Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #12

Kebebasan

“Bebaslah bersama saya, Angela. Agar kamu tak lagi merasa terkekang. Agar hak dan kehendakmu bisa terbang seperti burung di pagi hari. Bebaslah, bersama saya.”

Ronald mengucapkannya dengan nada penuh keyakinan, matanya menatap Angela lekat, hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dan bukan hanya pandangan yang bersilangan, tetapi juga napas mereka yang terasa di udara.

“Saya berjanji akan memberikanmu kebebasan yang selama ini kamu cari,” lanjutnya.

Angela merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang, tapi ia segera menepis semua itu. Ia memalingkan wajah, menolak tatapan Ronald. Dengan gugup, ia menggeser tubuhnya, menciptakan jarak di antara mereka.

“A-apa maksudmu?” tanyanya tajam, meski suaranya sedikit bergetar.

“Sederhana saja. Tinggallah bersama saya,” jawab Ronald santai, seolah yang ia katakan adalah hal lumrah.

Angela mendelik, hampir tidak percaya. “Hah?! T-tinggal sama kamu? Ngapain juga aku tinggal sama kamu? Kamu itu orang asing! Aku bahkan nggak kenal latar belakangmu sama sekali!”

Ronald hanya tersenyum kecil, lalu kembali duduk di ayunan di dekatnya. “Latar belakang saya nggak penting,” katanya sambil memandang lurus ke depan, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Heh! Kamu denger ya, itu penting buat aku! Kalau misalnya kamu ng-ngapa-ngapain aku gimana? Y-yang rugi kan aku, bukan kamu!” Angela makin berapi-api.

Ronald mengembuskan napas panjang, lalu berdiri. “Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Saya cuma menawarkan.”

Ia berbalik, bersiap melangkah pergi. Namun sebelum kakinya bergerak jauh, Angela memanggilnya dengan suara mendesak. “Kamu mau ke mana?!”

Ronald menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Saya nggak akan ke mana-mana. Kenapa? Kamu takut saya pergi?”

“S-siapa juga yang takut kamu pergi,” sahut Angela dengan nada ketus, tapi pipinya sedikit memerah.

Ronald tertawa kecil, sudut bibirnya terangkat, membuat matanya menyipit. “Kalau gitu, saya pergi aja, ya.”

Melihat Ronald mulai melangkah, Angela panik. Ia mengejar dan tanpa sadar menarik lengan Ronald.

“Ada apa lagi?” Ronald menatapnya dengan ekspresi datar. “Bukannya kamu bilang saya ini orang asing? Nggak punya latar belakang apa-apa. Semua yang kamu katakan benar. Saya orang miskin. Saya jarang mandi. Saya pengangguran. Nggak ada harapan buat saya.”

Angela terkejut, langsung melepaskan cengkeraman tangannya. Namun, ia hanya berdiri di sana, terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak satu kata pun keluar. Gelagatnya terlihat gugup, sementara Ronald tetap berdiri di sana, menunggu dengan sabar.

Hening menyelimuti mereka, hingga akhirnya Angela mengangkat wajahnya, menatap Ronald yang masih berdiri di depannya dengan ekspresi bosan.

“A-aku—”

Tepat saat ia hendak berbicara, suara lain memecah suasana.

“Angela!”

Lihat selengkapnya