌻🌻🌻
Sebuah rumah tradisional menyambut kedatangan Ayla. Sebuah pohon Sakura tumbuh subur di gerbang rumah itu. Ayla menatap pohon itu lekat-lekat, hembusan angin membuat kelopak bunga itu berterbangan. Beberapa kelopak menyentuh pipi Ayla dengan lembut, seolah ingin menghapus jejak air mata yang menempel di pipinya.
Tak hanya itu, rumah itu di penuhi bunga-bunga di sekitaran dinding-dinding yang melindungi rumah itu. “Bibi Nam keknya suka banget sama bunga.” Batin Ayla.
“Ayo, masuk. Anggap saja rumah sendiri, “ ucap bibi Nam ramah, “Eunseo-ga! Ayo masuk. Jangan berdiam diri saja.”
“Kalian saja, aku harus pulang.”
“Aigooo! Anak ini benar-benar. Kau mau pulang naik apa? Mobilmu saja tidak bisa jalan. Kau sebaiknya jual dan beli yang baru. Ayo, cepat masuk. Sekali-kali temanilah orang tua ini.” Bibi Nam mengomel tanpa henti, “Cepat! Masuk, tidak perlu sungkan… Agassi! Ayo masuk, biarkan saja anak itu diluar. Biar dia kedinginan.”
Ayla memilih menurut, ia tak mau menjadi korban omelan bibi Nam juga.
Eunseo berdecak dan menatap tajam ke arah bibi Nam. Dalam hati, ia mengutuk mobilnya yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Mobil yang telah ia rawat dengan sepenuh hati itu seperti tak tahu cara balas budi. Hal itu malah membuat Ayla menjadi semakin menderita dan menghancurkan harga dirinya.
“Ya! Kau mau masuk atau tidak? Jika kau tidak ikut menginap di sini malam ini, siapa yang akan mengantar nona cantik ini?” Teriak bibi Nam dari dalam. Teriakannya semakin menjadi-jadi.