Rekah

Mildha Rani
Chapter #11

Bab 11 - Pertemuan pertama denganmu

Suara gesekan rumput itu mulai sunyi, Ayla menghentikan langkah, Ia menatap hamparan rumput liar setinggi pinggang. Pandangan beralih ke sepatunya yang tak lagi menginjak jalan setapak melainkan rumput-rumput liar.

Pundak Ayla naik turun, suara debar dari jantungnya terdengar jelas. Keringat membasahi tubuh yang berbalut jaket parasut berwarna merah muda. Ayla menjilati bibirnya yang kering lalu menggigit bibir bawah. Tangannya mencengkeram botol air mineral yang hampir kosong. Langit biru yang terakhir kali Ayla lihat kini sudah berubah rupa menjadi warna oranye bercampur merah.

Suara kicauan burung menemani Ayla dalam keheningan hutan rimbun. Angin sore yang menerpa mulai terasa menusuk, menyentuh sampai ke titik terdalam tubuh. Bola matanya celingak celinguk menatap sekitar, berharap ia dapat menemukan sebuah petunjuk untuk menemukan rombongan pendakinya. Namun, di depannya hanya ada pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.

Pandangannya mengabur, suara kicauan burung yang semula merdu kini membuat tubuh merinding ketakutan. Matanya perlahan mulai basah menyisakan panas yang menjalar di pipi. Tak butuh waktu lama menunggu air mata itu jatuh.

Kedua kaki Ayla tak lagi mampu melangkah, ia tak mampu lagi membawa beban tubuhnya itu. Perlahan ia mulai merosot meninggalkan tatapan kosong, terduduk lemas seolah tertarik oleh gravitasi yang mencoba menariknya. Ia menatap rumput yang kini menjadi alas duduknya, jalan pikirnya penuh dengan skenario yang buruk.

Bagaimana jika ada macan?

Bagaimana jika ada setan yang membawanya ke dimensi lain?

Bagaimana jika sukma-nya di tarik paksa?

Bagaimana jika ia mati kelaparan?

Bagaimana jika ia tidak kembali?

“Ya Allah! Harus kemana lagi? Harus gimana lagi?” batin Ayla.

Bukan ini tujuan Ayla mendaki gunung. Bukan ini tujuan ia bertamu di gunung Mahameru. Niatnya hanya ingin menenangkan pikiran dan hati. Bukan ini yang ia inginkan. Lagi-lagi, Ayla sendirian dalam kegelapan yang menusuk.

Tiba-tiba, tubuh Ayla menegang saat mendengar suara ranting yang di injak. Matanya terpejam erat, suara itu membuat debaran kencang yang membuat napasnya tersengal. Ayla berusaha keras untuk menoleh. Namun, tubuh seolah tidak menyetujui hal itu.

“Hei!”

Terdengar suara berat menyapa, membuat bola mata Ayla melebar. “I ini … suara manusia, kan?”

Are you lost?” Suara berat itu berbicara lagi.

Are you... human?” Tanyanya lagi.

Ia tak punya pilihan selain memaksakan diri untuk menoleh. Tampak seorang laki-laki dengan mata sipit berdiri di belakangnya dengan tatapan cemas. Ia memiliki wajah putih cerah dengan sedikit polesan tanah, mengenakan jaket parasut berwarna biru bercampur tanah serta topi hitam yang menghiasi rambutnya.

Are you okay?” Tanya laki-laki itu cemas.

Pundak Ayla yang semula terasa kaku kini mulai berangsur luruh. Jantung yang semula berdebar kencang perlahan mulai kembali ke ritme normal. Air mata kembali luruh, telapak tangan menutupi wajah Ayla. “Alhamdulillah, Ya Allah… Akhirnya ketemu orang juga...

🌻🌻🌻

“Jadi, namamu Ayla?” tanyanya, Ayla membalas dengan anggukan.

“Aku Eunseo, Kang Eunseo. Kau bisa memanggilku Eunseo.” Ucapnya dengan senyum menghiasi wajahnya, ia menyodorkan tangan berniat mengajak Ayla salaman.

Ayla yang tak terbiasa bersentuhan dengan lawan jenis menakupkan kedua telapak tangannya. Namun, hal itu membuat Eunseo tersenyum miring, lalu menatap telapak tangannya yang kotor.

Lihat selengkapnya