Ayla menarik kedua lengannya dari cengkeraman Eunseo. Bola matanya menatap ke sembarang tempat sementara tangannya memperbaiki kerudung yang sebenarnya tidak berantakan.
”Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Tanya Eunseo.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu,” Ayla menatap Eunsep tajam. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”
Yang ditatap mengangkat sebelah bahunya acuh. “Tidak ada. “
Tatapan Ayla semakin tajam, setajam pisau yang tak sabar ingin segera menusuk musuhnya.
“Aku hanya tidak bisa tidur,” jawab Eunseo kikuk. Namun, jawabannya tak membuat tatapan tajam itu melunak.
“Sungguh, aku tidak bisa tidur.”
Ayla melirik ke arah lain sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata dalam bahasa Indonesia. “Dasar aneh.”
Keningnya mengkerut, Eunseo kesulitan memahami ucapan gadis itu. Ia ingin bertanya, namun Ayla sudah satu langkah menjauhi dirinya; menandakan ia tidak berminat melanjutkan percakapan dengannya.
Di tengah keheningan, suara gemuruh kecil menghentikan langkah Ayla. Ia berbalik menatap laki-laki yang belum mengubah posisinya. Tubuh jangkung itu sepertinya masih nyaman bersandar pada kulkas yang tingginya tak melebihi tubuh laki-laki itu. Matanya menyipit, memperhatikan Eunseo dengan serius layaknya seorang detektif profesional.
“Apa? Ada apa?” Tanya Eunseo canggung.
Seperti sebuah bom, Ayla berusaha agar bom itu tidak meledak keluar dari dalam mulutnya. Tetapi, ia mengalami kesulitan sehingga telapak tangannya juga harus ikut menutupi mulut mungil itu.
Suara gemuruh kecil itu muncul kembali untuk yang kedua kalinya, membuat bom dalam mulut Ayla meledak bebas keluar.
“Menurutmu itu lucu?”
Dengan sisa-sisa tawanya, Ayla berusaha untuk berbicara. “Maaf, bukan maksudku begitu. Hanya saja, pft..”
Oh sial, Ayla kesulitan menahan tawanya.
“Maaf! Maaf!” ucap Ayla dengan sedikit tawanya.
Gadis itu berusaha mengontrol dirinya dengan cara menarik napas berulang kali.
“Baiklah, jadi… kau mau makan apa?” Tanya Ayla, melangkah mendekati Eunseo.
“Entahlah, tidak ada apapun di kulkas,” jawab Eunseo acuh tak acuh.
Lengan Ayla menggenggam pintu kulkas, membuat laki-laki itu melepaskan sandarannya dan bergeser sedikit untuk memberi gadis itu ruang. Ia melihat isi kulkas sekilas lalu menutupnya kembali. Pandangannya beralih ke rice cooker di samping kulkas, membuat Eunseo melangkah jauh untuk memberi gadis itu ruang yang lebih besar. Ayla membuka rice cooker itu lalu mengangguk-ngangguk. Jarinya meraih aepron yang tergantung di tembok dekat lemari atas lalu memakaikan di tubuh mungilnya.
“Baiklah, biar kubantu.” Ucap Ayla.
“Kau? Memasak untuk ku?” Tanya Eunseo tak percaya.
“Memangnya kenapa?” Tanya Ayla, “kau meragukan masakanku?”
“Memangnya masakanmu enak?” Tanya Eunseo meremahkan.
Ayla berdecak. “Kita lihat apa kau bisa bicara seperti ini lagi setelah memakan masakanku.”