Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #11

Tangisanmu, Lukaku

Angela menjauh dari Ronald. Kesadaran perlahan menyelinap ke benaknya—tidak seharusnya mereka berpelukan seperti dua orang yang telah saling mengenal begitu lama. Dengan cepat, ia menghapus air mata yang masih membasahi pipinya, menghapus jejak-jejak emosi yang tadi meluap tanpa kendali.

Sambil memunggungi Ronald, Angela berkata dengan suara yang bergetar, tapi tegas, “Lupain apa yang barusan terjadi.”

Ronald menatap punggungnya, bergeming. “Kenapa saya harus melupakannya? Itu sesuatu yang indah, Angela. Sesuatu yang pantas dikenang.”

“Nggak seharusnya kamu melakukan itu! Bahkan aku nggak tahu kamu siapa. Aku nggak kenal kamu sama sekali!” Angela membalas dengan nada tinggi, meskipun ada gemuruh ragu yang bergetar di dalam hatinya.

“Kamu akan tahu cepat atau lambat. Tapi, Angela, bukan saya yang memulai semua ini. Kamu sendiri yang melakukannya,” jawab Ronald tenang, nadanya penuh keyakinan.

Angela terdiam, matanya menunduk. Kata-kata Ronald memukul hatinya dengan kebenaran yang sulit diabaikan. Memang bukan lelaki itu yang memaksa pelukan tadi. Tanpa disadari, dirinya sendiri yang menginginkannya—mengizinkan tubuhnya merespons kehangatan yang selama ini dirindukannya. Sebuah kepedulian yang seolah asing baginya, tapi begitu nyaman.

Dia tetap berdiri di sana, membiarkan keheningan mengisi celah di antara mereka. Angela tidak tahu harus berkata apa, tidak pula tahu ke mana harus melangkah. Hatinya telah lama terluka, kecewa oleh mereka yang seharusnya melindunginya. Ia merasa seperti burung yang terperangkap di dalam sangkar, terhalang untuk mengepakkan sayapnya dan merasakan kebebasan yang sejati.

Ronald memperhatikan Angela dengan pandangan lembut. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih setangkai bunga melati yang tumbuh di pekarangan rumah di dekat mereka. Dengan hati-hati, ia menyelipkan bunga itu di telinga Angela.

Angela tersentak. Gerakan Ronald begitu mendadak, membuatnya terkejut. Ia ingin menolak, ingin melawan, tapi tubuhnya tak bergerak. Air mata yang tadi telah berhenti nyaris kembali mengalir, tapi ia menahannya. Angela tak ingin Ronald melihat betapa hancur ia setelah semua yang terjadi. Namun, pikirannya dipenuhi tanya. Mengapa Ronald memperlakukannya seperti ini? Lelaki ini—seorang asing—memberikan perhatian dan kehangatan lebih dari siapa pun yang pernah ia kenal, bahkan orang tuanya sendiri.

Apakah Ronald adalah kebebasan yang selama ini ia cari? Pikiran itu mengusik, perlahan menghapus prasangka buruk yang sebelumnya mengisi benaknya tentang pria itu.

Angela menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Lalu, dengan ragu tapi pasti, ia mengulurkan tangan. “Aku Angela Prastisia,” katanya pelan, tapi penuh makna.

Wajah Ronald berseri-seri, matanya berbinar. Nama itu, yang akhirnya keluar dari mulut Angela, terasa seperti sebuah kemenangan kecil yang begitu berarti baginya. Ia menyambut tangan Angela dengan hangat, lalu tersenyum lebar.

Saat itu, tanpa banyak kata, hubungan mereka mulai terasa berbeda. Sesuatu yang kecil telah berubah, mungkin menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

Ronald menyambut tangan Angela yang lembut, kulit putihnya tampak kontras dengan jemari Ronald yang kasar. “Saya Ronald. Untuk saat ini, cukup Ronald saja,” ucapnya ringan.

Angela mengerutkan kening, sedikit bingung. “Kenapa hanya Ronald? Apa kamu nggak punya nama lengkap?”

Ronald tersenyum tipis, tatapannya menerawang sejenak. “Sudah saya buang ke laut. Entah saya akan memungutnya lagi atau nggak.”

Angela tersadar bahwa tangan mereka masih saling menggenggam. Cepat-cepat ia menarik tangannya, tetapi Ronald menahannya dengan lembut, membuatnya sedikit terkejut.

“Kenapa buru-buru?” tanyanya, nadanya santai, tapi penuh arti.

Lihat selengkapnya