Suara dari kayu kering berderak dengan api yang meletup-letup ke udara memecah keheningan malam di Ranu kumbolo. Hawa panasnya berhasil menyelamatkan dua manusia dari udara dingin yang hampir menyentuh suhu nol derajat. Jari jemari Ayla memeluk secangkir teh panas dengan erat, tubuhnya di balut dengan selimut.
“Kalian santai aja ya. Kalau perlu apa-apa, kabarin aja.” Ucap seorang laki-laki yang mengenakan jaket merah dengan tulisan “Porter” di belakangnya.
Ayla mengangguk. “Terima kasih, mas!”
Eunseo menatap Ayla, tak mengerti maksud dari ucapan Porter. Ia berharap Ayla menjelaskan artinya. Namun, gadis itu justru tampak sibuk sendiri; memperbaiki posisi duduk, memperbaiki selimut yang turun, lalu kembali memeluk erat cangkir teh panas.
Kepulan asap membelai lembut wajah Ayla, membuat kerutan di kening perlahan menghilang. Wajah yang semula terasa tegang berangsur membaik. Sudut cangkir menyentuh bibir lalu ia menyesapnya secara perlahan, teh itu mengalir ke kerongkongan, membiarkan kehangatan menguasai tubuh sepenuhnya.
Pandangan Eunseo belum beralih, bola matanya begitu melekat memandangi gadis itu hingga tak menyadari jika sedari tadi ia tak berkedip. Sementara yang ditatap asik dengan dunianya sendiri.
Ayla menghela napas lega lalu membuka matanya. Begitu Ayla membuka mata, Eunseo buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia menggaruk lehernya yang tak gatal sembari menatap ke sembarang arah.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Ayla risau.
Eunseo menoleh cepat. “Apa? Aku? Tidak, aku tidak apa-apa.”
Eunseo meraih gelas berisi teh yang sedari tadi di abaikannya, lalu meminumnya. “Ah! Panas!”
“Hei! Hati-hati.” Ucap Ayla terkejut, matanya menatap Eunseo risau. “Kau tidak apa-apa. Aku tahu kau kedinginan. Tapi sabar dulu, tenggorokanmu bisa terbakar.”
Eunseo diam tak berkutik…
“Perhatikan ini!” Ayla mendekatkan teh itu ke wajahnya lagi, memejamkan mata, menikmati kembali kepulan asap yang memberikan rasa hangat. Lalu tak lama, Ayla membuka mata, lalu tersenyum pada Eunseo. “Cobalah!”
Eunseo mencoba apa yang baru saja dilakukan Ayla. Ia bersikap seperti seseorang yang baru saja melakukannya. Walaupun memang ia tak pernah terpikir untuk menikmati kepulan asap dari secangkir teh panas, ia juga belum pernah minum teh dengan menghirup aroma tehnya terlebih dahulu.
“Bagaimana?” Tanya Ayla serius.
Matanya masih terpejam, bahu yang semula menegang perlahan mulai turun, rasa sesak di dada berangsur membaik.Serta Wajahnya yang semula terasa kaku mulai lebih baik.
Mata itu perlahan terbuka.”Kau benar, ini membuatku lebih baik,”
Senyum manis menghiasi wajah Ayla, ia senang jika hal itu bisa membantunya. Pandangannya beralih menatap langit, pupilnya membesar melihat lautan bintang yang menyapanya. Senyum Ayla semakin lebar. “Cantik, Cantik sekali!”